Teknologi Blockchain Masuk Industri Hiburan, Jadi Alternatif Modal Film Indonesia

3 days ago 18

CEO SHOW Token, Akshay Melwani, saat peluncuran platform Show di Jakarta pada Jumat (26/6/2026). Platform Show menawarkan alternatif permodalan film Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berbagai karya sineas lokal kini mampu bersanding dengan film-film Hollywood di papan atas box office domestik. Namun, di balik itu, ada tantangan yang dinilai masih terus membayangi  para pelaku industri kreatif di Indonesia, yaitu tingginya hambatan modal.

Banyak ide cerita brilian, narasi budaya yang kaya, hingga konsep animasi yang memukau sering kali harus mandek di tengah jalan atau bahkan gagal diproduksi hanya karena urusan likuiditas finansial yang rumit. Sistem pendanaan konvensional sering kali dinilai kaku dan memakan waktu lama, membuat para kreator lokal kesulitan untuk mengeksplorasi potensi terbaik mereka secara merdeka.

Untuk menawarkan alternatif permodalan dan mengatasi masalah inefisiensi tersebut, platform Show hadir di Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai salah satu fokus utamanya. Platform ini membawa pendekatan baru dengan memanfaatkan integrasi teknologi blockchain dan kecerdasan buatan (AI) untuk industri hiburan. Ini bertujuan untuk memangkas hambatan modal yang selama ini dihadapi para kreator lokal, sekaligus membuka jalan baru bagi masa depan industri perfilman nasional agar lebih inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman digital.

CEO SHOW Token, Akshay Melwani, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan narasi yang luar biasa, namun sering kali langkah kita terhenti di pasar domestik karena keterbatasan infrastruktur global. "Di Show, kami tidak menunggu pintu global terbuka untuk kami; kami membangun ekosistem digital baru di mana karya anak bangsa dapat langsung diakses, dimiliki, dan diapresiasi oleh dunia tanpa perantara," ujarnya saat peluncuran resmi yang digelar pada Jumat (26/6/2026).

Dengan menyasar demografi anak muda yang aktif secara digital, model pendanaan alternatif ini disebut akan mengubah cara pandang terhadap audiens bioskop. Pencinta film tidak lagi diposisikan sebagai penonton pasif yang hanya membeli tiket, melainkan diajak untuk terlibat langsung sebagai pendukung proyek kreatif.

Melalui konsep utilitas dunia nyata yang ditawarkan, orang-orang dapat menikmati berbagai fasilitas eksklusif yang belum pernah diterapkan dalam sistem perfilman konvensional, seperti hak dukungan pendanaan film, akses eksklusif untuk melihat proses rumit di balik layar, tiket gratis, hingga undangan resmi menghadiri gala premiere bersama para artis.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|