Mengapa Banyak Pangkalan AS di Negara Muslim Teluk?

6 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Satu yang jadi sorotan menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran belakangan adalah keberadaan pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Teluk. Bagaimana ceritanya ada itu sebegitu banyak pangkalan  militer di negara-negara mayoritas Muslim tersebut?. 

Apakah memang ia untuk kepentingan keamanan negara-negara Teluk seperti diklaim pembelanya, atau kepentingan Amerika sepenuhnya. Namanya fakta, biasanya tak mengambil sikap ekstrem macam itu. 

Dalam catatan Department of State alias Kementerian Luar Negeri AS, upaya membangun pangkalan militer permanen AS dimulai bahkan sebelum Perang Dunia II selesai. 

Pada Maret 1945, kepala staf gabungan telah menyimpulkan bahwa terdapat kebutuhan militer untuk pembangunan lapangan terbang militer Amerika Serikat di Dhahran, bagian timur Arab Saudi. Militer AS berencana  menggunakan lapangan udara itu sebagai pangkalan antara Kairo dan Karachi dalam rencana operasi yang diproyeksikan saat itu. 

Pangkalan di Dhahran disebut dapat memperpendek rute udara sekitar 200 mil dan menghasilkan penghematan bahan bakar dan jam terbang yang signifikan. Ada alasan lain, dan lebih utama yang dilampirkan dalam dokumen diplomatik saat itu. 

“Ladang minyak Arab Saudi, yang berpotensi menjadi salah satu yang paling berharga di dunia, kini berada di bawah konsesi perusahaan Amerika. Keberlanjutan konsesi di tangan Amerika memberikan prospek terbaik bahwa minyak Arab Saudi akan dikembangkan secara komersial dengan kecepatan dan skala terbesar, menghasilkan pendapatan yang akan berkontribusi pada perbaikan kondisi ekonomi Arab Saudi dan, sebagai konsekuensinya, pada stabilitas politiknya,” demikian bunyi surat diplomatik tertanggal 12 Maret 1945.

Keterlibatan perusahaan AS dalam minyak Saudi dimulai pada 1933 ketika Standard Oil of California (sekarang Chevron) menandatangani perjanjian konsesi, yang mengarah pada penemuan minyak di Dammam pada 1938. Pada 1944, sebelum kesepakatan pangkalan militer, Standard Oil of California, Texaco, Standard Oil of New Jersey, dan Socony-Vacuum membentuk kemitraan yang secara resmi menjadi Arabian American Oil Company (Aramco).

“Setelah lapangan terbang tersebut digunakan untuk tujuan militer, lapangan terbang ini akan menjadi aset utama bagi penerbangan sipil Amerika pascaperang sebagai tempat pemberhentian sementara yang paling memungkinkan dalam rute ke India dan sebagai sarana lalu lintas udara ke dan dari ladang minyak yang dimiliki atau dikuasai Amerika di Arab Saudi dan Bahrain,” bunyi alasan keduanya.

Raja Saudi Abdulaziz bin Saud kala itu menyetujui proposal AS tersebut. Namun, ada tapi yang sangat signifikan saat itu. 

“Raja menyatakan keinginannya agar lapangan terbang tersebut digunakan oleh pasukan militer Amerika Serikat untuk jangka waktu tiga tahun setelah berakhirnya permusuhan,” dikutip dari dokumen diplomatik pada 1945. Setelah waktu tiga tahun itu selesai, seharusnya tak ada lagi pangkalan militer AS di Saudi dan Dhahran diubah jadi bandara sipil.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|