Mahasiswa Manajemen Untag Surabaya Adakan Pelatihan Mie Ikan Bandeng di Desa Gumeng

4 hours ago 4

Image Afni Latansya

Eduaksi | 2026-07-08 20:13:00

Ada sesuatu yang selalu menarik perhatian saya setiap kali menyusuri desa-desa pesisir di pantai utara Jawa: kelimpahan yang berdiri berdampingan dengan keterbatasan. Tambak-tambak membentang luas, air payau mengalir tenang, dan setiap pagi nelayan pulang membawa hasil tangkapan yang melimpah. Namun di balik pemandangan yang tampak makmur itu, sering kali tersimpan persoalan yang jarang disadari: hasil alam yang berlimpah tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan yang dirasakan masyarakatnya. Desa Gumeng, yang terletak di Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, adalah salah satu potret nyata dari situasi tersebut.

Ikan bandeng menjadi komoditas yang begitu lekat dengan identitas desa ini. Tambak-tambak bandeng menghampar di sepanjang wilayah, dan hasil panennya menjadi salah satu sumber penghidupan utama warga. Akan tetapi, ironisnya, potensi besar ini selama bertahun-tahun hanya dimanfaatkan dalam bentuk yang itu-itu saja: dijual mentah, diasap, atau digoreng sederhana. Nilai tambah yang seharusnya bisa digali dari hasil tambak ini justru belum banyak tersentuh oleh inovasi. Di sinilah letak persoalan yang sebenarnya sedang kita bicarakan bukan tentang kelangkaan sumber daya, melainkan tentang bagaimana sumber daya yang melimpah itu diolah, dikembangkan, dan pada akhirnya memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Ketika saya mengikuti perkembangan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk "Pelatihan Pembuatan Mie Ikan Bandeng sebagai Inovasi Produk Pangan Bergizi dan Bernilai Ekonomis" yang dilaksanakan pada 6 hingga 17 Juli 2026 di Desa Gumeng, saya melihat sebuah upaya kecil namun bermakna besar untuk menjawab persoalan tersebut. Kegiatan ini digagas oleh mahasiswa Nur Afni Latansya di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Dia Puspitasari, S.Sos., M.Si., M.Ikom, bekerja sama dengan PKK POKJA 3 Desa Gumeng. Sepintas, ini hanyalah sebuah pelatihan kuliner sederhana. Namun bila ditelaah lebih dalam, kegiatan ini sesungguhnya menyentuh persoalan yang jauh lebih fundamental: bagaimana potensi lokal dapat diubah menjadi solusi atas masalah gizi, ekonomi, dan pemberdayaan perempuan di tingkat desa.

Ikan Bandeng: Komoditas yang Belum Optimal Dimanfaatkan

Bicara tentang bandeng, kita sesungguhnya sedang berbicara tentang salah satu sumber protein hewani terbaik yang dimiliki masyarakat pesisir Indonesia. Ikan ini kaya akan omega-3, protein, kalsium, serta berbagai mineral penting yang dibutuhkan tubuh, terutama untuk mendukung tumbuh kembang anak. Sayangnya, potensi gizi yang begitu besar ini sering kali tidak dibarengi dengan tingkat konsumsi yang memadai, terutama pada kelompok usia anak-anak. Dua persoalan klasik selalu muncul: duri yang menyulitkan dan aroma amis yang kerap membuat anak-anak enggan menyantapnya.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan rumah tangga biasa. Ia berkaitan erat dengan pola konsumsi gizi masyarakat secara keseluruhan. Ketika sumber protein yang sebenarnya tersedia melimpah di lingkungan sekitar justru tidak optimal dikonsumsi karena kendala teknis semacam itu, maka yang terjadi adalah pemborosan potensi. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, akar dari banyak persoalan gizi di wilayah pesisir bukanlah soal ketiadaan bahan pangan bergizi, melainkan soal bagaimana bahan pangan tersebut diolah agar lebih mudah diterima, terutama oleh anak-anak sebagai kelompok yang paling rentan terhadap masalah gizi.

Di sinilah relevansi dari inovasi mie ikan bandeng menjadi sangat terasa. Dengan mengolah daging bandeng menjadi adonan mie, dua persoalan utama langsung teratasi sekaligus: duri yang biasanya menjadi momok saat menyantap bandeng hilang sama sekali karena daging telah dihaluskan, sementara aroma amis dapat diminimalkan melalui teknik pengolahan dan penambahan bumbu yang tepat. Produk yang dihasilkan pun menjadi jauh lebih ramah bagi lidah anak-anak, tanpa mengurangi kandungan gizi yang terkandung di dalamnya. Ini bukan sekadar trik kuliner, melainkan sebuah strategi cerdas untuk menjembatani kesenjangan antara ketersediaan pangan bergizi dan tingkat konsumsinya di masyarakat.

Inovasi Pangan sebagai Jawaban atas Persoalan Gizi dan Stunting

Kita tidak bisa membicarakan isu gizi masyarakat pesisir tanpa menyinggung persoalan stunting yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini. Stunting bukan semata soal kurangnya asupan makanan, melainkan lebih sering disebabkan oleh ketidaktepatan pola konsumsi gizi dalam periode emas tumbuh kembang anak. Banyak orang tua di desa sebenarnya memiliki akses terhadap bahan pangan bergizi seperti ikan, namun anak-anak mereka menolak mengonsumsinya karena faktor tekstur, rasa, maupun bentuk penyajian yang kurang menarik.

Melihat kenyataan ini, saya berpandangan bahwa inovasi pangan seperti mie ikan bandeng memiliki peran strategis yang sering kali luput dari perhatian dalam program-program penanggulangan stunting berskala besar. Program pemerintah kerap berfokus pada distribusi suplemen atau edukasi gizi secara formal, namun pendekatan yang menyentuh langsung kebiasaan makan sehari-hari melalui inovasi produk pangan justru dapat memberikan dampak yang lebih membumi dan berkelanjutan. Anak-anak tidak akan menolak makan mie, sebuah makanan yang identik dengan kegemaran mereka, sementara di dalamnya tersembunyi kandungan protein dan gizi dari ikan bandeng yang mereka konsumsi tanpa disadari. Pendekatan semacam ini, menurut saya, jauh lebih realistis dan aplikatif dibandingkan sekadar mengimbau masyarakat untuk mengubah pola makan secara drastis.

PKK sebagai Motor Penggerak Pemberdayaan Ekonomi Keluarga

Satu hal yang menarik dari kegiatan ini adalah pemilihan mitra pelaksana, yaitu PKK POKJA 3 Desa Gumeng. Bukan tanpa alasan, sebab PKK selama ini terbukti menjadi salah satu organisasi masyarakat yang paling efektif dalam menjangkau rumah tangga hingga ke lapisan paling dasar. Ibu-ibu PKK bukan hanya menjadi objek pelatihan, melainkan aktor kunci yang akan meneruskan pengetahuan dan keterampilan ini kepada keluarga masing-masing, bahkan berpotensi menularkannya kepada tetangga dan kerabat di sekitar mereka.

Pemberdayaan ekonomi keluarga sesungguhnya sering kali berawal dari titik-titik kecil semacam ini keterampilan sederhana yang diberikan kepada ibu rumah tangga, yang kemudian berkembang menjadi usaha rumahan, lalu meluas menjadi unit ekonomi produktif yang menopang perekonomian keluarga. Saya melihat pola ini sebagai bagian dari strategi pemberdayaan yang jauh lebih realistis dibandingkan program-program pemberdayaan ekonomi yang bersifat top-down dan sering kali tidak menyentuh akar persoalan di tingkat rumah tangga. Ketika seorang ibu diberi keterampilan mengolah bandeng menjadi mie yang bernilai jual, ia tidak hanya belajar resep baru, tetapi juga membuka jalan bagi dirinya untuk menjadi pelaku ekonomi yang mandiri.

Pelatihan Keterampilan Berbasis Potensi Lokal: Mengapa Ini Penting?

Salah satu kesalahan yang kerap terjadi dalam program pemberdayaan masyarakat adalah memperkenalkan keterampilan yang tidak relevan dengan potensi wilayah setempat. Banyak pelatihan yang justru mengajarkan keterampilan yang bahan bakunya harus didatangkan dari luar daerah, sehingga pada akhirnya sulit untuk berkelanjutan karena masyarakat harus bergantung pada pasokan dari luar.

Pelatihan pembuatan mie ikan bandeng di Desa Gumeng justru mengambil jalan yang berbeda dan, menurut saya, jauh lebih tepat sasaran. Bahan baku utamanya, yaitu ikan bandeng, adalah komoditas yang memang tersedia melimpah di desa tersebut. Artinya, keterampilan yang diberikan benar-benar dapat dipraktikkan secara berkelanjutan tanpa kendala ketersediaan bahan baku. Ini adalah prinsip dasar pemberdayaan masyarakat yang sesungguhnya: memberdayakan apa yang sudah dimiliki, bukan memaksakan sesuatu yang asing bagi konteks lokal. Pendekatan berbasis potensi lokal semacam ini jauh lebih mungkin untuk bertahan lama, karena masyarakat tidak perlu bergantung pada faktor eksternal yang berada di luar kendali mereka.

Peluang Usaha Rumah Tangga dan Nilai Ekonomis Produk

Dari sisi ekonomi, produk olahan seperti mie ikan bandeng memiliki peluang pasar yang sesungguhnya cukup menjanjikan. Tren konsumsi masyarakat Indonesia terhadap produk mie sudah mengakar kuat, namun kesadaran terhadap pentingnya kandungan gizi dalam makanan sehari-hari juga semakin meningkat, khususnya di kalangan keluarga muda perkotaan yang mulai selektif memilih makanan bagi anak-anaknya. Produk mie berbahan dasar ikan, dengan kandungan protein tinggi dan cita rasa yang khas, sesungguhnya memiliki ruang yang cukup luas untuk menembus pasar tersebut, baik dalam skala lokal desa maupun dipasarkan lebih luas melalui platform digital.

Nilai tambah semacam ini yang sering kali tidak disadari oleh masyarakat desa. Bandeng yang biasanya dijual dengan harga relatif murah dalam bentuk mentah, ketika diolah menjadi produk mie bernilai tambah, harga jualnya dapat meningkat berkali-kali lipat. Inilah esensi dari hilirisasi produk pertanian dan perikanan dalam skala mikro sebuah konsep yang sering digaungkan dalam kebijakan ekonomi nasional, namun jarang benar-benar tersentuh hingga ke tingkat rumah tangga di desa. Melalui pelatihan semacam ini, konsep besar hilirisasi tersebut diterjemahkan menjadi praktik nyata yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Peran Mahasiswa dan Perguruan Tinggi dalam Pemberdayaan Desa

Saya juga ingin menyoroti peran mahasiswa dan perguruan tinggi dalam kegiatan semacam ini. Kuliah Kerja Nyata atau program pengabdian masyarakat sering kali dipandang sebelah mata, dianggap sekadar formalitas akademik yang harus dipenuhi mahasiswa untuk menyelesaikan studinya. Namun ketika saya melihat bagaimana kegiatan ini dirancang dengan bimbingan seorang dosen pembimbing lapangan dan diimplementasikan secara langsung bersama mitra desa, saya melihat sesuatu yang jauh lebih substantif dari sekadar formalitas.

Mahasiswa membawa perspektif baru, pengetahuan teknis mengenai pengolahan pangan, serta semangat inovasi yang segar ke tengah masyarakat desa. Di sisi lain, masyarakat desa memiliki kearifan lokal dan pemahaman mendalam tentang potensi wilayah mereka sendiri. Ketika dua hal ini bertemu, terciptalah sinergi yang produktif. Perguruan tinggi, melalui mahasiswanya, sesungguhnya memiliki tanggung jawab moral untuk turun langsung menyentuh persoalan riil di masyarakat, bukan sekadar berkutat pada teori di ruang kelas. Kegiatan di Desa Gumeng ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara dunia akademik dan masyarakat desa dapat melahirkan solusi yang aplikatif dan berdampak langsung.

Tantangan Keberlanjutan: Pekerjaan Rumah yang Tidak Boleh Diabaikan

Namun, sejujurnya, saya juga ingin menyampaikan sebuah catatan kritis. Pelatihan semacam ini, sebaik apa pun konsepnya, akan kehilangan makna jika tidak diikuti dengan keberlanjutan setelah program berakhir. Banyak kegiatan pengabdian masyarakat yang berhenti pada tahap pelatihan saja, tanpa ada pendampingan lanjutan untuk memastikan keterampilan yang telah diberikan benar-benar diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat.

Pertanyaan besar yang perlu terus dikawal adalah: setelah tanggal 17 Juli 2026, ketika masa kegiatan pengabdian ini berakhir, apakah ibu-ibu PKK Desa Gumeng akan terus memproduksi mie ikan bandeng secara mandiri? Apakah ada pendampingan lanjutan terkait pemasaran, pengemasan, hingga perizinan usaha rumah tangga? Persoalan-persoalan teknis semacam ini sering kali menjadi batu sandungan yang membuat inovasi bagus akhirnya hanya menjadi kenangan pelatihan tanpa dampak jangka panjang.

Saya berpandangan bahwa peran pemerintah desa, dinas terkait, serta perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti pada momen pelatihan semata. Perlu ada mekanisme pendampingan berkelanjutan, baik dalam bentuk pembinaan kelompok usaha, fasilitasi akses pasar, maupun dukungan terhadap perizinan produk pangan rumahan. Tanpa keberlanjutan semacam ini, sebaik apa pun inovasi yang dihasilkan, dampaknya akan terbatas hanya pada durasi program berlangsung.

Refleksi: Ketika Bandeng Mengajarkan Kita tentang Makna Inovasi

Merenungkan kegiatan ini lebih jauh, saya menemukan sebuah pelajaran yang sesungguhnya sederhana namun dalam maknanya. Kita sering kali membayangkan inovasi sebagai sesuatu yang rumit, membutuhkan teknologi canggih, atau modal besar. Namun apa yang terjadi di Desa Gumeng menunjukkan hal yang sebaliknya. Inovasi sejati justru lahir dari kejelian melihat persoalan sehari-hari yang tampak sepele, kemudian meresponsnya dengan solusi kreatif yang aplikatif.

Ikan bandeng yang selama ini hanya dipandang sebagai komoditas biasa, ketika disentuh dengan sedikit kreativitas dan pengetahuan pengolahan pangan, berubah menjadi produk yang memiliki nilai gizi lebih mudah diakses dan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Ini mengajarkan saya bahwa potensi pembangunan desa sesungguhnya tidak selalu perlu dicari dari luar, karena sering kali potensi itu sudah ada di depan mata, hanya menunggu untuk diolah dengan cara yang tepat.

Saya juga melihat betapa besar peran perempuan, dalam hal ini ibu-ibu PKK, sebagai ujung tombak perubahan di tingkat rumah tangga. Ketika perempuan desa diberi keterampilan dan kepercayaan diri untuk mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi, dampaknya tidak hanya dirasakan secara finansial, tetapi juga memperkuat posisi mereka sebagai agen perubahan dalam keluarga dan komunitas. Ini adalah bentuk pemberdayaan yang jauh lebih substantif dibandingkan sekadar memberikan bantuan yang bersifat konsumtif.

Penutup: Pembangunan Desa Dimulai dari Hal Sederhana

Pada akhirnya, kegiatan Pelatihan Pembuatan Mie Ikan Bandeng di Desa Gumeng ini mengingatkan kita pada sebuah kebenaran yang sering terlupakan: pembangunan desa tidak selalu membutuhkan teknologi tinggi, investasi besar, atau proyek berskala masif. Pembangunan yang bermakna justru dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang mengoptimalkan potensi lokal yang sudah dimiliki masyarakat itu sendiri.

Mie ikan bandeng bukan sekadar produk kuliner baru. Ia adalah simbol dari sebuah cara pandang bahwa kesejahteraan dapat dibangun dari bahan-bahan yang sudah ada di halaman rumah sendiri, asalkan diolah dengan kreativitas, ketekunan, dan kemauan untuk belajar hal baru. Ia adalah bukti bahwa persoalan gizi anak dapat diselesaikan bukan dengan program besar yang rumit, melainkan dengan sentuhan inovasi sederhana pada makanan sehari-hari. Ia juga menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan organisasi masyarakat seperti PKK dapat menghasilkan dampak yang jauh melampaui durasi program itu sendiri, asalkan keberlanjutannya terus dikawal bersama.

Saya percaya, jika semangat semacam ini terus dipupuk dan direplikasi di desa-desa lain yang memiliki potensi serupa, maka bukan tidak mungkin kita akan melihat lebih banyak desa pesisir yang mampu mengubah hasil tambaknya menjadi produk bernilai tinggi, sekaligus menjawab persoalan gizi masyarakatnya sendiri. Dari Desa Gumeng, kita belajar bahwa masa depan desa yang lebih sehat dan sejahtera sesungguhnya bisa dimulai dari sesuatu yang sesederhana semangkuk mie ikan bandeng.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|