Kenapa Upacara Penurunan Bendera Digelar Sore Hari? Ini Sejarahnya

2 hours ago 6

Kenapa Upacara Penurunan Bendera Digelar Sore Hari? Ini Sejarahnya

Sejarah upacara penurunan bendera 17 Agustus bermula di Gedung Agung Jogja pada 1946 dan berkembang menjadi tradisi kenegaraan hingga kini. /Harian Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA— Upacara penurunan Bendera Sang Saka Merah Putih setiap 17 Agustus bukan sekadar rangkaian penutup peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Prosesi yang digelar pada sore hari itu memiliki sejarah panjang, mulai dari cikal bakalnya di Gedung Agung Jogja pada 1946, perkembangan formasi Paskibraka, hingga ritual penyerahan kembali bendera kepada Presiden Republik Indonesia.

Penurunan bendera dirancang memiliki makna simbolis yang setara dengan upacara pengibaran yang berlangsung pada pagi hari. Waktu pelaksanaannya juga tidak ditentukan secara sembarangan, melainkan sejak awal dirancang pada sore hari menjelang matahari terbenam.

Cikal Bakal Penurunan Bendera di Gedung Agung Jogja

Sejarah upacara penurunan bendera 17 Agustus bermula ketika ibu kota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta akibat agresi militer. Menjelang peringatan HUT ke-1 RI, Presiden Soekarno memerintahkan ajudannya, Mayor Husein Mutahar, menyiapkan upacara di halaman Gedung Agung Yogyakarta pada 17 Agustus 1946.

Mutahar kemudian merancang konsep pengibaran dan penurunan bendera pusaka dengan melibatkan para pemuda dari berbagai daerah. Saat itu, lima orang pemuda, terdiri atas tiga putri dan dua putra, ditunjuk untuk mewakili daerah-daerah yang sedang berada di Yogyakarta.

Sejak perancangan awal tersebut, prosesi penurunan bendera ditempatkan pada sore hari menjelang matahari terbenam, sekitar pukul 17.00 WIB. Penentuan waktu itu berkaitan dengan etika protokol internasional dan hukum bendera nasional.

Bendera Negara tidak boleh dibiarkan berkibar di tempat terbuka pada malam hari tanpa pencahayaan khusus. Karena itu, penurunan menjelang malam menjadi bagian dari tata upacara yang dirancang sejak awal.

Formasi Paskibraka Berkembang pada 1967

Tradisi tersebut kemudian berkembang setelah pusat pemerintahan kembali ke Jakarta dan Indonesia memasuki masa Orde Baru. Pada 1967, Presiden Soeharto meminta Husein Mutahar memperbarui tata upacara di Istana Merdeka Jakarta.

Mutahar merancang formasi khusus dengan menggunakan angka keramat proklamasi, yakni 17-8-45. Formasi tersebut kemudian menjadi bagian dari perkembangan tata upacara pengibaran dan penurunan Bendera Pusaka.

Karena tugas pengibaran dan penurunan membutuhkan kesiapan fisik serta mental, petugas kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Pembagian itu melahirkan Tim Pengibar yang bertugas pada pagi hari dalam Upacara Detik-Detik Proklamasi dan Tim Penurun yang bertugas dalam upacara sore hari.

Kedua kelompok tersebut bertukar peran setiap tahunnya. Dengan demikian, tugas Paskibraka tidak hanya berkaitan dengan pengibaran bendera pada pagi hari, tetapi juga prosesi penurunan pada sore hari.

Istilah Paskibraka atau Pasukan Pengibar Bendera Pusaka kemudian secara resmi dipopulerkan oleh Idik Sulaeman pada 1973. Istilah tersebut mencakup seluruh elemen pemuda yang bertugas dalam prosesi pengibaran maupun penurunan bendera.

Ritual Penurunan Bendera

Salah satu bagian penting dalam upacara penurunan Bendera Merah Putih adalah prosesi serah terima bendera. Ritual tersebut berlangsung ketika pembawa baki menerima bendera yang telah dilipat dari petugas penurun.

Setelah menerima bendera, pembawa baki melangkah menuju mimbar kehormatan untuk menyerahkannya secara langsung kepada Presiden Republik Indonesia yang bertindak sebagai Inspektur Upacara.

Prosesi tersebut menjadi salah satu bagian utama dalam penutupan upacara. Setelah diterima Presiden, bendera kemudian diletakkan di dalam mimbar khusus sebelum nantinya disimpan kembali di Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional (Monas) bersama naskah asli Proklamasi.

Dari Upacara Kenegaraan Menjadi Pesta Rakyat

Seiring perkembangan waktu, prosesi penurunan bendera pada sore hari tidak hanya dipertahankan sebagai upacara formal. Sejak era 1980-an hingga kini, rangkaian kegiatan sore di halaman Istana Merdeka juga berkembang dengan nuansa hiburan rakyat.

Sebelum upacara penurunan dimulai, masyarakat dapat menyaksikan berbagai pertunjukan. Rangkaian tersebut mencakup musik tradisional, atraksi pertunjukan udara atau flypast TNI AU, serta tarian kolosal dari berbagai daerah.

Perpaduan antara ritual kenegaraan dan pertunjukan seni membuat rangkaian sore 17 Agustus memiliki karakter tersendiri. Upacara tetap menjadi inti kegiatan, sementara pertunjukan rakyat menjadi bagian yang memperkaya suasana peringatan kemerdekaan.

Hingga kini, upacara penurunan Bendera Sang Saka Merah Putih tetap dipertahankan sebagai penutup resmi seluruh rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|