Intai Usia 30-an, Kenali Fatty Liver Si Pembunuh Diam-Diam dan Cara Mencegahnya

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus perlemakan hati atau fatty liver semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda, terutama usia 30-an tahun. Dokter sekaligus dosen di IPB University, dr Widya Khairunnisa Sarkowi, mengatakan fatty liver terjadi akibat penumpukan lemak di hati yang berkaitan dengan gangguan metabolisme tubuh.

Menurutnya, penyakit ini sering dijuluki sebagai silent killer karena berkembang secara perlahan tanpa menunjukkan tanda-tanda klinis yang jelas dan dapat berujung pada kerusakan hati permanen. "Banyak orang merasa sehat, tetapi saat diperiksa melalui USG (ultrasonografi) atau tes enzim hati, sudah ditemukan perlemakan hati. Individu dengan obesitas, diabetes melitus, maupun gangguan metabolik lainnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami fatty liver," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (19/6/2026).

Secara global, prevalensi fatty liver diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dan terus meningkat. Sementara itu, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada orang dewasa meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023. Adapun prevalensi obesitas sentral pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 36,8 persen.

Menurut dr Widya, tingginya angka tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya masalah metabolik di masyarakat, seperti obesitas, obesitas sentral atau perut buncit, diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, pola makan tinggi gula dan kalori, serta kurangnya aktivitas fisik. Meski begitu, ia menyebutkan bahwa fatty liver tidak hanya menyerang orang dengan berat badan berlebih. Orang dengan berat badan normal tetap dapat mengalami perlemakan hati apabila memiliki perut buncit, resistensi insulin, diabetes, pola makan tinggi gula, atau kurang aktivitas fisik.

Dokter Widya mengatakan, fatty liver bukan sekadar masalah pada organ hati, melainkan penanda adanya gangguan metabolik di seluruh tubuh. Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur solusi instan seperti suplemen, produk detoks, atau herbal yang diklaim dapat "membersihkan hati".

"Penggunaan obat-obatan saja tidak cukup tanpa diiringi perubahan pola hidup yang sehat, Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah dan mengatasi fatty liver," kata dia.

Sebagai langkah pencegahan, dr Widya menyampaikan lima pesan edukasi penting yang sejalan dengan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pertama, menurunkan berat badan secara bertahap. Penurunan berat badan sekitar 5-10 persen diketahui dapat mengurangi lemak hati, peradangan, dan risiko fibrosis.

Kedua, mengurangi konsumsi minuman manis seperti teh manis, kopi susu dengan gula tinggi, minuman boba, soda, minuman kemasan, dan sirup yang menjadi sumber gula cair dengan kalori tinggi. "WHO menganjurkan konsumsi gula bebas kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian, bahkan idealnya di bawah 5 persen," kata dia.

Ketiga, menerapkan pola makan seimbang dengan komposisi setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat protein, serta seperempat karbohidrat. Masyarakat juga disarankan membatasi makanan ultraproses, gorengan, makanan manis, dan camilan tinggi kalori.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|