Asap mengepul di pusat kota Teheran setelah Israel kembali melancarkan serangan udara ke Iran, Ahad (1/3/2026). Operasi militer gabungan Israel dan AS berlanjut setelah sebelumnya menargetkan beberapa lokasi di seluruh Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebuah jajak pendapat terbaru dari Reuters/Ipsos menunjukkan hanya satu dari empat warga Amerika Serikat yang menyetujui serangan militer terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei. Temuan ini mencerminkan ketidaksetujuan publik yang cukup besar di AS terhadap kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Donald Trump.
Survei yang berakhir pada Ahad (1/3/2026) mencatat sekitar 27 persen responden menyatakan setuju dengan serangan tersebut, sementara 43 persen tidak setuju. Sesanya sebesar 29 persen menyatakan tidak yakin.
Sebagian besar peserta menyatakan telah mendengar setidaknya sedikit tentang serangan yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026) lalu.
Jajak pendapat ini juga mengungkap bahwa sekitar 56 persen warga Amerika berpandangan Presiden Trump terlalu cepat menggunakan kekuatan militer untuk memajukan kepentingan negara. Persepsi itu terutama kuat di kalangan Demokrat, di mana 87 persen responden memiliki pandangan tersebut, disusul 23 persen Republikan dan 60 persen independen.
Survei menyatakan, 55 persen Republikan menyetujui serangan, sementara 13 persen menentang. Namun, 42 persen dari yang setuju mengatakan dukungan mereka dapat berkurang jika konflik ini menyebabkan pasukan AS di Timur Tengah tewas atau terluka.
Serangan militer yang menewaskan Khamenei telah menimbulkan korban jiwa di pihak AS. Mahkamah militer mengumumkan tiga anggota angkatan bersenjata AS tewas dan lima lainnya luka serius sejak serangan ke Iran dimulai.
sumber : Reuters

1 hour ago
2

















































