Berri Brilliant Albar
Football | 2026-07-08 15:56:03
Bagi seorang pencinta sepak bola di Indonesia, Piala Dunia selalu datang membawa dilema emosional. Di satu sisi, turnamen ini adalah puncak dari segala kemeriahan industri hiburan olahraga global. Di sisi lain, turnamen ini adalah pengingat berkala yang kejam bahwa Tim Nasional Indonesia masih belum mampu menembus panggung tertinggi tersebut.
Sebagai bentuk pertahanan psikologis agar tidak menjadi penonton netral yang pasif, suporter domestik biasanya beralih ke strategi Identifikasi Tim Pengganti (Surrogate Team Identification). Mereka memilih satu raksasa dunia untuk didukung sepenuhnya. Bagi para penggemar berat Serie A Italia, mulai dari barisan loyalis AC Milan, Juventus, Inter Milan, hingga AS Roma, hingga klub-klub lainnya seperti Lazio atau Napoli, pilihan itu hampir pasti jatuh pada warna biru Gli Azzurri milik Tim Nasional Italia.
Namun, bagaimana jika strategi penyelamatan emosional itu justru berujung pada bencana yang sama? Ketika Indonesia absen, dan Italia secara tragis juga gagal lolos ke Piala Dunia, konsumen sepak bola di Indonesia harus menelan pil pahit bernama Kekecewaan Berlapis (Double Dissonance), sebuah fenomena dua kali patah hati yang memicu krisis identitas di depan layar kaca.
Image by manchester1024 from Pixabay
Ekosistem Serie A dan Efek Limpahan Merek (Brand Spillover)
Dalam teori pemasaran, keputusan orang Indonesia mendukung Italia berakar kuat dari konsep Efek Limpahan Merek (Brand Spillover Effect). Hubungan ini dibangun lewat konsumsi rutin pertandingan liga domestik setiap akhir pekan sejak era transisi televisi swasta di tahun 1990-an.
Keterikatan emosional konsumen terhadap klub-klub raksasa Serie A menjadi pintu gerbang utamanya:
Para Juventini melihat Juventus sebagai tulang punggung pertahanan kokoh Italia.
Para Milanisti dan Interisti terikat pada sejarah kejayaan dan rivalitas panas kota Milan yang melebur jadi satu saat mengenakan seragam biru.
Para Romanisti mengagumi kesetiaan dan nilai romantisme pangeran Roma yang selalu menjadi pembeda di tim nasional.
Begitu pula dengan pendukung klub Italia lainnya yang merasa sudah terbiasa dengan atmosfer sepak bola di sana.
Melalui konsumsi emosional terhadap klub favorit masing-masing, konsumen menjadi sangat akrab dengan gaya bermain, kultur, hingga jajaran pemain lokal di sana. Ketika Piala Dunia tiba, memilih mendukung Italia adalah kelanjutan logis dari investasi emosional yang sudah dirawat sepanjang tahun bersama klub kesayangan mereka. Italia dibeli sebagai "merek substitusi" yang premium untuk menggantikan absennya Timnas Indonesia. Namun, ketika merek substitusi ini ikut runtuh di fase kualifikasi, seluruh basis pendukung klub ini mendadak kehilangan jangkar emosionalnya di turnamen terbesar dunia.
Kehilangan Alasan untuk ikut Bersorak
Ketika seorang penggemar sepak bola mengalami dua kali kegagalan sekaligus, mereka masuk ke dalam situasi Krisis Identitas Penggemar (Fan Identity Crisis). Di dalam manajemen pemasaran olahraga, sepak bola dikonsumsi bukan sekadar untuk melihat fisik bola bergulir, melainkan untuk mengejar Katarsis Emosional dan perilaku BIRGing (Basking in Reflected Glory)—yaitu keinginan ikut merasa hebat dengan mengasosiasikan diri pada pemenang.
Tragedi dua kali patah hati ini menutup rapat semua jalur katarsis tersebut:
· Patah Hati Pertama (Nasionalisme): Hilangnya kesempatan untuk merayakan identitas bangsa sendiri di level dunia.
· Patah Hati Kedua (Substitusi): Hilangnya kesempatan untuk menikmati kemenangan kompetitif lewat tim elit yang dipinjam identitasnya dari kecintaan pada klub (Juventus, Inter, Milan, Roma, dan lainnya).
Akibatnya, nilai kepuasan konsumsi (consumer satisfaction) dari turnamen Piala Dunia tersebut merosot tajam bagi penggemar ini. Mereka berada di area pasar yang mengambang: ingin ikut berpesta, tetapi tidak memiliki bendera untuk dikibarkan.
Solusi Darurat Konsumen: Brand Switching Transaksional
Bagaimana konsumen yang patah hati dua kali ini bertahan di tengah gempuran euforia Piala Dunia? Ilmu perilaku konsumen mencatat bahwa manusia adalah makhluk yang sangat adaptif dalam memulihkan kondisi psikologisnya (psychological coping mechanism).
Agar tidak terkucilkan dari lingkaran sosial di tempat nonton bareng atau linimasa media sosial, suporter yang kehilangan dua identitasnya ini terpaksa melakukan Pergeseran Merek Darurat (Tactical Brand Switching). Mereka menurunkan ego dan komitmen emosional mereka ke titik terendah, lalu memilih tim generasi ketiga secara acak dan transaksional.
Mereka mungkin memilih mendukung tim kuda hitam yang sedang mengejutkan dunia, atau mendukung tim tertentu sekadar karena dihuni oleh pemain asing yang kebetulan bermain di klub Juventus, Inter, Milan, atau Roma kesayangan mereka. Dukungan ini tidak lagi didasari oleh loyalitas mendalam, melainkan sekadar "alat bertahan hidup" agar tetap bisa menikmati atmosfer hiburan pasar tanpa harus meratapi nasib sendirian.
Kesimpulan: Sisi Melankolis dari Globalisasi Pasar Olahraga
Pada akhirnya, kisah suporter Indonesia yang meratapi kegagalan Italia adalah bukti nyata betapa dalamnya penetrasi pemasaran olahraga global ke dalam relung emosi manusia. Jarak ribuan kilometer dan ketiadaan ikatan darah terhapus total oleh ikatan merek yang dibangun lewat layar gawai dan televisi.
Dua kali patah hati di ajang Piala Dunia mengajarkan kita bahwa dalam industri pengalaman, konsumen tidak selamanya mendapatkan apa yang mereka beli dengan emosi mereka. Namun, di balik kesedihan tanpa Indonesia dan Italia, kedewasaan konsumen diuji: untuk tetap mencintai permainan sepak bola apa adanya, merayakan kemenangan orang lain, sambil diam-diam merawat harapan bahwa suatu hari nanti, salah satu dari jersi kesayangan mereka akan kembali tegak berdiri di panggung dunia.
Referensi
Oliver, R. L. (1999). Whence consumer loyalty?. Journal of marketing, 63(4_suppl1), 33-44.
Ahluwalia, R., Unnava, H. R., & Burnkrant, R. E. (2001). The moderating role of commitment on the spillover effect of marketing communications. Journal of Marketing research, 38(4), 458-470.
Cialdini, R. B., Borden, R. J., Thorne, A., Walker, M. R., Freeman, S., & Sloan, L. R. (1976). Basking in reflected glory: Three (football) field studies. Journal of personality and social psychology, 34(3), 366.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

8 hours ago
5












































