REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — SMART 171 menggelar Safari Ramadhan 1447 H terakhir di Masjid Habiburrahman, Bandung, Selasa (17/3/2026). Masjid yang kerap digunakan masyarakat sebagai lokasi iktikaf ini menjadi saksi penutupan yang berbeda dari biasanya.
Farah Qoonita, aktivis SMART 171, hadir menyampaikan update langsung dari Palestina. Ia menyebut bahwa tahun ini Masjid Al-Aqsa ditutup, tak bisa tarawih bahkan sekedar berkumpul.
Padamulanya, zionis Israel membatasi hanya 10 ribu jamaah bisa masuk, tetapi kemudian ditutup selama 12 hari Ramadhan sampai jamaah yang sudah datang dari jauh dan melewati banyak checkpoint penjajah. Jamaah terpaksa melaksanakan sholat di luar komplek masjid.
Masjid Habiburrahman yang kerap dipenuhi dengan tenda jamaah iktikaf kian hidup oleh pemaparan Farah Qoonita soal kedekatan warga Palestina dengan Quran. Sebagaimana jamaah Masjid Habiburrahman tilawah dan murajaah Quran di dalam tenda, begitupun dengan warga Gaza di dalam tenda-tenda mereka, penuh lantunan Quran. "Perbedaannya, kita di tenda hanya saat Ramadhan, mereka tetap di tenda meski bukan Ramadhan,"ujar dia lewat keterangan tertulis.
Kata Farah, Profesor Zakaria dari Gaza menjelaskan bahwa predikat hafiz Al-Qur’an diberikan melalui standar sangat ketat, yakni harus mampu melafalkan hafalan tanpa kesalahan saat tasmi’, menguasai ribuan hadis terkait ayat, serta memahami sirah dan asbabun nuzul secara mendalam, sebelum akhirnya dinyatakan layak menerima selendang kehormatan.
"Di Gaza anak-anak tumbuh lebih cepat, lebih semangat menghafal Quran karena mereka tahu bisa dibunuh Israel kapan saja. Jadi gak ada tuh fase galau-galau kayak kita."
Tak hanya Farah, Safari Ramadan yang dilaksanakan SMART 171 sepanjang Ramadan juga menghadirkan Dr. Maimon Herawati, Sarah Muthiah, dan 2 syekh asal Palestina yakni Mahmoud Darwis dan Amin. Mereka menyapa masyarakat di 15 masjid Jakarta, Bandung, dan Sumedang.
Saat berbicara di Masjid Baburrahman pada 14 Maret 2026 lalu, Dr. Maimon Herawati, Direktur SMART 171, membuat jamaah itikaf bahkan berlama-lama bertahan, menunda pulang. Kajian bada subuh yang harusnya selesai pukul 06:30 baru selesai pukul 07:30 karena antusiasme jamaah mendengarkan dan bertanya. Beberapa ibu terlihat menangis tersedu-sedu mendengar paparan Dr. Maimon pagi itu.
Tahira, Ketua Pelaksana Safari Ramadan menuturkan, “Yang kita bangun bukan sekadar empati sesaat, tapi kognitif yang sadar, pengetahuan yang terus hidup. Karena penjajah tak berhenti, maka suara kita juga tidak boleh berhenti.”
Penutupan di Masjid Habiburrahman ini jadi puncak rangkaian Safari Ramadan. Suara-suara dari Gaza terasa sangat dekat, di beberapa masjid bahkan langsung disapa oleh Syaikh dari Gaza. Ini semua dilaksanakan sebagai ikhtiar penguatan solidaritas dan pengetahuan.

5 hours ago
6













































