Para pemain timnas Italia setelah kalah dari Bosnia Herzegovina lewat adu penalti pada laga playoff Piala Dunia 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wacana menggantikan Iran di ajang Piala Dunia FIFA 2026 menuai penolakan keras dari pejabat olahraga Italia. Usulan tersebut dinilai “memalukan” dan “tidak pantas” karena bertentangan dengan prinsip sportivitas.
Gagasan itu mencuat setelah utusan khusus Amerika Serikat, Paolo Zampolli, mengaku telah menyampaikan proposal kepada Presiden Donald Trump serta Presiden FIFA Gianni Infantino agar Italia menggantikan Iran pada turnamen yang dimulai Juni 2026.
Status partisipasi Iran memang masih belum jelas menyusul ketegangan geopolitik, termasuk serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Trump sendiri memberikan sinyal tak pasti. Satu sisi menyebut Iran “disambut”, tapi juga mengungkap kekhawatiran terkait keselamatan tim Melli.
Italia, yang merupakan juara dunia empat kali, gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Sudah tiga kali beruntun Azzurri hanya menjadi penonton pesta sepak bola sejagat ini. Italia terakhir kali tampil pada 2014 setelah juara pada 2006. Zampolli beralasan, reputasi Italia cukup kuat untuk membenarkan keikutsertaan mereka.
Namun, Menteri Olahraga Italia Andrea Abodi menegaskan, tim nasional negaranya tidak seharusnya masuk melalui jalur non-kompetitif. Ia merujuk kegagalan Italia setelah kalah adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina pada babak playoff zona Eropa.
“Pertama, tidak mungkin. Kedua, tidak pantas. Lolos kualifikasi ada di lapangan,” tegas Abodi kepada Sky News, Kamis (23/4/2026).
Pandangan serupa disampaikan Presiden Komite Olimpiade Nasional Italia Luciano Buonfiglio. Ia menegaskan akan merasa tersinggung jika Italia masuk tanpa perjuangan di lapangan.
“Untuk bisa lolos ke Piala Dunia, Anda harus mendapatkannya dengan usaha,” ujarnya.

1 hour ago
1















































