REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Stabilitas dan kewajaran harga pangan menjadi kunci utama dalam menjaga inflasi tetap terkendali, demikian disampaikan oleh Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa. Pada Maret 2026, inflasi Indonesia menunjukkan tren positif dengan tingkat inflasi berada pada 0,41 persen, menurun dari 0,68 persen di bulan Februari.
Menurut Ketut, pemerintah terus berupaya menjaga keseimbangan harga pangan dari produsen hingga konsumen. Upaya tersebut termasuk penyaluran beras dan jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan bantuan pangan untuk 32,3 juta keluarga penerima manfaat pada Februari-Maret 2026.
Hingga saat ini, penyaluran bantuan oleh Perum Bulog telah mencapai 864.041 penerima, dengan distribusi 17,28 juta kg beras dan 3,45 juta liter minyak goreng. Selain itu, realisasi penjualan beras program SPHP selama Maret mencapai 66,84 ribu ton, memberikan opsi beras dengan harga terjangkau bagi masyarakat.
Pemerintah juga menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak 1.161 kali di 202 kabupaten/kota di 34 provinsi sepanjang Maret 2026, berkolaborasi dengan pemerintah daerah, BUMN, BUMD, dan swasta. Di hulu, pemerintah bersama Perum Bulog mendukung petani dengan penyerapan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), mencapai 1,47 juta ton gabah dan 122,48 ribu ton jagung pada Maret 2026.
Pemerintah memperketat pengawasan harga pangan selama Ramadhan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah, dengan 64.548 titik pengawasan dilakukan sejak awal Februari hingga akhir Maret 2026. Ketut menambahkan, pengawasan intensif oleh Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan dan Mutu Pangan berkontribusi signifikan pada pengendalian harga.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa inflasi pangan pada Maret 2026 turun menjadi 1,58 persen dari 2,50 persen di bulan sebelumnya. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menuturkan bahwa inflasi pada Maret 2026 dipengaruhi oleh harga bergejolak dari komoditas pangan pokok strategis.
Polanya berbeda dari tahun sebelumnya, di mana biasanya terjadi deflasi pasca-Idul Fitri. Namun, pada 2026, inflasi pangan tetap terjaga positif dan stabil, menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam mengelola pasokan dan harga pangan.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman, yang juga Menteri Pertanian, menegaskan pentingnya penguatan ketahanan pangan nasional melalui akselerasi produksi pangan domestik. Dengan demikian, pemerintah dapat mengendalikan pangan dan melaksanakan berbagai program intervensi pangan secara efektif.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

2 hours ago
1

















































