Maba! Ini yang Kakak Tingkat tidak akan Kasih Tahu Kamu

2 hours ago 3

Image Salma Nurul Fadhilah

Pendidikan | 2026-07-03 08:22:00

Selamat, kamu sudah lolos seleksi. Orang tua sudah foto-foto di depan spanduk penerimaan. Grup keluarga besar sudah ramai ucapan selamat. Kamu sudah beli tas baru, sepatu baru, mungkin juga buku agenda yang akhirnya tidak pernah diisi. Dan sekarang kamu duduk di sini, siap memulai kehidupan kampus yang selama ini kamu bayangkan seperti di film-film Amerika.

Kabar baiknya, kampus memang seru. Kabar yang kurang enaknya semester pertama itu bisa sangat membingungkan kalau kamu tidak tahu medan. Dan kebanyakan kakak tingkat tidak akan cerita jujur karena mereka sibuk pura-pura sudah jago sejak awal.
Jadi biar kakak cerita yang sebenarnya.

Hal pertama yang perlu kamu terima adalah kenyataan bahwa kamu tidak akan langsung punya teman dekat. Ini normal. Banyak maba yang panik di minggu pertama karena semua orang terlihat sudah kenal satu sama lain, sudah punya geng, sudah tahu di mana kantin yang enak. Padahal kalau kamu perhatikan lebih dekat, mereka sama gugupnya dengan kamu. Mereka hanya lebih pandai pura-pura santai.Jangan terburu-buru mencari teman sebanyak-banyaknya di minggu pertama. Fokus saja pada orang-orang yang ada di sekitar kamu, teman satu kelas, satu kos, atau satu kelompok ospek. Pertemanan yang bertahan sampai wisuda biasanya dimulai dari hal-hal kecil, pinjam pulpen, numpang colokan, atau sama-sama tersesat mencari ruang kelas.

Soal ospek atau PKKMB, ikuti dengan sepenuh hati tapi jangan terlalu dramatis. Banyak maba yang overthinking soal ospek sampai tidak bisa tidur berminggu-minggu sebelumnya. Ospek zaman sekarang sudah jauh lebih manusiawi dari yang kamu bayangkan. Yang penting kamu datang tepat waktu, ikuti aturan yang ada, dan jangan sok tahu di depan senior padahal belum apa-apa.Tapi di luar ospek, ada satu momen yang justru lebih penting tapi sering dilewatkan yaitu sesi perkenalan informal. Momen makan siang bareng, nunggu bis kampus, atau duduk-duduk di depan gedung itu justru tempat pertemanan paling organik terbentuk. Jangan langsung kabur ke HP begitu ada jeda waktu kosong. Angkat kepala, lihat sekeliling, coba sapa orang di sebelah kamu.

Tentang dosen, pelajari karakternya lebih dulu sebelum sok dekat. Ada dosen yang senang mahasiswanya aktif bertanya, ada yang justru merasa terganggu kalau diskusi melebar ke mana-mana. Ada yang santai soal kehadiran, ada yang menghitung menit keterlambatan. Tahu perbedaan ini bukan berarti kamu oportunis, itu bagian dari kemampuan membaca situasi yang akan berguna sepanjang hidup kamu. Tanya kakak tingkat yang pernah ambil mata kuliahnya. Itu informasi paling berharga yang bisa kamu dapat di awal semester, jauh lebih berguna dari buku panduan akademik mana pun.

Tentang organisasi dan UKM, ikut. Tapi jangan ikut semua sekaligus. Ini kesalahan klasik maba. Minggu pertama semangat, daftar empat UKM sekaligus karena semua terlihat menarik di stand pameran. Bulan kedua mulai kewalahan. Bulan ketiga sudah tidak aktif di mana-mana tapi juga tidak enak mau mundur.

Pilih maksimal dua. Satu yang sesuai minat kamu, satu yang kamu pikir akan mengembangkan kemampuan yang belum kamu punya. Masuk sungguh-sungguh, hadir konsisten, dan buktikan diri. Jaringan terbaik di kampus tidak datang dari banyaknya kartu anggota organisasi yang kamu punya, tapi dari seberapa serius kamu terlibat di tempat kamu memilih masuk.

Satu hal yang jarang dibicarakan, jaga hubungan dengan orang rumah. Banyak mahasiswa yang begitu masuk kampus, apalagi yang merantau, tiba-tiba merasa harus jadi orang baru sepenuhnya. Tidak mau cerita ke orang tua, tidak mau minta saran, karena merasa sudah dewasa dan harus mandiri.Mandiri itu bagus. Tapi memutus komunikasi dengan rumah itu bukan tanda kedewasaan, itu tanda kamu sedang tidak baik-baik saja. Telepon orang tua. Cerita, bukan hanya kalau butuh uang. Mereka lebih banyak tahu soal hidup daripada yang kamu kira, meski mungkin tidak tahu apa itu SKS atau siapa dosen wali.

Paling penting, tapi suka di abaikan

Semester pertama itu berat untuk banyak orang. Homesick itu nyata. Merasa tidak cocok itu nyata. Melihat orang lain terlihat lebih mudah beradaptasi dan bertanya-tanya kenapa kamu tidak bisa begitu, itu juga nyata dan sangat umum.Kalau kamu sedang merasa tidak nyaman, tidak harus langsung curhat ke semua orang. Tapi jangan juga simpan sendiri sampai meledak. Cari satu orang yang bisa dipercaya, teman, kakak tingkat, atau konselor kampus yang kebanyakan universitas sudah sediakan. Minta tolong bukan tanda lemah. Itu tanda kamu cukup dewasa untuk tahu bahwa tidak semua hal harus diselesaikan sendirian.

Satu lagi, jangan bandingkan perjalananmu dengan orang lain. Temanmu yang sudah aktif di tiga organisasi dan nilainya bagus di bulan pertama tidak sedang balapan dengan kamu. Kampus bukan kompetisi siapa yang paling cepat menemukan jati diri. Ada yang butuh sebulan untuk nyaman, ada yang butuh setahun. Dua-duanya valid.Selamat menjalani semester pertama. Nikmati kebingungannya. Karena nanti, kalau sudah semester tua, justru masa-masa bingung itulah yang paling sering kamu rindukan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|