Dr. H. Dana, M.E.
Agama | 2026-02-16 05:17:21
Setiap orang pernah menyimpan gambaran tentang masa depan yang dianggap ideal. Gambaran itu biasanya tumbuh ketika usia masih muda, tenaga masih kuat, harapan masih tinggi, dan masa depan terasa panjang membentang. Pada masa seperti itu, hidup terlihat begitu mungkin untuk disusun sesuai keinginan.
Ada yang bercita-cita memiliki rumah yang kelak menjadi tempat beristirahat di masa tua, rumah yang bukan hanya berdiri kokoh, tetapi dihuni orang-orang tercinta. Di sana ada orang tua yang tersenyum bangga, pasangan yang sehat mendampingi, serta tawa anak-anak yang mengisi setiap sudutnya. Ada pula yang menempuh jalan panjang demi meraih gelar setinggi mungkin untuk dipersembahkan kepada keluarga, atau bekerja tanpa lelah mengejar jabatan dan kondisi finansial yang stabil agar hidup terasa mapan, terhormat, dan tenteram.
Di dalam bayangan itu, semuanya tampak utuh dan saling melengkapi. Rumah bukan sekadar bangunan, melainkan ruang kehangatan. Gelar bukan sekadar prestasi, melainkan kebahagiaan yang dibagi. Jabatan bukan sekadar posisi, melainkan penegasan bahwa perjuangan tidak sia-sia. Masa tua pun terlukis damai, seakan menjadi puncak dari segala ikhtiar yang telah ditempuh.
Sebagian orang benar-benar berhasil mewujudkannya. Rumah yang dulu hanya ada dalam rencana akhirnya berdiri megah. Secara lahiriah tidak ada yang kurang. Namun ketika usia sampai pada masa pensiun dan hari-hari menjadi lebih lengang, gambaran yang dahulu begitu indah tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Orang tua satu per satu meninggal dunia. Saudara-saudara pun dipanggil menghadap-Nya. Anak-anak tumbuh dan membangun kehidupan mereka sendiri di tempat yang jauh. Rumah yang dahulu dirancang untuk ramai perlahan terasa terlalu luas untuk dihuni berdua, bahkan muncul keinginan untuk menjualnya karena tak lagi sesuai dengan keadaan.
Di titik itu terasa bahwa cita-cita yang dulu didambakan dan dikejar dengan tetesan keringat dan air mata ternyata tidak sepenuhnya menghadirkan kebahagiaan yang pernah dibayangkan. Membangun rumah besar tentu bukan sesuatu yang keliru. Namun kebahagiaan yang dahulu dianggap ideal ternyata dibentuk oleh harapan tentang kebersamaan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Di sinilah sering tersembunyi jebakan halus, cita-cita tentang kebahagiaan dunia tampak begitu meyakinkan dan sempurna dalam bayangan, tetapi ketika benar-benar terwujud, cita-cita itu tidak selalu menghadirkan keutuhan rasa seperti yang dijanjikan oleh angan-angan. Ketika kebersamaan itu dipaksa digeser oleh waktu, makna rumah dan kebahagiaan pun ikut bergeser.
Kondisi semacam ini menunjukkan bahwa manusia kerap menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal duniawi yang pada hakikatnya bersifat sementara, seperti relasi, jabatan, harta, kesehatan, reputasi sosial, dan dinamika keluarga. Keindahan dunia memang dapat tampak sangat ideal dalam satu fase kehidupan, tetapi tidak selalu menghadirkan rasa yang sama pada fase berikutnya. Al-Qur’an menyebut kehidupan dunia sebagai mata’ul ghurur, yakni kesenangan yang dapat memperdaya, serta mengingatkan bahwa apa yang ada di sisi manusia akan lenyap, sedangkan apa yang di sisi Allah bersifat kekal.
Peringatan ini bukan untuk menyalahkan orang yang bercita-cita meraih kebahagiaan dunia atau meremehkan arti keluarga, kerja keras, dan pencapaian. Semua itu tetap bernilai. Namun ada satu hal yang perlu disadari, yaitu keinginan meraih kebahagiaan di dunia jangan sampai lupa merencanakan kebahagiaan akhirat. Karena sejatinya kehidupan tidak berhenti pada apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi pada apa yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Oleh karena itu, yang perlu ditata bukan hanya rencana memiliki, melainkan rencana kembali. Setiap rumah pada akhirnya akan ditinggalkan, setiap jabatan akan dilepaskan, dan setiap pencapaian akan berhenti pada batas waktunya. Yang tersisa hanyalah nilai dari apa yang dikerjakan dan dari niat yang menyertainya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

8 hours ago
4














































