Pendampingan Jamaah di Madinah Terus Diperkuat, Lansia dan Pemahaman Arbain Jadi Perhatian Utama

8 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID,MADINAH -- Jelang periode akhir operasional penyelenggaraan ibadah haji 2026 yang menyisakan beberapa hari lagi, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) masih terus memperkuat pendampingan terhadap jemaah yang masih berada di Madinah. 

Pendampingan secara intensif dilakukan melalui kegiatan visitasi kepada jamaah di setiap kelompok terbang (kloter). 

Perhatian petugas terutama kepada jemaah lanjut usia (lansia), dan juga dalam hal penguatan pemahaman ibadah.

PPIH Layanan Pembimbing Ibadah (Bimbad) Sektor 5 Daerah Kerja (Daker) Madinah, Hj Nunung Khoiriyah, mengatakan visitasi menjadi instrumen penting dalam manajemen pelayanan haji. 

Visitasi Bimbad PPIH menjadi sarana untuk memetakan berbagai persoalan yang dihadapi jemaah di setiap kloter.

"Visitasi merupakan satu hal yang sangat penting karena menjadi instrumen dalam manajemen pelayanan haji. Melalui visitasi, kami bisa melihat dan memetakan persoalan yang ada di kloter, sekaligus menjadi ruang komunikasi antara petugas haji dengan ketua regu (Karu) dan ketua rombongan (Karom)," kata Hj. Nunung kepada Media Center Haji (MCH) usai sosialisasi kepada jemaah di Hotel Mirage Taiba.

Menurut Hj Nunung, koordinasi yang dilakukan dalam visitasi mencakup berbagai kebutuhan jemaah, mulai dari kondisi kesehatan, kebutuhan pendampingan, mekanisme masuk Raudah, hingga pelaksanaan ibadah dan city tour di Madinah.

Nunung menjelaskan bahwa jemaah lansia menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian lebih selama berada di Tanah Suci.

"Jamaah haji Indonesia sekitar 55 persen merupakan perempuan dan sekitar 25 persennya adalah lansia. Lansia menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian, termasuk kebutuhan pendampingan dan penggunaan kursi roda," ujarnya.

Ia menambahkan, koordinasi yang baik antara petugas kloter dan PPIH Arab Saudi akan memudahkan pemenuhan kebutuhan jemaah, termasuk pendampingan bagi lansia yang akan melaksanakan ibadah di Raudah.

Sementara itu, Pembimbing Ibadah Kloter SUB 104 Surabaya, Toha Saifuddin, mengingatkan pentingnya meluruskan pemahaman jemaah terkait ibadah Arbain agar tidak menjadi beban yang memaksakan kondisi fisik.

Ia menjelaskan, sebagian besar ulama memahami Arbain sebagai pelaksanaan 40 kali salat di Masjid Nabawi, tidak semata-mata harus 40 waktu shalat wajib yang identik dengan delapan hari berturut-turut.

"Supaya jamaah tetap termotivasi, kami memilih memahami hadis tersebut secara tekstual, yaitu 40 kali salat. Jadi selain shalat wajib, ada shalat sunah seperti salat dhuha, hajat, taubat, dan tahajud yang diharapkan dapat memenuhi makna hadis Arbain," kata Toha.

Ia menegaskan bahwa jamaah tidak perlu memaksakan diri demi mengejar target ibadah apabila kondisi fisik tidak memungkinkan, terutama di tengah cuaca ekstrem di Madinah.

"Kita memang wajib beribadah kepada Allah, tetapi Allah juga memerintahkan kita untuk menjaga kesehatan dan fisik. Ibadah membutuhkan kondisi tubuh yang prima. Kalau badan sakit, ibadah pun tidak akan optimal dan sulit merasakan kekhusyukan," ujarnya.

Toha juga mengimbau jemaah untuk menjaga pola makan, memperbanyak konsumsi air putih, dan mengatur aktivitas ibadah sesuai kemampuan tubuh.

"Kalau di Indonesia kebutuhan air sekitar dua liter per hari, di sini bisa lebih dari itu, sekitar tiga sampai empat liter, agar tubuh tetap segar dan siap beribadah kepada Allah SWT," katanya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|