Orang Belanda Balap Kuda di Monas, Ali Sadikin Bikin PRJ di Lapangan Gambir

3 hours ago 2

Jumat 03 Jul 2026 19:47 WIB

Oleh: Almarhum Alwi Shahab

REPUBLIKA.CO.ID, Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa di Lapangan Gambir (kini Monas) pernah terdapat pacuan kuda, seperti terlihat dalam lukisan abad ke-19. Terlihat beberapa peserta balap kuda berada di dalam pagar, sementara sejumlah pembalap dengan menunggang kuda yang diimpor dari Australia tengah bersiap-siap untuk mengikuti balapan.

Para pembalap yang disebut joki, mengenakan baju seragam seperti jas yang kala itu banyak digunakan oleh kaum feodal meniru gaya Inggris. Mereka memakai peci ala cowboy yang banyak terdapat dalam film-film yang menceritakan kehidupan abad ke-19. Sementara bendera Belanda: merah, putih, dan biru berkibar di kiri kanan podium. 

Menurut keterangan, pacuan kuda mulai dikenal sejak masa pendudukan Inggris (1811-1816). Pada tahun 1970-an di Lapangan Atletik Madya Senayan juga pernah diselenggarakan adu anjing (greyhound).

Sampai pertengahan tahun 1950-an, sebelum Belanda hengkang dari Indonesia karena masalah Irian Barat (Papua), di bagian timur dari Lapangan Monas terdapat tempat latihan bagi warga Belanda penggemar kuda. Letaknya di bagian kanan dari stasion KA Gambir sekarang ini. Puluhan warga Belanda berseliweran menunggang kuda mengitari Monas adalah hal biasa ketika itu.

Lapangan Gambir yang pada masa kolonial Belanda bernama Koningsplein (Lapangan Raja) merupakan lapangan terluas di dunia. Di lapangan yang luasnya satu km2 ini pada 1940-an dibangun lapangan Ikatan Atletik Jakarta (Ikada). Di lapangan inilah Jepang mengobarkan semangat bangsa Indonesia untuk melawan Sekutu: Amerika dan Inggris. 

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|