
Wakil Gubernur DIY, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X, sedang menutup rangkaian Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 di Lapangan Beran, Tridadi, Sleman, Sabtu (19/9/2026)./ Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono
SLEMAN — Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 resmi ditutup di Lapangan Beran, Sleman, Sabtu (19/9/2026). Selama enam hari penyelenggaraan sejak Minggu (13/9), FKY mencatat transaksi lebih dari Rp1 miliar hingga Jumat (18/9).
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan capaian tersebut menunjukkan geliat ekonomi masyarakat selama penyelenggaraan festival. Nilai transaksi itu sejalan dengan tingginya jumlah kunjungan yang mencapai 53.299 orang selama periode tersebut.
Festival yang digelar di bekas lokasi Pabrik Gula Beran itu melibatkan 1.767 seniman serta 41 paguyuban dan komunitas seni. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari tata perjalanan kebudayaan yang menempatkan masyarakat sebagai salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan FKY.
"Panggung tidak hanya berwujud tempat pertunjukan. Pasar tidak hanya tempat berjualan. Keberadaan festival tidak hanya sekadar tempat beraktivitas karya," kata Dian dalam penutupan FKY 2026, Sabtu.
Dari sisi publikasi, FKY 2026 menghasilkan 336 pemberitaan media dan mencatat 6.196.993 tayangan di media sosial. Sementara dari aspek lingkungan, sebanyak 1.230 kilogram sampah dikelola selama festival berlangsung.
Dian mengatakan berbagai capaian tersebut tidak semata-mata menjadi angka statistik, tetapi juga menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan FKY.
"Di balik angka-angka tersebut, ada wujud rupa dari para manusia. Di balik sebuah pertunjukan, ada latihan. Di balik satu transaksi penjualan, ada susunan langkah usaha mencari nafkah. Di balik satu komunitas, ada pengetahuan yang diwariskan. Serta di balik satu penonton, ada pengalaman yang akan dibawa pulang. Itu semua adalah napas kehidupan masyarakat," katanya.
FKY 2026 juga menjadi bagian dari perjalanan rebranding Festival Kebudayaan Yogyakarta. Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat posisi FKY sebagai bagian dari kebudayaan Yogyakarta sekaligus membangun dialog dengan masyarakat dan perubahan zaman.
Melalui penyelenggaraan tahun ini, FKY menghadirkan wajah festival yang lebih terbuka dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Berbagai aktivitas tidak hanya ditempatkan sebagai pertunjukan atau transaksi, tetapi dirangkai sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan.
"Tujuan penting dari hasil FKY bukan hanya seberapa banyak acara yang terlaksana. Melainkan bagaimana masyarakat luas merasa bahwa acara ini adalah milik kita bersama," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur DIY Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X mengatakan berakhirnya rangkaian FKY tidak berarti berakhirnya makna festival. Menurutnya, FKY menjadi ruang bagi masyarakat untuk membaca Yogyakarta melalui berbagai bentuk kebudayaan.
"Semoga FKY tidak berhenti sebagai perayaan tahunan. Biarlah ia menjadi jejak yang terus terbaca sekaligus ruang tempat lahirnya aksara-aksara baru kebudayaan Yogyakarta," kata Paku Alam X.
FKY 2026 mengusung tema bahasa dengan aksara sebagai perantara untuk membaca kebudayaan Yogyakarta. Tema tersebut merupakan bagian dari rangkaian tema FKY sejak 2023, yakni Pangan pada 2023, Wujud pada 2024, Adat Istiadat pada 2025, dan Bahasa pada 2026.(Aadvertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































