aprilia tirta
Medika | 2026-07-03 19:58:41
Sumber: unsplash.com
Bayangkan seorang ibu di daerah terpencil yang harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk kontrol gula darah, atau seorang pasien pascaoperasi yang harus duduk berlama-lama di ruang tunggu rumah sakit hanya demi lima menit bertemu dokter. Situasi semacam ini adalah keluhan yang hampir universal di dunia kesehatan dan justru di sinilah telemedicine, layanan kesehatan jarak jauh berbasis teknologi digital, menjelma menjadi solusi yang semakin sulit diabaikan.
Sejak pandemi COVID-19, penggunaan telemedicine melonjak drastis di berbagai negara. Namun pertanyaannya kini bukan lagi "apakah telemedicine berguna?", melainkan "seberapa efektif, seberapa hemat biaya, dan seberapa siap sistem kesehatan kita untuk benar-benar mengadopsinya secara menyeluruh?" Untuk menjawabnya, ada baiknya kita menengok apa yang sudah dibuktikan oleh berbagai penelitian internasional.
Layanan yang Menembus Jarak
Haleem dan koleganya, dalam kajian yang dipublikasikan di jurnal Sensors International (2021), menjelaskan bahwa telemedicine bukan sekadar konsultasi video sederhana. Teknologi ini mencakup pemantauan pasien jarak jauh, rekam medis elektronik, resep digital, hingga konsultasi antarsesama dokter spesialis yang berada di kota berbeda. Bagi pasien di daerah dengan akses layanan kesehatan terbatas, telemedicine memungkinkan mereka tetap mendapat perhatian medis tanpa harus menempuh perjalanan jauh, mengambil cuti kerja, atau mengambil risiko tertular penyakit di ruang tunggu yang padat.
Manfaat ini terasa nyata pula dalam layanan pascaoperasi. Sebuah uji klinis acak (randomized clinical trial) yang dilakukan Yao, Fleshner, dan Zaghiyan (2023) terhadap 46 pasien bedah kolorektal di Amerika Serikat menemukan hasil yang cukup mengejutkan: tingkat kepuasan pasien yang menjalani kontrol pascaoperasi lewat telemedicine ternyata tidak kalah bahkan setara dengan pasien yang datang langsung ke klinik. Waktu kunjungan lewat telemedicine pun cenderung lebih singkat, tanpa menambah risiko pasien harus dirawat ulang. Artinya, untuk kasus-kasus kontrol rutin yang tidak memerlukan tindakan fisik langsung, layar ponsel benar-benar bisa menggantikan meja periksa.
Soal Biaya: Tidak Selalu Hitam Putih
Salah satu daya tarik telemedicine adalah janji efisiensi biaya. Namun benarkah selalu demikian? Ofir Ben-Assuli (2022), dalam tinjauan sistematis terhadap 22 penelitian cost-effectiveness telemedicine untuk manajemen diabetes, menemukan bahwa mayoritas studi memang melaporkan telemedicine baik lewat telepon, aplikasi pemantauan gula darah, maupun teleoftalmologi untuk skrining kebutaan akibat diabetes terbukti hemat biaya dibanding perawatan konvensional. Meski begitu, ia juga mencatat bahwa metode penghitungan yang digunakan berbagai penelitian sangat beragam dan sebagian besar belum menguji secara mendalam faktor-faktor yang bisa mengubah hasil perhitungan tersebut. Dengan kata lain, telemedicine memang berpotensi menghemat biaya kesehatan dalam jangka panjang, tetapi manfaat ini sangat bergantung pada jenis penyakit, populasi pasien, dan model layanan yang diterapkan bukan jaminan otomatis untuk semua kondisi.
Jalan Terjal di Balik Layar
Di balik berbagai kabar baik itu, penerapan telemedicine secara luas ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kruse dan tim (2020), yang menelaah 48 artikel tentang kebijakan kesehatan dan telemedicine, mengidentifikasi sejumlah hambatan utama: biaya awal yang tidak selalu tertutup skema penggantian biaya (reimbursement), kekhawatiran privasi dan keamanan data pasien, kesenjangan kemampuan teknologi antara kelompok usia dan tingkat ekonomi, hingga aturan perizinan tenaga medis yang berbeda-beda antarwilayah. Di sisi lain, faktor pendorong terbesar justru datang dari hal yang sederhana: peningkatan akses layanan, kenyamanan pasien, dan semakin meluasnya kepemilikan telepon pintar bahkan di negara berkembang sekalipun. Temuan ini penting karena mengingatkan kita bahwa telemedicine bukanlah "obat ajaib" yang bisa langsung diterapkan tanpa perencanaan matang. Ia memerlukan kebijakan yang jelas soal keamanan data, insentif bagi tenaga kesehatan, serta edukasi digital bagi pasien terutama kelompok lanjut usia yang sering kali kurang familier dengan teknologi.
Bukan Cuma Soal Jarak, Tapi Juga Alur Layanan
Menariknya, digitalisasi kesehatan tidak melulu soal menghubungkan dokter dan pasien dari jarak jauh. Penelitian Astiena dan kawan-kawan (2022) di sebuah rumah sakit pemerintah di Sumatra Barat, Indonesia, menunjukkan bahwa penerapan digitalisasi berbasis prinsip lean management yakni memangkas tahapan layanan yang tidak memberi nilai tambah bagi pasien mampu memangkas waktu tunggu pasien rawat jalan secara drastis, dari rata-rata 336 menit menjadi hanya 39 menit, atau turun sekitar 88 persen. Caranya sederhana namun berdampak besar: sistem pendaftaran janji temu digital yang terintegrasi dengan jadwal praktik dokter, sehingga pasien tidak lagi harus datang pagi-pagi buta dan mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan nomor urut.
Temuan ini melengkapi gambaran besar tentang digitalisasi kesehatan: bukan hanya soal menembus jarak geografis lewat konsultasi video, tetapi juga soal merapikan alur pelayanan di dalam rumah sakit itu sendiri.
Apa Artinya bagi Kita?
Bagi pembuat kebijakan, temuan-temuan ini menjadi sinyal jelas bahwa investasi pada telemedicine dan digitalisasi rumah sakit bukan sekadar tren sesaat, melainkan langkah strategis yang perlu didukung dengan regulasi memadai, mulai dari skema pembiayaan yang adil, jaminan keamanan data pasien, hingga pelatihan literasi digital bagi tenaga kesehatan dan masyarakat. Bagi rumah sakit dan puskesmas, menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu memerlukan teknologi canggih dan mahal, sistem janji temu digital sederhana saja sudah bisa memangkas waktu tunggu secara signifikan. Dan bagi kita sebagai pasien, telemedicine kini bukan lagi sekadar alternatif darurat di masa pandemi, melainkan pilihan layanan yang jika diterapkan dengan tepat, bisa membuat kita lebih jarang duduk berlama-lama di ruang tunggu rumah sakit dan lebih sering mendapatkan layanan kesehatan yang cepat, aman, dan manusiawi.
Sumber rujukan:
- Haleem, A., Javaid, M., Singh, R. P., & Suman, R. (2021). Telemedicine for healthcare: Capabilities, features, barriers, and applications. Sensors International, 2, 100117.
- Kruse, C. S., Williams, K., Bohls, J., & Shamsi, W. (2021). Telemedicine and health policy: A systematic review. Health Policy and Technology, 10(2), 209–229.
- Ben-Assuli, O. (2022). Measuring the cost-effectiveness of using telehealth for diabetes management: A narrative review of methods and findings. International Journal of Medical Informatics, 163, 104764.
- Astiena, A. K., Hadiguna, R. A., Iswanto, A. H., & Hardisman. (2022). Digitalization of outpatient services based on lean management to reduce waiting time in government hospital. International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology, 12(6), 2248–2257.
- Yao, L. Y., Fleshner, P. R., & Zaghiyan, K. N. (2023). Impact of postoperative telemedicine visit versus in-person visit on patient satisfaction: A randomized clinical trial. Surgery, 173, 322–327.
Penulis: Lilis, Zilka, April, Meilisa, dan Arinta
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
2









































