Ramadhan di Atas Truk Sampah, Kisah Para Sopir 'Transformer' di TPA Sarimukti

8 hours ago 5

Antrean truk pengangkut sampah hingga 1,5 kilometer di kawasan TPA Sarimukti, Desa Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat (KKB) Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Antrean truk pengangkut sampah mengular di kawasan TPA Sarimukti, Desa Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat pada Senin (16/3/2026). Ada ragam penyebab yang memicu antrean panjang untuk membuang sampah dari wilayah Bandung Raya itu. 

Berdasarkan pantauan Republika, antrean truk memanjang hingga 1,5 kilometer dari area pintu masuk TPA hingga ke wilayah permukiman di kawasan Cicadas, Desa Sarimukti. Akibat antrean tersebut, lalu lalang kendaraan lain yang melintasi jalan yang menghubungkan wilayah Cipatat dengan Cipeundeuy-Cikalongwetan hingga Purwakarta itu menjadi terganggu. 

Pasalnya, sebagian badan jalan dipenuhi oleh truk-truk pengangkut sampah. Sementara itu, sejumlah pengemudi truk lebih memilih keluar dari kendaraannya. Mereka ada yang sekadar duduk-duduk di tepi jalan sembari berbincang dengan re­kan sesama sopir. Ada juga yang berteduh di bangunan pinggir jalan.

Raffi (24 tahun), salah seorang sopir truk pengangkut sampah dari Kota Bandung menuturkan, ia tiba di kawasan TPA Sarimukti pada Senin (16/3/2026) sekitar pukul 01.00 WIB. Namun hingga pukul 08.00 WIB, sampah yang dibawanya belum terbuang ke TPA Sarimukti karena masih menunggu giliran dengan truk lain yang berada di depannya.

"Malam sampe jam 1, ini masih harus antre panjang buat buang sampah. Kondisi kaya gini lumayan udah lama," tutur Raffi di lokasi.

Antrean panjang ini memaksa Raffi dan pengemudi truk pengangkut sampah lainnya harus lebih sering menginap di kawasan TPA Sarimukti ini di bulan Ramadhan. Hal itu dilakukan agar sampah yang diangkut jauh-jauh dari Kota Bandung ini bisa terbuang ke TPA Sarimukti.

Sehingga ia harus berangkat malam agar bisa kebagian membuang sampah ke zona perluasan TPA Sarimukti meskipun harus antre berjam-jam setiap harinya. Antrean panjang itu juga memaksanya hanya membuang sampah satu rit saja setiap harinya. 

"Soalnya kalau berangkat pagi itu enggak akan kebagian, keburu tutup di TPA Sarimuktinya, jadi enggak kebuang. Jadi terpaksa yah lebih sering nginep di truk atau saung," kata dia. 

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|