Yield sukuk 6,35% bikin mahasiswa UGM tertarik. Anggito Abimanyu sebut Sukuk negara makin kompetitif dan aman.
Harianjogja.com, SLEMAN— Anggapan bahwa investasi syariah sekadar urusan ibadah mulai bergeser di kalangan mahasiswa. Melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), mereka kini dapat mengakses Sukuk Tabungan dengan modal terjangkau maupun Project Based Sukuk (PBS) yang berdampak langsung pada pembangunan infrastruktur.
Pakar Ekonomi Syariah, Anggito Abimanyu, menyebut minat mahasiswa terhadap Sukuk terus meningkat dan menjadikannya salah satu instrumen investasi yang banyak dipilih. Selain alasan sesuai prinsip syariah, Sukuk juga aman dan yang paling penting adalah menguntungkan.
Apabila membandingkan dengan instrumen konvensional, Sukuk tidak kalah kompetitif. Hal ini terlihat dari aspek pricing dan aktivitas perdagangannya di pasar. Istilah pricing dalam Sukuk merujuk pada imbal hasil (yield) yang menurut Anggito tergolong kompetitif.
Data per Januari 2026 menunjukkan yield sukuk negara tenor 3 tahun sebesar 6,35%, lebih tinggi dibandingkan SBN konvensional 6,30%. Artinya, imbal hasil sukuk saat ini sedikit lebih menarik bagi investor.
“Yield yang sepuluh tahun juga lebih kompetitif [dibandingkan dengan SBN],” kata Anggito di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam acara Jagongan Navigasi Ekonomi Syariah yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY, Sabtu (28/2/2026).
Anggito coba meyakinkan masyarakat bahwa investasi di instrumen syariah tidak kalah menguntungkan dengan instrumen konvensional. Hal ini bisa dibuktikan salah satunya lewat indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) tercatat tumbuh lebih cepat dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) per Desember 2025.
Efisiensi sistem syariah juga merambah sektor digital. Data perbandingan menunjukkan tingkat keberhasilan bayar (TKB90) P2P syariah mencapai 97,05%, lebih tinggi dibandingkan platform konvensional dalam perbandingan yang sama. Hal ini menunjukkan tingkat risiko gagal bayar yang relatif lebih rendah.
Literasi dan Inklusi
Meski kinerjanya kompetitif, indeks inklusi keuangan syariah masih lebih rendah dibandingkan tingkat literasinya. Masyarakat sudah teredukasi terkait layanan tersebut, tapi tidak melakukan transaksi atau menggunakan layanan itu.
Sedangkan, indeks inklusi pada keuangan atau bank konvensional lebih tinggi daripada literasinya. Artinya, masyarakat menggunakan produk atau layanan, tapi belum memahaminya secara mendalam.
“Game changernya sekarang itu bukan pada pembukaan cabang perbankan, tapi pada pelayanannya,” katanya.
Ada tiga hal yang menurut Anggito penting dalam upaya mengembangkan sektor keuangan syariah: akidah, gaya hidup, dan demand.
Maksudnya penguatan sektor keuangan syariah tidak bisa hanya bertumpu pada faktor ekonomi, tetapi juga pada dimensi akidah yang membentuk preferensi konsumsi. Ketika nilai tersebut terinternalisasi menjadi gaya hidup, permintaan terhadap produk syariah meningkat. Kenaikan permintaan ini kemudian mendorong penambahan penawaran, memperluas ekosistem, serta menciptakan efisiensi dan daya saing di pasar keuangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
















































