REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebentar lagi umat Islam akan merayakan hari raya Idul Fitri pada 1 Syawal 1447 Hijriyah sebagai tanda berakhirnya bulan suci Ramadhan. Saat hari raya Idul Fitri, umat Islam dilarang berpuasa.
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW melarang puasa pada dua hari: Idul Fitri dan Idul Adha." (HR Imam Muslim)
Karena itu, penentuan 1 Syawal mesti dilakukan melalui pengamatan yang hati-hati atau berdasarkan ilmu, yakni falak. Adanya beberapa metode dalam menentukan awal bulan kamariah kadang kala menyebabkan perbedaan waktu hari raya.
Pada zaman sahabat Nabi Muhammad SAW pun pernah terdapat perbedaan waktu hari raya. Hal itu disebabkan tidak ada orang-orang yang melihat hilal.
Perbedaan waktu Idul Fitri itu terjadi antara Syam dan Madinah. Demikian adanya walaupun jarak antarkedua wilayah tersebut relatif dekat.
Kisah perbedaan waktu Idul Fitri itu tertuang dalam sebuah hadis yang telah disinggung para ahli hadis. Misalnya, Muslim (3/126), Abu Dawud (No. 2332), Nasa’i (4/105-106), Tirmidzi (No. 689), Ibnu Khuzaimah (No. 1916), Daruquthni (2/171), Baihaqy (4/251) dan Ahmad (Al-Fathur-Rabbaani 9/270).
"Dari Kuraib, sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Haarits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam.
Berkata Kuraib, 'Lalu aku datang ke Syam, terus aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku (bulan) Ramadhan, sedang aku masih di Syam. Dan aku melihat hilal (Ramadhan) pada malam Jumat.
Kemudian, aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadhan). Lalu Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal. Kemudian, ia bertanya, 'Kapan kamu melihat hilal (Ramadhan)?'

3 hours ago
2














































