Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga sulfur di pasar global mulai menjadi ancaman serius bagi industri hilirisasi nikel Indonesia. Pasalnya, penutupan Selat Hormuz yang mengganggu rantai pasok dari Timur Tengah membuat harga bahan baku utama ini meroket tajam.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mengungkapkan harga sulfur kini telah menembus kisaran US$960 hingga US$1.300 per ton, atau setara sekitar Rp16,5 juta hingga Rp22,4 juta per ton (asumsi kurs Rp17.286 per dolar AS). Angka ini melonjak drastis dibandingkan April tahun lalu yang masih berada di level sekitar US$ 275 per ton.
"Harga bahan baku sulfur, komponen biaya terbesar saat ini dalam proses HPAL telah mencapai lebih dari US$960 hingga US$1.300 per ton atau naik sangat signifikan dibandingkan bulan April tahun lalu sekitar US$275 per ton," ujar Arif kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/4/2026).
Arif mengatakan sulfur merupakan komponen krusial dalam industri hilirisasi nikel, khususnya untuk memproduksi asam sulfat yang digunakan dalam proses pelindian (leaching) pada fasilitas pengolahan berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL).
"Produksi MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) battery grade nickel dengan menggunakan teknologi HPAL yang sangat bergantung pada asam sulfat," katanya.
Dari sisi kebutuhan, industri membutuhkan sekitar 10-12 ton sulfur untuk menghasilkan 1 ton nikel dalam bentuk MHP. Hal ini menjadikan sulfur sebagai salah satu komponen biaya terbesar dalam proses produksi HPAL.
"Sebagai negara produsen terbesar untuk material nikel-kobalt (MHP) dari proyek-proyek HPAL, Indonesia sangat bergantung pada impor sulfur dari Timur Tengah," katanya.
Menurut Arif Indonesia sendiri masih sangat bergantung pada impor sulfur, terutama dari kawasan Timur Tengah. Dari total sekitar 5,3 juta ton impor sulfur pada 2025 sekitar 75-80% berasal dari wilayah tersebut.
Hal ini menjadi risiko besar ketika jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz terganggu. Penutupan jalur tersebut berpotensi menyebabkan terhambatnya bahkan terputusnya pasokan sulfur ke dalam negeri yang pada akhirnya dapat mengganggu operasional refinery HPAL.
"Pasokan yang sangat terkonsentrasi ini, setelah penutupan Selat Hormuz, mengakibatkan terganggunya bahkan akan terputusnya sumber bahan baku utama untuk refinery HPAL di Indonesia. Situasi ini akan juga mengakibatkan kelangkaan material sulfur ditingkat global dan menaikan harga secara signifikan," kata Arif.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
















































