Jakarta, CNBC Indonesia - Chairman Indonesia Mining Institute Irwandy Arif mengatakan industri pertambangan tengah menghadapi banyak tekanan dari sisi global dan dalam negeri. Dari sisi global, perjanjian Indonesia dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait mineral kritis, kemudian kewajiban pasokan nikel yang harus memenuhi standar lingkungan tertentu jika ingin masuk ke benua biru.
"Kemudian ada juga siklus harga yang menurun untuk beberapa komoditas. Dari dalam negeri, kebijakan yang tiba-tiba dan mendadak, membuat kenaikan biaya operasional. Kemungkinan dengan adanya perang antara Iran, AS, dan Israel, kemungkinan akan naik lagi," ungkap Irwandy dalam CNBC Indonesia Mining Forum 2026, Jumat (6/3/2026).
Hal-hal ini membuat industri pertambangan mengalami tekanan pendek dari kondisi global. Jika kebijakan saat ini didasarkan pada penguatan struktural dan transparan, maka Indonesia akan menuju momentum konsolidasi. Namun, jika yang terjadi sebaliknya maka industri pertambangan menuju krisis.
Sementara keputusan pemangkasan RKAB menurutnya bersifat strategis untuk menjaga cadangan berkelanjutan dan mengendalikan laju ekstrasi. Meski demikian, Irwandy menegaskan kebijakan ini perlu transparansi dan kehadiran negara, untuk perusahaan nikel dan batu bara tanpa perbedaan.
"Tetapi batu bara berbeda dengan nikel, masalah batu bara ini lebih ke stabilitas siklus harga dan pendapatan negara. jadi kebijakan dapat berbasis jangka panjang bila memenuhi persyaratan tadi, tidak mendadak, adil dan transparan," ungkapnya.
(rah/rah)
Addsource on Google

















































