Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan gabungan bersama Israel untuk melawan Iran ternyata menjadi 'senjata makan tuan'. Bukannya bikin Iran bertekuk lutut mengikuti kemauan AS, justru sang negara adikuasa yang pelan-pelan terkuras habis.
Laporan CNN International menyebut militer AS mulai 'miskin' persediaan rudal-rudal utama gara-gara perang dengan Iran. Para ahli dan tiga sumber menyebut hal ini menimbulkan risiko jangka pendek, di mana AS akan kehabisan amunisi dalam konflik di masa depan.
Selama tujuh minggu terakhir perang, militer AS telah menghabiskan setidaknya 45% dari persediaan Rudal Serangan Presisi (Precision Strike Missiles). Selain itu, setengah persediaan rudal THAAD untuk mencegat rudal balistik juga ludes.
Hampir 50% dari persediaan rudal pencegat pertahanan udara Patriot juga terkuras gara-gara perang yang masih terus berlangsung. Angka-angka ini berdasarkan analisis baru yang dilakukan oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS/Center for Strategic and International Studies).
Sumber dalam menyebut angka-angka itu sesuai dengan data rahasia Pentagon tentang persediaan amunisi AS, dikutip dari CNN International, Rabu (22/4/2026).
Awal tahun ini, Pentagon menandatangani serangkaian kontrak yang akan membantu memperluas produksi rudal. Masalahnya, jangka waktu pengiriman untuk mengganti sistem ini berkisar 3-5 tahun, bahkan dengan peningkatan kapasitas, kata para ahli CSIS dan sumber-sumber lain.
Dalam jangka pendek, AS kemungkinan mempertahankan cukup bom dan rudal untuk melanjutkan operasi tempur melawan Iran, jika gencatan senjata yang rapuh gagal bertahan.
Namun, jumlah amunisi penting yang tersisa di persediaan AS tidak lagi cukup untuk menghadapi musuh yang setara, seperti China. Kemungkinan akan memakan waktu bertahun-tahun sebelum persediaan senjata tersebut kembali ke tingkat sebelum perang, menurut kesimpulan analisis CSIS.
"Pengeluaran amunisi yang tinggi telah menciptakan celah kerentanan yang meningkat di Pasifik barat," kata Mark Cancian, seorang Kolonel Korps Marinir AS yang telah pensiun dan salah satu penulis laporan CSIS, kepada CNN International.
"Dibutuhkan satu hingga empat tahun untuk mengisi kembali persediaan ini dan beberapa tahun setelah itu untuk memperluasnya hingga mencapai jumlah yang dibutuhkan," ia menambahkan.
Dalam pernyataan kepada CNN International, juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, mengatakan militer AS memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas pada waktu dan tempat yang dipilih Trump.
"Sejak Presiden Trump menjabat, kami telah melaksanakan beberapa operasi yang sukses di seluruh komando tempur sambil memastikan militer AS memiliki persenjataan yang lengkap untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami," ia menuturkan.
Militer AS juga telah menghabiskan sekitar 30% dari persediaan rudal Tomahawk-nya, lebih dari 20% dari persediaan rudal jarak jauh Joint Air-to-Surface Standoff Missiles (JASSA), dan sekitar 20% dari rudal SM-3 dan SM-6, menurut analisis dan sumber tersebut. Diperlukan waktu sekita 4-5 tahun untuk mengganti sistem-sistem tersebut.
Perhitungan rudal dari CSIS dan beberapa sumber lain ini sangat kontras dengan klaim Trump baru-baru ini. Trump mengklaim AS tidak kekurangan persenjataan apa pun, bahkan ketika ia meminta pendanaan tambahan untuk rudal karena dampak perang Iran terhadap persediaan yang ada.
"Kami meminta [dana tambahan untuk Pentagon] karena banyak alasan, bahkan di luar apa yang sedang terjadi di Iran," kata Trump bulan lalu.
"Ini adalah harga kecil yang harus dibayar untuk memastikan bahwa kita tetap berada di puncak," ia menuturkan.
Kesepakatan pemerintahan Trump baru-baru ini dengan perusahaan swasta seharusnya meningkatkan produksi. Akan tetapi, pengiriman jangka pendek amunisi utama ini relatif rendah karena pesanan skala kecil di masa lalu, menurut catatan CSIS.
Sebelum perang dimulai, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dan para pemimpin militer lainnya memperingatkan Trump bahwa kampanye militer yang berkepanjangan dapat berdampak pada persediaan senjata AS, khususnya yang mendukung Israel dan Ukraina, seperti yang dilaporkan CNN International sebelumnya.
Sejak awal konflik, Demokrat di Capitol Hill telah menyuarakan kekhawatiran tentang jumlah amunisi yang digunakan dan apa artinya bagi pertahanan AS di Timur Tengah dan sekitarnya.
"Iran memang memiliki kemampuan untuk membuat banyak drone Shahed, rudal balistik, jarak menengah, jarak dekat, dan mereka memiliki persediaan yang sangat besar," kata Senator Demokrat Arizona, Mark Kelly, bulan lalu.
"Jadi pada titik tertentu, ini menjadi masalah perhitungan. Bagaimana kita dapat memasok kembali amunisi pertahanan udara. Dari mana amunisi itu akan berasal?," ia bertanya.
(fab/fab)
Addsource on Google

















































