Ilusi Kemenangan Benteng Beaufort dan Jebakan Hizbullah, Tentara Israel Bertumbangan 48 Jam Terakhir

2 weeks ago 23

Kendaraan militer Israel bermanuver di sisi perbatasan Lebanon, terlihat dari Galilea Atas di Israel utara, 29 April 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT— Pada pagi hari 31 Mei lalu, militer Israel mengumumkan telah menguasai Benteng Shuqif (Beaufort) di Lebanon selatan.

Mesin propaganda dan media Israel kemudian mempromosikan keberhasilan tersebut sebagai pencapaian militer yang istimewa dan bernilai strategis.

Namun, dalam waktu kurang dari 48 jam, data lapangan dan perkembangan pertempuran justru menunjukkan hal yang berbeda.

Benteng bersejarah itu beserta wilayah sekitarnya berubah menjadi sebuah perangkap yang menguras kekuatan pasukan Israel, sementara kemajuan teknologi pesawat nirawak (drone) berhasil menghilangkan nilai strategis keunggulan geografis yang selama ini dianggap penting.

Data kerugian yang dialami Israel menunjukkan tren peningkatan sejak 17 April lalu, ketika kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah mulai berlaku.

Sejak saat itu, tentara Israel kehilangan 14 prajurit dan perwira. Mei menjadi periode paling berat dengan tercatat delapan tentara tewas.

Situasi semakin memanas pada 1 Juni ketika dua tentara Israel tewas dalam satu hari, angka tertinggi sejak dimulainya gencatan senjata.

Menurut data resmi, pertempuran di Benteng Shuqif dan sekitarnya antara 31 Mei hingga 1 Juni mengakibatkan tewasnya tiga personel militer Israel, yaitu Kapten Dokter Uri Yosef Silvester, Sersan Mayor Adam Tsarfati, dan Sersan Mayor Mikhail Tyukin. Selain itu, terdapat 14 korban luka, termasuk empat orang yang mengalami luka berat.

Menurut Aljazeera, Kamis (4/6/2026), analisis terhadap operasi militer Hizbullah selama periode yang sama memberikan gambaran lebih jelas mengenai intensitas serangan di kawasan tersebut.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|