Kasus Campak Turun Tajam Kemenkes Tetap Waspada

4 hours ago 1

Kasus Campak Turun Tajam Kemenkes Tetap Waspada Foto ilustrasi campak. / Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Jumlah kasus campak di Indonesia menunjukkan penurunan signifikan hingga pekan ke-12 tahun 2026, meski kewaspadaan tetap ditekankan di tengah masih adanya temuan kasus berat.

Pada minggu ke-12, kasus campak tercatat sebanyak 146 kasus, turun dari 368 kasus pada minggu sebelumnya, serta jauh lebih rendah dibandingkan 2.220 kasus pada awal tahun.

Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menyebut penurunan ini mencapai sekitar 93 persen jika dibandingkan dengan minggu pertama 2026.

"Kalau kita lihat dari minggu pertama sampai minggu ke-12, terjadi penurunan kurang lebih 93 persen," ujarnya di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Meski tren menurun, pemantauan tetap dilakukan di sejumlah wilayah dengan kasus tinggi sepanjang 2025 hingga awal 2026.

Sebanyak 14 provinsi masuk kategori perhatian, di antaranya Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur.

Beberapa daerah seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat bahkan telah mencatatkan nol kasus, sementara wilayah lain juga menunjukkan penurunan.

Kementerian Kesehatan juga melakukan surveilans di 10 kabupaten/kota dengan kasus tertinggi, seperti Tangerang Selatan, Tangerang, Bima, Palembang, Pandeglang, Jakarta Barat, Depok, Palu, Serang, dan Jakarta Pusat.

Selain pengawasan, langkah vaksinasi dan penerbitan surat edaran juga dilakukan untuk melindungi tenaga kesehatan dari risiko penularan.

Di tengah penurunan kasus, perhatian juga tertuju pada satu kasus kematian tenaga kesehatan berusia 25 tahun di Cianjur, Jawa Barat.

Menurut Andi, tenaga kesehatan tersebut sempat menangani pasien campak sebelum akhirnya mengalami gejala seperti demam, flu, dan batuk pada 18 Maret.

Meski sempat meminta izin tidak bekerja, yang bersangkutan kembali berdinas selama tiga hari berturut-turut sebelum kondisinya memburuk.

Pada 25 Maret malam, ia dilarikan ke IGD rumah sakit di Cimacan dalam kondisi penurunan kesadaran.

Kondisinya sempat memburuk hingga dilakukan tindakan medis, namun akhirnya meninggal dunia dengan diagnosis campak disertai gangguan pada jantung dan otak.

Secara umum, kasus di Cianjur tergolong lebih rendah dibanding daerah lain dengan total 25 suspek dan sembilan kasus terkonfirmasi, serta tidak ada tambahan kasus baru pada minggu ke-12.

Kementerian Kesehatan menegaskan, tren penurunan tidak boleh membuat lengah, mengingat risiko penularan tetap ada.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|