Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten Bantul terus berupaya menekan angka kenakalan remaja yang belakangan menjadi perhatian berbagai pihak. Meski berbagai program pencegahan telah dijalankan, Satpol PP Bantul menegaskan peran keluarga tetap menjadi kunci utama dalam menjaga anak-anak agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang berisiko.
Kepala Satpol PP Bantul, Raden Jati Bayubroto, mengatakan pemerintah daerah selama ini telah melakukan berbagai langkah preventif untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Upaya tersebut meliputi sosialisasi ke sekolah-sekolah, penyuluhan kepada masyarakat, hingga operasi minuman keras yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.
Namun, menurut dia, persoalan kenakalan remaja tidak bisa diselesaikan hanya melalui pendekatan penegakan aturan.
Faktor keluarga, lingkungan pergaulan, hingga perkembangan teknologi memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak dan remaja saat ini.
"Kalau kita pemerintah daerah melalui Satpol PP tentu sudah berupaya maksimal. Kita mulai dari sosialisasi-sosialisasi ke masyarakat, ke sekolah-sekolah, operasi-operasi miras tetap kita tingkatkan dan lain sebagainya. Tetapi memang masalah kenakalan remaja itu banyak hal, terutama kultur, budaya masyarakat, khususnya orang tua," kata Jati, Selasa (21/7/2026).
Banyak Kasus Terjadi Saat Anak Keluar Malam
Jati menilai pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak masih menjadi tantangan yang perlu diperkuat.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, banyak kasus yang melibatkan remaja terjadi ketika mereka berada di luar rumah hingga larut malam tanpa pengawasan yang memadai.
Menurutnya, orang tua perlu mengetahui aktivitas anak secara lebih detail, termasuk dengan siapa mereka bergaul, ke mana mereka pergi, dan kapan harus kembali ke rumah.
"Harapannya betul-betul anak-anak itu jangan dilepaskan apalagi malam hari. Sekarang kadangkala kita cermati banyak anak-anak yang lepas kontrol. Kejadian-kejadian juga sering terjadi larut malam karena pergaulannya kurang terpantau," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa rasa percaya kepada anak tetap penting, tetapi harus diimbangi dengan kontrol dan komunikasi yang baik dari keluarga.
Era Digital Jadi Tantangan Baru
Selain faktor pergaulan, perkembangan teknologi informasi juga menjadi tantangan tersendiri dalam pengawasan remaja.
Akses internet dan media sosial yang semakin luas membuat anak-anak dapat memperoleh berbagai informasi dengan mudah, baik yang berdampak positif maupun negatif.
Karena itu, Jati menilai pengawasan terhadap anak tidak cukup hanya dilakukan oleh aparat pemerintah atau kepolisian.
Keluarga dan masyarakat harus ikut terlibat aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi perkembangan remaja.
"Tentu ini tidak cukup kita serahkan baik keamanan dari kami Satpol PP maupun Kepolisian, tapi harus bersama-sama termasuk masyarakat," katanya.
Dukung Program Pelajar Pulang Sebelum Pukul 22.00 WIB
Satpol PP Bantul juga mendukung program Polres Bantul yang mengimbau para pelajar agar sudah berada di rumah sebelum pukul 22.00 WIB.
Menurut Jati, kebijakan tersebut bertujuan mengurangi potensi remaja terlibat aktivitas negatif pada malam hari.
Sebagai bentuk dukungan, petugas Satpol PP rutin melakukan patroli malam di sejumlah titik yang dianggap rawan, termasuk kawasan permukiman, ruang publik, dan lingkungan sekolah.
Melalui patroli tersebut, petugas berupaya memastikan situasi tetap kondusif sekaligus mengingatkan para remaja untuk tidak berkegiatan hingga larut malam tanpa tujuan yang jelas.
"Programnya dari Kepolisian kami juga ikut mensosialisasikan. Kami hampir setiap malam juga keliling, jam 10 baru pulang itu orang tua harus mencari. Jangan sampai percaya sepenuhnya kepada anak-anaknya. Jadi kalau setengah jam 10 itu harus betul-betul dikontrol ke mana, dengan siapa, itu orang tua harus tahu," tegasnya.
Peran Masyarakat Dinilai Penting
Selain keluarga, Satpol PP juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Warga diminta aktif melaporkan apabila menemukan aktivitas yang mencurigakan atau berpotensi melibatkan anak-anak dalam tindakan yang mengganggu ketertiban umum.
Menurut Jati, kolaborasi antara pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun lingkungan yang aman bagi generasi muda.
Dengan pengawasan yang lebih baik, diharapkan berbagai bentuk kenakalan remaja dapat ditekan sehingga anak-anak dan pelajar di Bantul dapat tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan positif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































