Orang Yahudi menonton sapi merah yang ditempatkan di Shilo, sebuah permukiman ilegal Israel di dekat kota Nablus, Palestina.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Dalam kitab Tarikh al-Khulafa', Jalaluddin as-Suyuthi meriwayatkan bahwa Khalifah Umayyah Hisham ibn Abd al-Malik adalah seorang pemimpin yang tidak menyukai pertumpahan darah.
Ia pernah berharap dapat melewati satu hari saja tanpa mendengar kabar perang, pemberontakan, konspirasi, atau pertumpahan darah.
Suatu hari ia memilih menyendiri di istananya di kota Ar-Rusafa, berharap hari itu berlalu dengan tenang.
Namun, sebelum tengah hari tiba, sebuah bulu yang berlumuran darah dikirim dari salah satu wilayah perbatasan. Khalifah pun menghela napas kecewa dan berkata, "Bahkan tidak satu hari pun?"
Kisah singkat itu, menurut penulis artikel ini, menggambarkan situasi yang dihadapi saat ini.
Setiap kali perdebatan mengenai kelompok Zionisme Religius di Israel dan sekutunya di Amerika Serikat mulai mereda, muncul isu baru yang kembali memancing perhatian.
Belum lama kebisingan seputar lima ekor sapi merah yang didatangkan dari Texas pada tahun 2022 mereda—setelah ditemukan cacat pada tiga ekor di antaranya sehingga hanya tersisa dua ekor yang kemungkinan juga tidak memenuhi syarat ritual—muncul kabar tentang kelahiran seekor sapi merah baru di wilayah Galilea, Palestina yang diduduki.
Berita tersebut ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya di kalangan kelompok Kristen Evangelis di Amerika Serikat.
Mereka mengabarkan kelahiran seekor anak sapi yang seluruh tubuhnya tampak berwarna merah, setidaknya berdasarkan pengamatan awal, di sebuah peternakan di Galilea Atas.

3 hours ago
3
















































