
AI kini bisa membuat aplikasi dan menulis kode program. Guru Besar UII menegaskan lulusan informatika tetap dibutuhkan, tetapi harus naik kelas. /Istimewa.
Harianjogja.com, SLEMAN—Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini mampu membuat aplikasi, menulis kode program, hingga merancang website memunculkan kekhawatiran baru di kalangan mahasiswa informatika. Di tengah kemampuan AI yang terus berkembang, muncul pertanyaan apakah lulusan informatika masih akan dibutuhkan oleh dunia kerja di masa depan.
Guru Besar Bidang Ilmu Sistem Informasi Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid, menegaskan AI tidak akan menghapus profesi di bidang teknologi informasi. Namun, teknologi tersebut akan mengubah standar kompetensi yang dibutuhkan industri sehingga lulusan informatika dituntut memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.
Menurut Fathul, kecemasan mahasiswa terkait masa depan profesi informatika merupakan hal yang wajar. Pasalnya, AI saat ini mampu mengerjakan berbagai tugas teknis yang selama ini menjadi pekerjaan dasar para programmer.
Mulai dari membuat kode program awal (boilerplate code), menyusun dokumentasi sederhana, hingga menjalankan kueri dasar dapat dilakukan AI dalam waktu sangat singkat.
Meski demikian, ia menilai masih banyak aspek penting dalam pengembangan teknologi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan mesin. Kemampuan memahami kebutuhan pengguna, menyusun arsitektur sistem yang kompleks, mempertimbangkan risiko bisnis, hingga mengambil keputusan strategis tetap membutuhkan peran manusia.
"AI bukan akhir dari profesi informatika. AI adalah undangan untuk naik kelas," kata Fathul, Selasa (23/6/2026).
Ia menjelaskan perusahaan maupun industri global tetap membutuhkan lulusan informatika. Namun, kebutuhan tersebut kini bergeser dari sekadar penulis kode menjadi sosok yang mampu merancang solusi teknologi dan mengarahkan pemanfaatan teknologi secara strategis.
Karena itu, lulusan informatika yang hanya mengandalkan kemampuan teknis dasar berpotensi menghadapi persaingan yang semakin ketat. Sebaliknya, talenta digital yang mampu menjadi perancang solusi, pengembang sistem, hingga pengambil keputusan teknologi akan semakin dicari perusahaan.
Menurut Fathul, penguasaan fondasi ilmu komputer menjadi bekal utama yang harus dimiliki mahasiswa informatika untuk menghadapi perubahan tersebut.
Pemahaman terhadap algoritma, struktur data, arsitektur sistem, logika komputasi, serta analisis data dinilai tetap relevan meskipun teknologi terus berubah dengan cepat.
Dengan fondasi yang kuat, lulusan informatika akan lebih mudah beradaptasi terhadap perkembangan teknologi baru, termasuk memanfaatkan AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas kerja.
Ia menilai AI seharusnya dipandang sebagai alat bantu yang mampu mempercepat pekerjaan dan meningkatkan efisiensi, bukan sebagai pesaing manusia.
Di sisi lain, kemampuan nonteknis atau soft skills justru semakin penting di era kecerdasan buatan. Empati terhadap pengguna, kreativitas dalam memecahkan masalah, kemampuan berkomunikasi, hingga kolaborasi lintas bidang menjadi keunggulan yang belum dapat digantikan oleh AI.
Mahasiswa juga didorong membangun portofolio sejak kuliah, memperkuat spesialisasi yang diminati, serta membiasakan diri untuk terus belajar mengikuti perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Peluang kerja lulusan informatika di Indonesia, lanjutnya, masih terbuka luas. Kebutuhan transformasi digital masih terjadi di berbagai sektor, mulai dari dunia usaha, pemerintahan, pendidikan, layanan kesehatan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kondisi tersebut membuka ruang besar bagi lulusan informatika untuk menghadirkan berbagai solusi digital yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan industri di Indonesia.
"Jangan bersaing dengan AI dalam mengerjakan apa yang bisa diotomatisasi. Gunakan AI untuk memperkuat kemampuan. Sebab masa depan bukan milik mereka yang menolak AI, melainkan mereka yang mampu mengarahkan dan memanfaatkannya," ujar Fathul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































