Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pasokan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri akan tetap diprioritaskan. Sekalipun pemerintah tengah mengevaluasi produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sekitar 600 juta ton.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan bahwa pihaknya telah mengamankan sekitar 150 juta ton batu bara untuk kebutuhan domestik melalui skema Domestic Market Obligation (DMO). Angka ini mengacu pada ketentuan kewajiban pasokan domestik sebesar 30% dari total produksi batu bara.
"Artinya 150 juta kita amankan dulu. Nah nanti kan kita untuk smelter itu tidak diakui, tidak kita akui sebagai DMO. Mudah-mudahan kalau misalnya nanti ini, terus nanti misalnya ada kekurangan yang kita naikkan," kata Tri di Kementerian ESDM, Senin (9/3/2026).
Lebih lanjut, Tri membeberkan alokasi DMO tersebut terutama diperuntukkan bagi sektor-sektor strategis seperti pembangkit listrik dan industri pupuk. Khususnya yang sangat bergantung pada pasokan batu bara domestik.
Sebelumnya, Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) buka suara mengenai kondisi terkini suplai batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batu Bara. pada intinya, pada tahun ini ada pengurangan suplai dari para badan usaha pertambangan.
Ferry Dwi Nugraha, Wakil Ketua Komite Primary Energy Value Chain APLSI menyampaikan, bahwa sempat terjadi penurunan suplai batu bara dari supplier lantaran belum jelas produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
"Kalau dua bulan lalu ada disruption, tapi mulai normal karena ada penugasan ke beberapa produsen batu bara," terang Ferry dalam Mining Forum CNBC Indonesia, "Apa Kabar Industri Tambang RI?", Jumat (6/3/2026).
Jika suplai batu bara terus tersendat, Ferry menilai, dampaknya kemungkinan PLTU akan mengalami shutdown dengan mematikan setengah dari kapasitas yang ada. Bahkan, yang terburuk, pemadaman listrik.
"Masih jauh mungkin, PLN memperhitungkan dulu baru pemadaman. PLN akan menyalakan pembangkit BBM, mungkin bisa bahan bakar minyak tapi gak terlalu lama (listriknya), karena biaya produksi listrik batu bara Rp 1.200/kWh sementara BBM Rp 5.000/kWh," terang Ferry.
(ven/wur)
Addsource on Google


















































