Perang Kian Gila, Rama-Ramai Orang Kaya Asia Pindahkan Aset dari Dubai

8 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang kini mulai menyasar wilayah Uni Emirat Arab (UEA) memicu gelombang kepanikan di kalangan investor kelas kakap. Sejumlah orang kaya asal Asia yang selama ini memarkir asetnya di Dubai kini mulai bergerak cepat untuk memindahkan kekayaan mereka kembali ke pusat keuangan yang lebih aman seperti Singapura dan Hong Kong.

Ketegangan ini memuncak segera setelah serangan rudal dan drone Iran pertama kali menghantam Dubai pada pekan lalu. Dua pengusaha asal India yang berbasis di Dubai dilaporkan langsung mencoba memindahkan dana masing-masing lebih dari US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,5 miliar dari rekening bank lokal mereka ke Singapura guna memitigasi risiko perang.

Upaya pemindahan dana tersebut sempat terkendala oleh gangguan teknis yang terjadi pasca-serangan Iran ke wilayah tersebut. Namun, salah satu dari pengusaha itu menceritakan bahwa ia akhirnya berhasil mentransfer dana tersebut ke rekening bank di Singapura melalui bank lain yang berbasis di Emirates.

"Salah satu dari mereka mengatakan dia kemudian berhasil mentransfer jumlah tersebut ke rekening bank Singapura miliknya melalui bank lain yang berbasis di Emirates," tulis laporan Reuters, Jumat (6/3/2026).

Fenomena ini bukan terjadi pada satu atau dua orang saja. Puluhan orang kaya Asia lainnya dikabarkan sedang melakukan konsultasi dengan penasihat hukum dan industri untuk mengambil langkah serupa. Perang yang berkecamuk telah merusak citra Dubai sebagai "surga aman" atau safe-haven bagi para investor global di kawasan Teluk.

Pengacara kekayaan swasta yang berbasis di Singapura, Ryan Lin, mengungkapkan bahwa sekitar enam atau tujuh dari 20 kliennya yang berbasis di Dubai telah menghubunginya pekan ini. Para klien tersebut rata-rata memegang aset senilai US$ 50 juta, dan tiga di antaranya berencana segera melakukan transfer aset secara besar-besaran ke Singapura.

"Salah satu klien sedang memeriksa seberapa cepat mereka dapat mentransfer semuanya ke Singapura," ujar Ryan Lin.

Senada dengan Lin, Iris Xu yang merupakan pimpinan di penyedia jasa korporat dan dana global Anderson Global, menyebut ada sekitar 10 hingga 20 kantor keluarga (family office) yang bertanya mengenai proses pemindahan aset kembali ke Singapura dari Timur Tengah. Kekhawatiran utama mereka adalah jika konflik ini terseret menjadi perang yang berkepanjangan.

"Dubai selalu tentang manfaat pajak, tetapi sekarang saya rasa manfaat pajak mungkin bukan prioritas utama bagi mereka," tegas Iris Xu.

Seorang penasihat manajemen kekayaan di Singapura juga mengakui telah berbicara dengan 13 klien yang berbasis di UEA, di mana lebih dari separuh di antaranya serius untuk memindahkan aset ke Singapura. Menurutnya, masalah ini bukan sekadar teknis logistik, melainkan sudah menyentuh level kepercayaan investor terhadap stabilitas keamanan wilayah tersebut.

"Terbang bolak-balik akan menjadi tantangan bahkan jika konflik berakhir besok. Ini adalah masalah kepercayaan," ungkap penasihat tersebut.

Grace Tang, CEO Phillip Private Equity, juga menambahkan bahwa klien-kliennya yang didominasi oleh warga Asia merasa sangat gelisah. Setidaknya ada 10 hingga 20 klien yang mulai menanyakan prosedur pemindahan kekayaan ke Singapura demi menjaga modal mereka agar tidak hangus akibat perang.

"Klien saya yang sebagian besar adalah orang Asia merasa gelisah, dengan 10 hingga 20 orang bertanya tentang memindahkan kekayaan mereka ke Singapura dan berupaya menjaga modal mereka," kata Grace Tang.

Meski demikian, tidak semua manajer kekayaan melihat situasi ini sebagai pelarian modal massal secara instan. Dhruba Jyoti Sengupta, CEO WRISE Private Middle East yang berbasis di Dubai, menyatakan pihaknya belum melihat adanya diskusi pelarian modal yang serius karena klien-kliennya masih memiliki keyakinan pada ketahanan jangka panjang UEA.

"Mereka adalah investor global yang canggih, sudah terdiversifikasi secara internasional, namun berinvestasi secara mendalam pada kisah pertumbuhan UEA. Terlepas dari gejolak geopolitik yang lebih luas di kawasan ini, klien merasa aman dan terjamin," jelas Dhruba Jyoti Sengupta.

Pemerintah UEA sendiri terus berupaya meyakinkan pasar bahwa sektor keuangan mereka tetap kokoh. Gubernur Bank Sentral UEA, Khaled Mohamed Balama, menegaskan bahwa perbankan dan perusahaan asuransi di negaranya beroperasi secara normal tanpa gangguan berarti meski situasi regional sedang memanas.

"Sektor perbankan dan keuangan UEA tangguh, kuat, stabil, dan berada pada posisi yang baik untuk menavigasi perkembangan regional," kata Khaled Mohamed Balama.

Di sisi lain, beberapa investor besar memilih untuk tetap pada rencana ekspansi mereka selama UEA tidak terlibat langsung dalam perang. Jeremy Lim, pendiri GrandWay Family Office yang sedang dalam proses membuka kantor keluarga di Abu Dhabi, menyatakan bahwa ia tidak akan mengubah rencananya kecuali situasi berubah menjadi eskalasi militer langsung.

"Hal yang benar-benar akan merusak bisnis adalah jika UEA terlibat langsung bersama salah satu pihak dalam suatu konflik," tutur Jeremy Lim.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|