Penembakan di Sekolah Thailand, Korban Tewas Jadi 9 Orang

4 hours ago 4

Penembakan di Sekolah Thailand, Korban Tewas Jadi 9 Orang

Foto ilustrasi senapan angin dibuat dengan artificial intelligence.

Harianjogja.com, JOGJA—Korban tewas dalam penembakan massal di Debsirin Nonthaburi School, Provinsi Nonthaburi, Thailand, bertambah menjadi sembilan orang. Korban terbaru merupakan seorang siswi berusia 12 tahun yang meninggal setelah menjalani perawatan akibat luka kritis pada Sabtu (8/8/2026).

Penembakan tersebut terjadi pada Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 10.00 waktu setempat di sekolah yang berada di Provinsi Nonthaburi, wilayah barat laut Bangkok. Selain menewaskan sembilan orang, serangan itu menyebabkan lebih dari 30 orang terluka.

Melansir Channel News Asia, Minggu (9/8/2026), pelaku merupakan siswa berusia 14 tahun. Sebelum mendatangi sekolah, remaja tersebut diduga menembak dan menewaskan dua kakek-neneknya di rumah keluarga.

Setelah tiba di sekolah, pelaku melepaskan tembakan sebelum akhirnya meninggal setelah menembakkan senjata ke dirinya sendiri. Lima staf sekolah menjadi korban tewas dalam serangan tersebut.

Siswi 12 Tahun Meninggal, 7 Korban Kritis

Kementerian Kesehatan Thailand sebelumnya menyatakan seorang siswi berusia 12 tahun meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Korban merupakan siswa kelas tujuh.

Sementara itu, sebanyak 14 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Tujuh korban di antaranya berada dalam kondisi kritis, sedangkan sebagian besar korban luka berusia antara 12 hingga 14 tahun.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan jumlah korban berpotensi lebih besar karena pelaku masih memiliki banyak amunisi saat serangan berlangsung.

"Ini sangat disayangkan terjadi, tetapi kami masih beruntung semuanya berakhir. Pertama, karena pemuda yang melakukan insiden tersebut masih memiliki lebih dari 30 butir amunisi," katanya.

Penyelidikan kepolisian menunjukkan remaja tersebut melepaskan 26 tembakan menggunakan pistol yang terdaftar secara legal atas nama kakeknya. Polisi masih mendalami motif penembakan serta bagaimana pelaku dapat mengakses senjata tersebut.

Tekanan Akademik Disebut Jadi Faktor

Anutin mengatakan tekanan akademik menjadi faktor utama yang diduga memicu aksi penembakan. Namun, dia menegaskan masih terdapat sejumlah faktor lain yang perlu diperhatikan dalam penyelidikan insiden tersebut.

"Ada banyak faktor lain yang menyebabkan insiden ini. Masalah utamanya adalah tekanan akademik," kata Anutin seperti dikutip dari Viory, Minggu (9/8/2026).

Menurut Anutin, pelaku tinggal bersama kakek dan neneknya. Sang nenek diketahui merupakan seorang guru dan disebut cukup ketat dalam mendorong cucunya untuk berprestasi di sekolah.

"Kami juga mengetahui bahwa kakek-neneknya, neneknya adalah seorang guru, dan dia ingin dia belajar dengan baik, sehingga dia cukup ketat," ujarnya.

Berdasarkan keterangan tersebut, pelaku diduga menembak kedua kakek-neneknya di rumah sebelum pergi menuju sekolah. Penembakan kemudian berlangsung sekitar pukul 10.00 waktu setempat.

Sekolah Thailand Ditutup 10-14 Agustus

Pemerintah Thailand menyiapkan penutupan sekolah serta dukungan kesehatan mental bagi guru dan siswa yang terdampak penembakan. Wakil Perdana Menteri Yodchanan Wongsawat mengatakan pemerintah mengatur penutupan sekolah dan bantuan kesehatan mental bagi para guru dan siswa.

Debsirin Nonthaburi School memutuskan menghentikan seluruh kegiatan belajar mengajar pada 10 hingga 14 Agustus. Selama periode tersebut, staf sekolah juga diminta bekerja dari rumah.

Langkah tersebut dilakukan setelah penembakan menimbulkan dampak tidak hanya secara fisik terhadap para korban, tetapi juga terhadap siswa dan guru yang berada di lingkungan sekolah.

Keluarga Korban Datangi Sekolah

Sejumlah warga dan keluarga korban mendatangi gerbang Debsirin Nonthaburi School pada Sabtu. Mereka meletakkan bunga dan memberikan penghormatan kepada para korban penembakan.

Seorang teman dekat Wakil Kepala Sekolah Kittipong Somrat, yang menjadi salah satu korban tewas, meminta adanya peningkatan pengamanan di lingkungan sekolah.

"Saya ingin ada pengendalian yang lebih baik dari ini karena kami tidak ingin insiden ini terjadi. Keluarganya sangat berduka dan sedang dalam perjalanan ke sini," katanya.

Sejumlah orang tua juga datang ke sekolah untuk mengambil barang-barang anak mereka yang tertinggal setelah penembakan. Situasi tersebut menjadi bagian dari upaya keluarga untuk kembali mengambil barang pribadi anak-anak mereka setelah aktivitas di sekolah dihentikan.

Seorang ayah mengatakan putranya yang berada di sekolah ketika penembakan terjadi masih mengalami trauma. Putranya bahkan tidak dapat tidur sendirian setelah mengalami kejadian tersebut.

Penyelidikan kepolisian terhadap penembakan di Debsirin Nonthaburi School masih berlangsung. Polisi masih mendalami motif aksi tersebut sekaligus bagaimana remaja berusia 14 tahun itu dapat mengakses pistol yang terdaftar secara legal atas nama kakeknya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|