Konflik Timur Tengah Masih Panas, Iran Pulihkan Kilang Minyak dan Gas

5 hours ago 4

Konflik Timur Tengah Masih Panas, Iran Pulihkan Kilang Minyak dan Gas Ilustrasi Seorang pekerja minyak Iran sedang mengerjakan jalur pipa minyak di Pulau Kharg di Teluk Persia, Iran selatan, Selasa (23/2/2016). /ANTARA/Xinhua/Ahmad Halabisaz - aa.

Harianjogja.com, TEHERAN — Pemerintah Iran mulai mempercepat pemulihan sektor energi setelah sejumlah fasilitas minyak dan gas mengalami kerusakan akibat konflik militer dengan Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa bulan terakhir. Langkah tersebut dilakukan di tengah upaya menjaga stabilitas produksi energi nasional sekaligus meredam gejolak pasar minyak dunia.

Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, mengatakan prioritas utama pemerintah saat ini adalah memperbaiki infrastruktur energi yang terdampak serangan selama konflik berlangsung.

“Selama perang 40 hari, fasilitas minyak mengalami kerusakan dan serangan. Prioritas utama adalah memulihkannya secepat mungkin, dan hingga kini proses berjalan dengan baik,” ujar Paknejad kepada media pemerintah Iran.

Ladang Gas South Pars Ikut Terdampak

Selain fasilitas minyak, sektor gas alam Iran juga mengalami kerusakan cukup serius. Direktur Perusahaan Gas Nasional Iran, Saeed Tavakoli, menyebut sedikitnya empat stasiun pemrosesan gas di ladang South Pars terdampak selama konflik.

South Pars merupakan salah satu ladang gas terbesar di dunia dan menjadi tulang punggung produksi gas Iran. Kerusakan di kawasan tersebut sempat memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama ketika ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat tajam.

Konflik memanas setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu disebut menimbulkan korban sipil dan kerusakan pada berbagai fasilitas strategis. 

Gencatan Senjata Masih Rapuh

Washington dan Teheran sempat mengumumkan gencatan senjata pada 7 April 2026. Namun hingga kini, situasi dinilai masih belum stabil karena pembicaraan lanjutan belum menghasilkan kesepakatan permanen. 

Presiden AS Donald Trump bahkan sempat memperpanjang penghentian pertempuran guna memberi ruang bagi Iran menyusun proposal baru terkait penyelesaian konflik. Di sisi lain, operasi militer Amerika Serikat bertajuk “Project Freedom” juga masih menjadi sorotan internasional.

Operasi tersebut diluncurkan untuk membantu kapal-kapal komersial yang terjebak di Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan tersebut. 

Selat Hormuz Jadi Sorotan Dunia

Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian global karena jalur tersebut merupakan salah satu rute pengiriman minyak dan gas paling vital di dunia. Sekitar seperlima distribusi minyak dunia melewati kawasan itu setiap harinya. 

Gangguan pengiriman sempat membuat harga minyak mentah melonjak tajam dan memicu kekhawatiran krisis energi global. Meski begitu, harga minyak mulai turun setelah muncul sinyal kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat. 

Sejumlah analis energi memperkirakan pemulihan penuh distribusi minyak global tetap membutuhkan waktu karena perusahaan pelayaran dan asuransi masih berhati-hati terhadap situasi keamanan di Teluk Persia.

Sementara itu, Iran menegaskan fokus utama saat ini adalah memastikan fasilitas energi kembali beroperasi normal demi menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan geopolitik yang masih berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|