Pusat Riset Mikroba Endofit Diluncurkan, Dorong Hilirisasi Farmasi

1 hour ago 2

Pusat Riset Mikroba Endofit Diluncurkan, Dorong Hilirisasi Farmasi

Pusat riset mikroba endofit diluncurkan untuk memperkuat inovasi farmasi dan mempercepat hilirisasi hasil penelitian di Indonesia. /Istimewa.

Harianjogja.com, SLEMAN—Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi meluncurkan Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Mikroba Endofit sekaligus Pusat Studi Pengembangan Inovasi dan Keunggulan Farmasi UII, Selasa (23/6/2026).

Inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem riset nasional agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Peluncuran pusat riset ini menegaskan arah baru kolaborasi akademik dan riset yang menitikberatkan pada hilirisasi hasil penelitian, khususnya di bidang farmasi dan kesehatan.

Riset Harus Berdampak Nyata

Rektor UII, Profesor Hari Purnomo, menegaskan bahwa setiap kolaborasi riset harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar dokumen akademik.

"Tidak ada artinya sebuah kolaborasi itu jika tidak bisa memberikan dampak. Oleh karena itu, semua kolaborasi harus bisa memberikan dampak. Kami sekarang selalu menekankan kepada seluruh agregor bahwa apapun yang dilakukan di dalam riset itu harus punya dampak, jangan hanya sebatas tumpukan kertas yang tidak punya makna," ujar Prof. Hari Purnomo.

Ia menambahkan, UII kini memperkuat struktur kelembagaan dengan menambah posisi wakil rektor yang membidangi Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan, sebagai pengganti fokus hilirisasi sebelumnya.

Langkah ini diharapkan mempercepat integrasi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, termasuk pengembangan produk farmasi berbasis riset.

Prof. Hari juga menyatakan keterbukaan UII terhadap kolaborasi dengan BRIN untuk memperkuat pengembangan riset farmasi yang berpotensi menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas.

Potensi Besar Mikroba Endofit

Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Andes Hamurabi Rozak, menjelaskan bahwa mikroba endofit memiliki potensi besar dalam pengembangan obat, termasuk anti-kanker, anti-mikroba, hingga anti-malaria.

Ia mengaitkan pentingnya penelitian ini dengan nilai spiritual dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 191 yang menegaskan bahwa tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia.

Namun demikian, Andesy menyoroti tantangan besar riset di Indonesia, terutama pada tahap hilirisasi produk farmasi yang masih tertinggal.

Indonesia memiliki lebih dari 9.000 spesies tanaman, tetapi baru sekitar 20-an produk fitofarmaka yang berhasil dikembangkan secara resmi.

Menurutnya, hambatan regulasi dan birokrasi, termasuk proses uji dan perizinan di BPOM, menjadi tantangan yang memperlambat proses hilirisasi riset.

"Fasilitas riset di BRIN sebenarnya sudah sangat maju, bahkan kita memiliki fasilitas Advanced Electron Microscopy terbaik di Asia Tenggara untuk melihat struktur tiga dimensi protein. Namun, tantangannya adalah bagaimana menjembatani hasil riset ini dengan industri," kata Andes.

Kolaborasi Nasional dan Pengembangan Talenta

PKR Mikroba Endofit ini melibatkan jaringan delapan perguruan tinggi di Indonesia, yakni IPB, USU, Universitas Mulawarman, Universitas Nusa Cendana, UMKT, Universitas Papua, STIKES, serta UII sebagai mitra utama BRIN.

Kolaborasi lintas wilayah ini diharapkan memperkaya koleksi mikroba endofit sekaligus memperkuat riset penemuan obat baru di Indonesia.

Selain fokus pada produk riset, BRIN juga memperkuat pengembangan sumber daya manusia melalui program seperti Barista (Bantuan Riset bagi Talenta Inovasi) serta Degree by Research (DBR) untuk mahasiswa S2 dan S3.

Skema Pendanaan Baru Tahun 2027

Direktur Pendanaan Riset BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, menyampaikan bahwa skema pendanaan riset saat ini masih berbasis anggaran tahunan DIPA. Namun, perubahan besar akan dilakukan pada 2027.

"Insyaallah arahan Pak Deputi ke kami, tahun 2027 kita akan menggeser alokasinya menggunakan dana abadi penelitian. Artinya, kontrak anggaran bisa bersifat multi-years [12 bulan penuh dari waktu penandatanganan] dan peneliti tidak lagi dikejar-kejar waktu pertanggungjawaban di akhir tahun anggaran," jelas Raden Arthur.

Ia menambahkan, BRIN juga membuka berbagai skema pendanaan lain seperti ekspedisi biodiversitas di Sumatra dan Kalimantan Barat, serta program visiting professor dan visiting researcher.

Arah Riset 5–7 Tahun ke Depan

Melalui Pusat Kolaborasi Riset ini, BRIN dan UII menargetkan dalam 5 hingga 7 tahun ke depan akan terbentuk ekosistem riset mikroba endofit yang lebih kuat.

Target tersebut mencakup peningkatan publikasi ilmiah, lahirnya peneliti muda berkualitas, serta hadirnya inovasi kesehatan yang siap diterapkan di masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|