
Ilustrasi Tol Cikampek/Ist. Jasamarga
Harianjogja.com, SEMARANG-- Perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi menjadi tantangan baru bagi pembangunan infrastruktur di Indonesia. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menegaskan kualitas dan ketahanan bangunan harus terus diperkuat agar mampu menghadapi berbagai risiko bencana.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan peningkatan ketahanan infrastruktur menjadi kebutuhan penting karena Indonesia berada di kawasan Ring of Fire. Infrastruktur yang dibangun pemerintah harus terus ditata dan dikembangkan agar semakin mampu menghadapi gempa, kebakaran, maupun kondisi ekstrem lainnya.
"Bangunan infrastruktur di negeri ini dari waktu ke waktu tantangannya makin besar, apalagi kan Indonesia ini masuk ke dalam Ring of Fire. Sehingga kualitas bangunan, kualitas infrastruktur yang kita bangun, resilience-nya itu mesti kita jaga. Dan dari waktu ke waktu harus kita tata agar kemudian lebih tahan kepada gempa, lebih tahan kepada api, dan semuanya," kata Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo usai menghadiri Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-5 di Kampus II Politeknik PU pada Sabtu (19/9/2026) di Kota Semarang.
Perubahan Iklim Jadi Tantangan Infrastruktur
Dody menjelaskan perubahan iklim turut memunculkan tantangan besar bagi sektor konstruksi. Fenomena cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu dapat meningkatkan risiko kerusakan terhadap infrastruktur publik ketika terjadi bencana alam.
Dia mencontohkan kondisi di Flores, Nusa Tenggara Timur, ketika bencana menyebabkan kerusakan masif terhadap berbagai bangunan. Menurut Dody, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya ketangguhan fisik infrastruktur dalam menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
"Kita lihat, begitu ada bencana seperti di Flores, kan semua bangunan hancur. Jadi tantangannya memang kan perubahan cuaca itu dari waktu ke waktu semakin lebih parah karena kondisi iklim. Dan itu menjadi tantangan baru," ujar Dody.
Karena itu, standardisasi material dan teknologi konstruksi perlu terus diperbarui. Pengembangan tersebut diperlukan agar pembangunan infrastruktur dapat menyesuaikan dengan potensi risiko bencana yang terus berkembang.
Teknologi Konstruksi dan SDM Harus Beradaptasi
Menurut Dody, penguasaan teknologi modern di bidang teknik sipil dan konstruksi menjadi kebutuhan bagi praktisi maupun generasi muda yang akan bekerja di sektor pekerjaan umum.
Penerapan teknologi tidak hanya diperlukan ketika merancang dan membangun infrastruktur baru. Teknologi juga dibutuhkan dalam kegiatan preservasi rutin, rehabilitasi, hingga rekonstruksi infrastruktur setelah terjadi bencana.
Kondisi geografis Indonesia yang berada di wilayah tropis juga membutuhkan kesiapan sumber daya manusia. Infrastruktur harus menghadapi berbagai risiko, termasuk gempa bumi, banjir, dan pergerakan tanah.
"Itu menjadi tantangan baru yang seharusnya kita mengambil diri sendiri secara teknologi agar mampu keep up dengan kondisi tersebut. Makanya adik-adik ini tantangannya ke depan akan sangat-sangat besar sekali. Terutama dalam urusan pembangunan maupun preservasi maupun rehabilitasi dan rekonstruksi," tambahnya.
Jalan dan Jembatan Jadi Prioritas
Dalam penanganan darurat maupun pemulihan pascabencana, Kementerian PU menempatkan pemeliharaan jalan dan jembatan sebagai salah satu fokus utama.
Penanganan cepat diarahkan pada titik-titik jalur logistik yang mengalami kerusakan parah akibat dampak cuaca buruk. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga kelancaran rantai pasok kebutuhan pokok sekaligus mendukung mobilitas masyarakat, termasuk di berbagai kawasan terluar.
Dody menyebut sejumlah pembangunan jembatan permanen juga menjadi bagian dari penanganan infrastruktur. Salah satunya jembatan permanen di Krueng Tingkeum yang dijadwalkan dioperasionalkan secara resmi.
"Kalau jembatan sudah lumayan banyak, yang terbaru kan adalah jembatan permanen di Krueng Tingkeum, yang besok akan dioperasionalkan secara resmi, jembatan permanen. Jadi disitu akan ada dua jembatan, yang permanen atau yang baru, dan jembatan fungsional yang lama," lanjut Dody.
Daerah Terisolir Didahulukan
Selain memulihkan jalan dan jembatan, pemerintah juga memberikan perhatian pada wilayah yang terisolir akibat kondisi geografis maupun bencana.
Pembukaan akses menuju daerah pedalaman dan kepulauan terpencil menjadi bagian penting dari pemulihan karena akses transportasi berkaitan dengan mobilitas masyarakat sekaligus aktivitas ekonomi lokal.
Pengalaman penanganan pascabencana gempa bumi di Pulau Palue, Flores, menjadi salah satu contoh. Tim teknis harus menghadapi keterbatasan akses, ombak tinggi, serta kondisi jalan yang sempit untuk membuka jalur menuju wilayah yang sebelumnya terisolasi.
"Biasanya kita justru mengutamakan daerah-daerah yang terisolir, kita bisa buka duluan. Seperti waktu kita di Flores, di Pulau Palue itu yang terisolir, itu kita buka dulu jalannya. Walaupun dengan susah karena aksesnya terbatas, kemudian ombaknya lagi tinggi, dan jalannya lumayan sempit," ujar Dody.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa penanganan infrastruktur pascabencana tidak hanya berkaitan dengan memperbaiki bangunan yang rusak. Pembukaan akses menuju wilayah terisolir juga menjadi bagian dari upaya pemulihan agar mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi dapat kembali berjalan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
















































