Hadapi Kekeringan, Pemkab Sleman Siapkan Anggaran dan Dropping Air

3 hours ago 3

Hadapi Kekeringan, Pemkab Sleman Siapkan Anggaran dan Dropping Air

Foto ilustrasi pipa air bersih dari sumber air. - Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Pemerintah Kabupaten Sleman menyiapkan anggaran untuk menghadapi potensi kekeringan selama musim kemarau 2026. Selain mengandalkan penanganan darurat melalui pengedropan air, Pemkab Sleman mulai mendorong solusi jangka panjang dengan menjaga kawasan resapan, memperkuat infrastruktur air, dan meningkatkan pemanfaatan air permukaan.

Bupati Sleman Harda Kiswaya mengatakan persiapan menghadapi ancaman bencana selama musim kemarau telah dilakukan melalui rapat kesiapsiagaan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman juga terus memantau kondisi pasokan air bersih di 17 kapanewon.

Sejumlah wilayah bahkan telah mendapat penanganan akibat terganggunya pasokan air. Di antaranya Sumbersari, Moyudan, dan Girikerto, Turi.

"Pemda melalui BPBD sudah melakukan action di salah satu dusun kami di Sumbersari Kemarin kekeringan sudah kita atasi, sumurnya kita perbaiki. Selama perbaikan, kita dropping air, dan hari ini sudah tidak ada masalah," kata Harda ditemui pada Sabtu (8/8/2026) malam di Stadion Maguwoharjo.

Anggaran Kekeringan Disiapkan

Harda memastikan Pemkab Sleman telah menyiapkan anggaran untuk menghadapi ancaman kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Kesiapan anggaran tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah dalam merespons kemungkinan terganggunya pasokan air bersih masyarakat.

Di lapangan, BPBD Sleman terus mengikuti perkembangan kondisi di 17 kapanewon. Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi sekaligus mempercepat penanganan apabila terjadi kesulitan mendapatkan air bersih.

Menurut Harda, penanganan kekeringan tidak cukup hanya dilakukan ketika masyarakat sudah mengalami kesulitan air. Pemerintah juga perlu menyiapkan strategi jangka panjang agar sumber air tetap tersedia.

Sleman Diminta Jaga Kawasan Resapan

Harda menilai kelestarian lingkungan menjadi bagian penting dalam menjaga keberadaan sumber mata air di Sleman. Sebagai daerah resapan, tata ruang dan pemanfaatan wilayah harus diatur agar fungsi resapan air tetap berjalan.

"Yang jelas, kelestarian lingkungan harus betul-betul dijaga. Sleman daerah resapan, tentu berkaitan dengan tata ruang dan semuanya pemanfaatannya betul-betul ditata, supaya nanti resapan itu tetap bisa jalan," tegasnya.

Selain menjaga kawasan resapan, langkah penghijauan juga dinilai perlu terus didorong. Upaya tersebut menjadi bagian dari pendekatan jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan sumber air di wilayah Sleman.

Dari sisi infrastruktur, Pemkab Sleman juga melihat pembangunan sumur dalam serta peningkatan pemanfaatan air permukaan sebagai alternatif. Harda menyebut upaya pemanfaatan air permukaan telah diinisiasi oleh pemerintah provinsi melalui badan usahanya.

"Berkaitan dengan infrastruktur, ya sumur-sumur dalam. Kemudian pemanfaatan air permukaan ini diperbanyak dan alhamdulillah ini sudah diinisiasi provinsi melalui badan usahanya," tandasnya.

Sumbersari Sempat Kekurangan Air

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro sebelumnya mengatakan penanganan kesulitan pasokan air telah dilakukan di Sumbersari, Moyudan. Gangguan pasokan tersebut berdampak terhadap 63 kepala keluarga (KK) yang tersebar di empat RT.

BPBD Sleman melakukan pengedropan air selama dua hari. Dalam periode tersebut, petugas mengirimkan empat kali tangki air untuk memenuhi kebutuhan warga.

Gangguan juga dipengaruhi kondisi pompa yang digunakan untuk mendistribusikan air. Pompa tersebut dalam kondisi kotor sehingga debit air yang dapat dialirkan kepada warga menjadi sangat kecil.

"Karena pompa, kondisi air debit berkurang dan kotor jadi untuk air ke warga debit sangat kecil," ujarnya.

Harda mengatakan kondisi di Sumbersari telah tertangani setelah sumur diperbaiki. Selama proses perbaikan berlangsung, kebutuhan masyarakat dipenuhi melalui dropping air.

Debit Mata Air Kali Krasak Menurun

Kondisi berbeda terjadi di Girikerto, Turi. Debit air dari mata air Kali Krasak dilaporkan berkurang sejak 23 Juli 2026 sehingga masyarakat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Penurunan debit tersebut membuat distribusi air kepada masyarakat harus dilakukan secara bergiliran. Pada pagi hari, air dialirkan untuk RT 2 dan RT 4, sedangkan pada sore hari giliran RT 1 dan RT 3.

BPBD Sleman telah melakukan empat kali bantuan pengedropan air di Girikerto. Total air yang didistribusikan dalam bantuan tersebut mencapai 20.000 liter.

Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian Pemkab Sleman dalam menghadapi musim kemarau. Selain memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi melalui langkah darurat, pemerintah daerah juga mendorong pengelolaan lingkungan dan pembangunan infrastruktur agar persoalan pasokan air tidak terus berulang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|