Rekor Suhu Pecah, Eropa Barat Alami Juni-Juli Terpanas

4 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Badan meteorologi Uni Eropa, Copernicus, mengumumkan Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanas yang pernah tercatat. Rekor tersebut melampaui catatan sebelumnya pada 2022, di tengah gelombang panas yang melanda kawasan itu sejak Mei.

Gelombang panas ekstrem tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga memperparah kekeringan berkepanjangan dan menyebabkan peningkatan kematian terkait paparan panas. Copernicus mencatat suhu rata-rata di Eropa Barat selama periode Juni-Juli mencapai 21,62 derajat Celsius, menjadi yang tertinggi sejak pencatatan dimulai.

"Ini adalah contoh nyata bagaimana perubahan iklim memperparah cuaca panas ekstrem, dengan panas dan kekeringan yang semakin saling memperkuat," kata Samantha Burgess, ketua strategi iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka-Menengah Eropa, Senin (10/8/2026).

Menurut Burgess, sistem tekanan tinggi yang terus bertahan di kawasan tersebut membuat panas terperangkap dan meningkatkan suhu. Kondisi itu diperburuk oleh kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan yang mengurangi kemampuan tanah untuk memberikan efek pendinginan alami.

"Sistem tekanan tinggi terus-menerus memerangkap panas di seluruh Eropa Barat, suhu ekstrem juga memperluas karhutla, kekeringan menghilangkan kemampuan tanah untuk memberikan sistem pendingin alami, sehingga meningkatkan suhu panas," kata Burgess dikutip dari laman The Associated Press.

Secara global, 2026 sejauh ini menjadi tahun terpanas ketiga setelah 2024 dan 2025. Namun, dengan tren suhu yang terus meningkat, tahun ini berpotensi menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.

Para ilmuwan mengatakan kenaikan suhu ekstrem tersebut merupakan dampak kombinasi perubahan iklim akibat pemanasan global dan perkembangan fenomena El Nino. Fenomena iklim alami itu terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah Pasifik khatulistiwa menghangat dan memengaruhi pola cuaca serta suhu di berbagai wilayah dunia.

Copernicus juga mencatat suhu permukaan laut rata-rata pada Juli menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat untuk bulan tersebut di seluruh samudra di luar wilayah kutub atau kawasan yang bebas dari es laut musiman.

Suhu permukaan laut rata-rata mencapai 20,96 derajat Celsius, melampaui rekor sebelumnya sebesar 20,89 derajat Celsius yang tercatat pada Juli 2023. Menurut Copernicus, rekor tersebut sebagian dipicu perkembangan kondisi El Nino di wilayah Pasifik khatulistiwa.

Sementara itu, suhu udara permukaan rata-rata global pada Juli mencapai 16,90 derajat Celsius. Angka tersebut menjadikan Juli sebagai bulan terpanas kedua dalam catatan, setara dengan Juli 2024.

Kondisi panas ekstrem yang terjadi di Eropa menjadi bagian dari tren pemanasan global yang semakin nyata. Kenaikan suhu memperbesar risiko kekeringan, kebakaran hutan, serta dampak kesehatan akibat panas, terutama ketika gelombang panas berlangsung lebih lama dan terjadi secara berulang.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|