Dukung Gelar Pahlawan Sultan HB II, Sultan HB X Dijadwalkan Buka Seminar Nasional Maret 2026

5 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Rencana digelarnya Seminar Nasional bertajuk 'Jejak Pahlawan Sultan Hamengku Buwono II' mendapat suntikan semangat baru. Pihak keluarga besar (Trah) Sultan Hamengku Buwono (HB) II menyatakan apresiasi mendalam atas kesediaan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk hadir sebagai pembicara kunci (keynote speaker) dalam perhelatan tersebut.

Kabar kesediaan Sultan HB X sebagai Keynote Speaker pada Seminar Nasional tersebut diinformasikan salah satu sesepuh Trah Sultan HB II, Romo Artha Prararta Dharma, atau dikenal Romo Artha dari Sekda DIY.

Dukungan penuh dari Sultan HB X, kata Romo Artha dipandang sebagai momentum strategis. Trah HB II berharap keterlibatan tokoh-tokoh besar dalam seminar ini akan membuka mata masyarakat luas mengenai pentingnya pengakuan negara terhadap perjuangan Sultan HB II yang selama ini dinilai sangat gigih menjaga martabat bangsa.

Menurut Romo Artha, seminar nasional ini rencananya akan mengupas tuntas sepak terjang Sultan HB II yang dikenal karena keteguhan pendiriannya dalam menentang intervensi Belanda.

"Diharapkan ini mampu menggali fakta sejarah, menyajikan data-data primer terkait kebijakan politik Sultan HB II yang belum banyak diketahui. Memperkuat argumen mengenai relevansi nilai-nilai perjuangan Sultan HB II di era modern," jelas Romo Artha.

Selain itu dengan diadakannya seminar nasional mampu menghimpun dukungan dari para sejarawan dan akademisi di seluruh Indonesia.

"Semangat yang kami bawa adalah semangat pelurusan sejarah. Dengan dukungan Ngarso Dalem, kami optimis langkah menuju penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ini akan semakin lancar," jelasnya.

Ketua Panitia sekaligus perwakilan Trah HB II dan Ketua Yayasan Vasatii Socaning Lokika, Fajar Bagoes Poetranto, menyampaikan bahwa kehadiran Sultan HB X bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk legitimasi sejarah yang sangat berarti bagi upaya pengusulan Sultan HB II sebagai Pahlawan Nasional.

"Bagi Trah Sultan HB II, sosok Sultan HB X memiliki peran sentral dalam memberikan perspektif komprehensif mengenai kontribusi leluhurnya," jelas Fajar Bagoes Poetranto

Trah Sultan HB II meyakini bahwa kehadiran pemimpin Yogyakarta saat ini akan memberikan bobot akademis dan historis yang kuat terhadap narasi perjuangan Sultan HB II melawan kolonialisme.

"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Ngarso Dalem (Sultan HB X). Kesediaan beliau menjadi keynote speaker memberikan energi luar biasa bagi kami untuk terus mengawal proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi eyang kami, Sultan HB II," ujarnya.

​Romo Artha mengungkap bahwa Sultan Hamengkubuwono II dikenal sebagai sosok pemimpin yang memiliki pendirian teguh dalam menjaga martabat keraton dari intervensi kekuatan asing. Sejak naik takhta pada tahun 1792, Sultan HB II secara konsisten menolak untuk menundukkan kedaulatan kerajaannya, termasuk dengan tidak meminta persetujuan VOC saat menunjuk patihnya sendiri.

"Bahkan, beliau secara tegas menolak tuntutan wakil VOC agar posisi duduk mereka disejajarkan dengan Sultan dalam upacara resmi keraton," jelasnya.

​Keteguhan sikap Sultan Hamengkubuwono II dalam mempertahankan otoritasnya membuat pihak kolonial merasa kesulitan untuk mengendalikan dia. Meskipun telah berganti kekuasaan dari pemerintahan Daendels ke masa Thomas Stamford Raffles, Sultan tetap tidak bersedia tunduk pada kehendak kolonial. Penolakan terhadap campur tangan asing ini dipandang oleh para pejabat kolonial kala itu sebagai sikap "keras kepala" dan "sulit dikendalikan".

Puncak dari ketegangan tersebut terjadi pada Juni 1812, ketika pasukan Inggris menyerbu Keraton Yogyakarta dengan menggunakan meriam dan tentara dari India. Penyerbuan ini mengakibatkan benteng keraton runtuh, istana diduduki, serta penjarahan terhadap pusaka dan naskah kuno kerajaan. Meskipun secara fisik keraton jatuh, sejarah mencatat peristiwa ini sebagai bukti keberanian seorang raja yang tidak mau menyerahkan martabat negerinya kepada penjajah.

​Perlawanan Sultan Hamengkubuwono II dipandang oleh banyak sejarawan sebagai bara awal yang memicu semangat perjuangan di tanah Jawa.

"Bara perlawanan tersebut diyakini terus bertahan hingga beberapa tahun kemudian, yang pada akhirnya menyulut perang besar di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro. Keberanian Sultan dalam berkata tidak kepada penjajahan pun menempatkan beliau pada posisi yang terhormat dalam catatan sejarah bangsa," kata Romo Artha.

Seminar Nasional yang dijadwalkan 30 Maret 2026 ini akan dihadiri oleh para tokoh Nasional, sejarawan, akademisi, pemerhati budaya, serta elemen masyarakat yang peduli terhadap pelestarian sejarah bangsa.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|