Foto ilustrasi berjemur. / Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Keluhan tubuh lemas meski rutin berjemur kini semakin sering dialami, dan dokter menyebut penyebabnya tidak selalu berkaitan dengan kurangnya paparan sinar Matahari.
Kondisi ini justru mengarah pada masalah tersembunyi dalam proses penyerapan dan pengolahan vitamin D di dalam tubuh, yang dipengaruhi gaya hidup modern.
Dr. Suranjit Chatterjee, Konsultan Senior Penyakit Dalam di Indraprastha Apollo Hospital, India menjelaskan bahwa banyak orang tetap mengalami defisiensi vitamin D meski sering beraktivitas di luar ruangan.
“Banyak orang berasumsi berjemur saja sudah cukup, padahal kita semakin sering melihat pasien yang defisiensi meskipun mereka aktif di luar ruangan,” ujarnya seperti dikutip dari Times of India, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, sejumlah faktor menghambat penyerapan sinar UVB, mulai dari polusi udara yang menyaring sinar Matahari, penggunaan tabir surya, hingga waktu berjemur yang tidak tepat seperti terlalu pagi atau sore hari.
Faktor Tubuh Ikut Menentukan
Selain lingkungan, kondisi tubuh juga memengaruhi produksi vitamin D.
Orang dengan kulit lebih gelap membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan vitamin D. Faktor usia dan komposisi lemak tubuh juga berperan, karena vitamin D dapat tersimpan di jaringan lemak dan tidak langsung beredar dalam darah.
Dr. Chatterjee juga menyoroti kondisi medis seperti gangguan hati, ginjal, dan pencernaan yang dapat menghambat aktivasi vitamin D dalam tubuh.
Penggunaan obat jangka panjang seperti steroid dan antikonvulsan juga dapat menurunkan kadar vitamin ini.
Asam Urat Tinggi Tanpa Gejala Mulai Disorot
Selain masalah vitamin D, dokter kini juga mengingatkan fenomena lain yang sering tidak disadari, yakni tingginya kadar asam urat tanpa gejala nyeri sendi.
Kondisi ini dinilai sebagai sinyal awal gangguan metabolisme yang lebih serius.
Dr. Sharad Malhotra, Direktur Gastroenterologi dan Hepatologi di Aakash Healthcare, India juga menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan erat dengan penyakit perlemakan hati dan resistensi insulin.
“Bukti terbaru menunjukkan bahwa asam urat tinggi sangat erat kaitannya dengan Penyakit Perlemakan Hati, resistensi insulin, dan disfungsi metabolisme yang lebih luas,” katanya.
Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama
Penumpukan lemak di hati dapat mengganggu proses pembuangan asam urat oleh ginjal.
Kondisi ini sering dipicu oleh gaya hidup kurang aktif, pola makan tidak teratur, serta konsumsi gula berlebih, terutama fruktosa.
Resistensi insulin menjadi inti masalah, karena kondisi ini membuat tubuh memproduksi insulin lebih banyak, yang justru menghambat pembuangan asam urat.
Cara Sederhana Memutus Risiko
Untuk mengurangi risiko, dokter menyarankan beberapa langkah sederhana.
- Mengurangi konsumsi gula tambahan
- Menjaga pola makan seimbang
- Rutin beraktivitas fisik seperti berjalan kaki
- Memastikan tubuh tetap terhidrasi
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan metabolisme sekaligus mencegah gangguan kesehatan yang lebih serius.
Dengan memahami penyebab tersembunyi ini, masyarakat diharapkan tidak hanya mengandalkan paparan matahari, tetapi juga memperhatikan gaya hidup secara menyeluruh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : The Times of India


















































