Jumali Senin, 17 Agustus 2026 10:27 WIB
Harianjogja.com, JOGJA— Gelombang investasi langsung dari Jerman ke Amerika Serikat (AS) mencatatkan angka terburuk dalam tiga tahun terakhir. Total investasi perusahaan Jerman di Negeri Paman Sam pada semester I 2026 hanya mencapai €4,3 miliar (sekitar Rp70 triliun), anjlok hampir dua pertiga dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan perhitungan Institut Ekonomi Jerman (IW) yang mengacu pada data bank sentral Jerman (Bundesbank), angka tersebut merupakan yang terendah sejak 2023. Jika dibandingkan dengan semester I 2024, nilainya bahkan merosot hampir 80%.
Kebijakan Trump Picu Ketidakpastian
Penurunan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Peneliti IW Samina Sultan menyebut bahwa tren negatif telah berlangsung sejak awal masa jabatan kedua Donald Trump pada Januari 2025.
"Tren penurunan ini terus berlanjut sejak awal masa jabatan kedua Donald Trump pada Januari 2025," kata Sultan kepada Reuters.
Sejak kembali menjabat, Trump telah mengancam sebagian besar mitra dagang AS dengan pengenaan tarif impor untuk mendapatkan konsesi yang menguntungkan Washington. Pada Juli 2025, Trump dan Komisi Eropa menyepakati kesepakatan dagang yang mencakup komitmen investasi **US$600 miliar** dari Eropa ke AS serta pembelian energi AS senilai US$750 miliar.
Meski kesepakatan tersebut telah ditandatangani, ketidakpastian kebijakan perdagangan AS tetap membuat perusahaan Jerman enggan menggelontorkan modal baru.
Kontras dengan Era Pra-Pandemi
Angka €4,3 miliar pada semester I 2026 sangat kontras dengan rata-rata historis. Dalam lima tahun sebelum pandemi Covid-19, investasi perusahaan Jerman di AS pada periode semester I rata-rata mencapai €15,8 miliar—hampir empat kali lipat dibandingkan realisasi tahun ini.
Periode 2020-2023 sendiri disebut sebagai tahun yang tidak normal akibat pandemi, dengan beberapa tahun bahkan mencatatkan arus investasi bersih keluar dari AS.
Perusahaan Lama Masih Bertahan, Modal Baru Mandek
Analisis IW terhadap komposisi arus investasi sepanjang 2025 mengungkap gambaran yang lebih nuanced. Pinjaman investasi langsung dan laba yang diinvestasikan kembali berada pada tingkat yang sangat tinggi, sementara modal ekuitas dalam pengertian yang lebih sempit—selisih antara investasi baru dan likuidasi—masih berada di bawah rata-rata.
"Perusahaan yang telah beroperasi di Amerika Serikat masih terus menginvestasikan kembali keuntungan yang mereka peroleh di negara tersebut," kata Sultan.
"Hal ini menunjukkan bahwa AS secara keseluruhan masih menjadi pasar yang menarik," lanjutnya.
Namun, Sultan juga menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan Jerman cenderung lebih berhati-hati untuk menggelontorkan modal baru di AS. Keraguan untuk berkomitmen terhadap investasi baru mencerminkan ketidakpastian yang masih menyelimuti arah kebijakan perdagangan AS di masa depan.
Dampak bagi Hubungan Ekonomi Transatlantik
Penurunan investasi Jerman ke AS menjadi sinyal penting bagi hubungan ekonomi kedua negara. Selama ini, AS dan Jerman memiliki hubungan ekonomi yang erat, dengan investasi Jerman di AS menopang ratusan ribu lapangan pekerjaan di sektor manufaktur, otomotif, dan teknologi.
Meskipun perusahaan-perusahaan Jerman yang sudah mapan di AS masih bertahan dengan menginvestasikan kembali keuntungan mereka, lesunya investasi baru mengindikasikan bahwa iklim investasi di AS—setidaknya bagi investor Jerman—sedang menghadapi ujian berat.
Apakah tren ini akan berlanjut ke paruh kedua 2026, sangat bergantung pada arah kebijakan perdagangan AS dan seberapa besar kepastian yang dapat diberikan pemerintahan Trump kepada para mitra dagangnya. Namun, satu hal yang pasti: angka €4,3 miliar akan menjadi catatan sejarah yang sulit dilupakan bagi hubungan ekonomi transatlantik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































