
Oleh: Laporan Jurnalis Republika Fernan Rahadi dari Madinah, Arab Saudi.
REPUBLIKA.CO.ID, "Welcome to Madinah!" "Apa kabar induuniisiy?" "Mabrur, Hajj!" Itulah jenis-jenis kalimat sapaan yang sering saya temui sejak hari pertama menginjakkan kaki di Kota Madinah, Ahad (19/4/2026) dini hari WIB. Kota yang kerap dijuluki sebagai Kota Nabi tersebut memang sudah termasyhur akan keramahtamahannya.
Ucapan tersebut pun tidak hanya berasal dari satu kalangan saja, melainkan banyak orang dari berbagai profesi seperti resepsionis hotel, penjaga warung, sopir taksi, hingga petugas cleaning service di masjid. Tiap kali terdapat orang Indonesia melintas, orang-orang tersebut selalu menunjukkan gestur yang ramah seperti senyum lebar, anggukan kepala, hingga ucapan salam.
Saya sendiri memiliki satu cerita yang cukup berkesan sebagai bukti kebaikan hati orang Madinah. Peristiwa tersebut terjadi pada hari kedua saya berada di kota yang dulu disebut sebagai Yatsrib tersebut pada Senin (20/4/2026). Saat itu, saya dan tiga teman sekamar yang menginap di Kantor Urusan Haji (KUH) Madinah ingin menunaikan sholat Subuh di Masjid Nabawi, masjid yang menjadi lokasi makam Nabi Muhammad SAW.
Maka, sejak sebelum Subuh, kami sudah bersiap-siap berjalan kaki ke masjid tersebut. Jaraknya agak lumayan dari tempat kami menginap, yakni 20 menit berjalan kaki. Meskipun sedikit lelah karena aktivitas yang seolah tak berhenti sejak berada di tanah suci, kami memantapkan niat untuk shalat Subuh berjamaah di Nabawi.
Usai shalat Subuh berjamaah, seorang teman kemudian mengajak ke sebuah toko suvenir yang terletak di dekat situ, tepatnya di dekat Gate 338 Masjid Nabawi, yang dikenal dengan Toko Bos Hamed. Begitu masuk ke toko tersebut, saya baru menyadari jika mayoritas barang yang dijual adalah parfum. Rupanya teman saya tadi adalah penggemar parfum.
Karena bukan orang yang suka memakai parfum, saya pun sama sekali tak berminat untuk membeli dari toko tersebut. Saya hanya ingin melihat-lihat saja isi dari toko tersebut yang ternyata menjual berbagai aksesoris haji dan umrah seperti mushaf Alquran, sajadah, tasbih, dan pernak-pernik lain.
Namun, tak dinyana, setelah beberapa teman saya membeli sejumlah barang dari situ, saya justru dipanggil oleh salah satu pelayan toko. Ia kemudian mengambil sebuah parfum bermerek Gissaty berwarna ungu dan memberikannya kepada saya. "Gratis buat kamu, cukup follow saja akun Instagram @bos_hamed,"kata dia.
Saya yang tak menyangka mendapatkan barang gratis tersebut pun langsung mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut. Teman saya yang baru saja membeli parfum tersebut tersenyum kecut. Ia merasa dirinya yang membeli, namun justru saya yang memperoleh bonus parfum gratisnya.

1 hour ago
2















































