Gilang Haikal
Teknologi | 2026-07-02 17:24:01
Beberapa dekade lalu, teknologi komputer dan internet dipasarkan sebagai sebuah janji manis: efisiensi. Janjinya, perkakas digital akan menyelesaikan pekerjaan manusia lebih cepat, sehingga kita punya lebih banyak waktu luang untuk keluarga, hobi, atau sekadar beristirahat.
Namun, coba tengok layar ponsel Anda sekarang. Berapa banyak notifikasi yang masuk dalam satu jam terakhir? Berapa kali Anda merasa cemas jika tidak memeriksa media sosial?
Kenyataannya, janji waktu luang itu meleset jauh. Bukannya membebaskan, teknologi perlahan telah mendikte ritme hidup manusia modern. Kita mengalami apa yang disebut para sosiolog sebagai time scarcity—perasaan di mana kita selalu merasa kekurangan waktu, padahal segala sesuatu sudah berjalan serba otomatis.
Ilusi Efisiensi dan Hilangnya Batas
Dulu, batas antara "dunia kerja" dan "kehidupan pribadi" dipisahkan oleh pagar fisik bernama jam kantor. Ketika Anda melangkah keluar dari gedung kubikal pada pukul lima sore, pekerjaan Anda selesai.
Sekarang? Kantor berpindah ke saku celana kita. Grup percakapan kerja tetap berdering di hari Minggu kurasi, surel masuk saat makan malam, dan algoritma media sosial dirancang khusus agar jempol kita terus menggulir layar tanpa henti (infinite scroll).
Teknologi, lewat kecerdasan buatan (AI) dan algoritma mutakhirnya, sangat pintar memanfaatkan celah psikologis manusia. Fitur pencatatan langkah kaki, pelacak tidur, hingga pengingat produktivitas awalnya dibuat untuk membantu kita. Namun pelan-pelan, kita malah merasa bersalah jika tidak memenuhi "target angka" yang ditentukan oleh aplikasi tersebut. Kita tidak lagi mendengarkan tubuh kita sendiri; kita mendengarkan algoritma.
Menolak Diatur oleh Mesin
Lantas, apakah kita harus membuang ponsel pintar dan kembali ke zaman batu? Tentu tidak. Menolak teknologi di era sekarang adalah langkah utopis yang naif. Teknologi tetaplah alat bantu medis yang revolusioner, jembatan komunikasi yang murah, dan gudang ilmu pengetahuan terbesar yang pernah ada.
Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana kita meletakkan kendali.
Saat ini, kita perlu membangun kesadaran digital baru. Jika sebuah teknologi membuat kita merasa dikejar-kejar waktu dan kehilangan momen nyata bersama orang-orang terdekat, artinya alat tersebut tidak lagi melayani kita—kitalah yang sedang melayani alat itu.
Sudah saatnya kita mengambil alih kemudi. Mematikan notifikasi yang tidak perlu, menetapkan jam malam digital, dan berani untuk "tidak responsif" selama beberapa jam dalam sehari adalah bentuk perlawanan kecil yang waras. Jangan biarkan hidup kita yang berharga ini habis diatur oleh kotak kaca berukuran lima inci.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
3










































