Sinau Sejarah, Mengulik Peran Jogja di Balik Kemerdekaan Indonesia

2 hours ago 6

Sinau Sejarah, Mengulik Peran Jogja di Balik Kemerdekaan Indonesia

Caption: Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY Ariyanti Luhur Tri Setyarini (tengah), Ketua Sekber Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra (kedua dari kiri), Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) DIY Agus Tony Widodo (kedua dari kanan), dan Sejarawan UGM Baha Uddin (pertama dari kanan) dalam kegiatan Sinau Sejarah di YouTube Channel Paniradya Kaistimewan, Senin (17/8/2026). (Tangkapan layar YouTube Paniradya Kaistimewan)

JOGJA—Peran Jogja dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia penting dipahami generasi muda, bukan sekadar sebagai bagian dari masa lalu, tetapi juga sebagai fondasi untuk memahami sejarah bangsa dan keistimewaan DIY hingga saat ini. Karena itu, generasi muda didorong mengenali sejarah yang ada di sekitarnya.

Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY, Ariyanti Luhur Tri Setyarini, mengatakan upaya mengenalkan sejarah Jogja dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk menguri-uri nilai dan keteladanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Ia mencontohkan penggunaan pakaian Pramuka. Menurutnya, Sri Sultan HB IX merupakan Bapak Pramuka Indonesia sehingga mengenakan pakaian Pramuka menjadi salah satu cara untuk terus menguri-uri nilai perjuangan dan kecintaan terhadap Jogja.

“Penggunaan pakaian Pramuka, Sri Sultan HB IX merupakan Bapak Pramuka Indonesia. Itu cara menguri-uri yang kesekian, untuk mencintai Jogja,” ujarnya dalam kegiatan Sinau Sejarah bertema “Di Balik Kemerdekaan Indonesia: Peran Yogyakarta yang Perlu Diketahui Generasi Muda” di YouTube Channel Paniradya Kaistimewan, Senin (17/8/2026).

Menurut Ariyanti, semangat perjuangan Sri Sultan HB IX juga diteruskan melalui regulasi yang menjadi bagian dari upaya menjaga keistimewaan DIY. Ia menjelaskan, fondasi keistimewaan Jogja tidak terlepas dari sejarah Keraton Jogja yang sejak dahulu memiliki wilayah dan dikenal di berbagai daerah.

Dalam konteks tersebut, Paniradya Kaistimewan DIY berperan mengawal koordinasi pemerintahan daerah agar urusan keistimewaan dapat berjalan dengan baik.

Sementara itu, Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra, menilai nilai-nilai perjuangan yang ditorehkan para pendahulu masih relevan untuk dipelajari generasi muda.

“Saya kira masih sangat relevan. Anak-anak perlu menjelajah sekitar untuk memahami sejarah sekitarnya,” katanya.

Ia mengibaratkan sejarah seperti kartu keluarga. Dalam kartu keluarga terdapat nama anak dan orang tua yang menunjukkan asal-usul sebuah keluarga. Begitu pula sejarah yang menjadi pintu masuk untuk memahami asal-usul perjalanan Indonesia dan kaitannya dengan Jogja.

“Sejarah itu ibarat kartu keluarga. Di kartu keluarga ada nama anak dan orang tua. Sejarah asal-usul Indonesia terkait Jogja, bahwa sejarah asal-usul menjadi jembatan mempelajari sejarah,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) DIY, Agus Tony Widodo, mengatakan pembelajaran sejarah perlu mendorong kemampuan historical thinking dan critical thinking.

Menurutnya, salah satu metode pembelajaran sejarah adalah mengaitkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Dengan cara tersebut, siswa tidak hanya menghafalkan tanggal dan tokoh, tetapi juga memahami konteks dan nilai yang terkandung dalam sebuah peristiwa sejarah.

Ia mencontohkan momentum 17 Agustus 1945. Menurutnya, generasi muda perlu diajak mempelajari semangat para tokoh yang berada di balik peristiwa kemerdekaan.

“Ketika peristiwa 17 Agustus 1945, kita bagaimana harus mempelajari spirit tokoh. Sejarah kontekstual harus segera disampaikan, harus out of the box,” katanya.

Sementara itu, Sejarawan UGM, Baha Uddin, menilai konteks sejarah Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran Jogja. Sejumlah tonggak pergerakan nasional juga berlangsung di wilayah tersebut.

Ia menyebut Kongres Budi Utomo dan Jong Java pernah diselenggarakan di Jogja. Selain itu, Muhammadiyah dan Taman Siswa juga berkembang serta menyelenggarakan berbagai kegiatan penting di Jogja. Kongres Perempuan juga pernah digelar di kota ini.

Menurut Baha, kontribusi Jogja terhadap Indonesia semakin terlihat setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Saat proklamasi berlangsung di Jakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII segera mengirim telegram ucapan selamat kepada Soekarno sebagai pemimpin bangsa yang baru.

“Ini jadi kontribusi penting Jogja sampai titik ini,” ujarnya.

Baha menjelaskan dukungan Jogja terhadap Republik Indonesia kemudian diperkuat melalui amanat Sri Sultan HB IX dan Paku Alam VIII pada 5 September 1945. Keduanya menyatakan wilayah Kesultanan dan Kadipaten Pakualaman menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurutnya, dukungan tersebut menjadi modal penting bagi keberadaan Republik Indonesia yang saat itu masih menghadapi berbagai tantangan. Jogja memiliki dukungan dari pemerintah, rakyat, dan daerah yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan penting dalam perjalanan pemerintahan Indonesia.

Baha bahkan menyebut peran Jogja tidak hanya dalam konteks awal kemerdekaan, tetapi juga dalam membesarkan Indonesia.

“Kalau Indonesia dilahirkan di Jakarta karena ada proklamasi, tapi Indonesia dibesarkan di Jogja,” katanya.

Menurutnya, rangkaian peristiwa setelah proklamasi menunjukkan bagaimana Jogja memberikan ruang dan dukungan bagi Republik Indonesia yang baru berdiri. Hal tersebut menjadi bagian penting dari sejarah yang perlu diketahui generasi muda agar memahami bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari satu peristiwa, tetapi melalui rangkaian perjuangan dan dukungan dari berbagai daerah, termasuk Jogja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|