REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mioma dan adenomyosis menjadi dua masalah kesehatan reproduksi yang kerap dialami perempuan usia produktif. Namun, tidak sedikit kasus yang luput dari perhatian karena tidak menimbulkan gejala yang jelas.
Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS Abdi Waluyo, dr Sigit Pramono Sp.OG, FRANZCOG, menjelaskan mioma pada dasarnya merupakan penebalan otot rahim yang pertumbuhannya bisa terjadi di berbagai sisi rahim, baik di bagian depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah, maupun menonjol ke dalam rongga rahim.
“Mioma pada intinya adalah penebalan otot rahim. Penebalannya bisa di mana saja dan pertumbuhannya juga bisa ke dalam rongga rahim,” ujar dr Sigit.
Berdasarkan data di Indonesia pada 2021, sekitar 30–60 persen perempuan usia reproduksi memiliki mioma. Dari jumlah tersebut, seperempatnya membutuhkan terapi, baik terapi obat maupun tindakan non-obat termasuk pembedahan.
Meski demikian, sekitar 25 persen penderita mioma tidak merasakan gejala apa pun. Ada pula yang mengalami gejala nonspesifik, misalnya gangguan pada kantong kemih.
“Tidak ada gejala bukan berarti tidak ada mioma atau kista. Karena itu penting melakukan medical check-up rutin, meski merasa sehat,” kata dia.
Gejala yang paling sering dikeluhkan pasien antara lain nyeri haid, perdarahan menstruasi berlebih, rasa tertekan di perut bawah, gangguan buang air kecil atau buang air besar, hingga nyeri saat berhubungan suami istri. Pada mioma berukuran besar, massa dapat menekan liang kemaluan sehingga menimbulkan rasa sakit saat berhubungan.
Menurut dr Sigit, tidak semua mioma harus segera ditangani. Penanganan bergantung pada ukuran, gejala, usia, serta rencana reproduksi pasien. Namun, mioma berukuran lebih dari 4 sentimeter umumnya perlu dipertimbangkan untuk terapi karena berisiko memengaruhi cadangan sel telur.
Ia mencontohkan kasus pasien berusia 24 tahun dengan mioma berukuran 10 sentimeter yang memiliki cadangan sel telur setara perempuan usia 40 tahun.
Jika tidak ditangani, mioma dapat memicu gangguan kesuburan, menurunkan kualitas hidup akibat nyeri dan perdarahan berat, bahkan berisiko mengganggu fungsi sosial karena penderita sulit beraktivitas normal saat menstruasi.
Selain faktor genetik, pola hidup dan pola makan turut berperan dalam meningkatkan risiko mioma maupun adenomiosis. Karena itu, dr Sigit menyarankan perempuan mulai melakukan pemeriksaan rahim sejak awal usia 20-an, terlebih bila memiliki riwayat keluarga dengan kista atau mioma.
“Sekarang kita juga melihat cadangan telur perempuan cenderung menurun. Pemeriksaan berupa USG abdomen, tetapi bisa ditambah pemeriksaan darah untuk melihat cadangan sel telur,” ujarnya.
Mioma berukuran besar bahkan dapat menekan tulang belakang dan memperburuk kondisi tulang saat memasuki masa menopause. Oleh karena itu, deteksi dini dinilai penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
"Tidak ada salahnya periksa sejak dini, karena kita lihat usia menikah di dunia makin dekati usia 40 tahun. Mioma dan adenomyosis banyak terjadi di usia reproduksi perempuan, jadi sebaiknya awal 20 periksa. Karena dengan pola hidup dan makan, terlalu banyak process food, risikonya meningkat bukan hanya untuk mioma dan adenomyosis tapi untuk kandungan dan kebidanan. Yang kita anjurkan awal usia 20 walau tidak bergejala bila secara genetik ada riwayat kista atau mioma, itu diharuskan periksa," tuturnya.

2 hours ago
2

















































