USS Abraham Lincoln Tertekan Setelah 260 Hari, Komandan CENTCOM Datang, Iran Belum Tumbang

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hampir sembilan bulan berada dalam pengerahan, lebih dari 200 hari tanpa singgah di pelabuhan, dan ribuan penerbangan pesawat tempur mulai membebani awak USS Abraham Lincoln. Kapal induk Amerika Serikat (AS) itu kini menjadi salah satu gambaran paling nyata mengenai panjangnya perang melawan Iran yang belum juga menemukan jalan keluar.

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper bahkan turun langsung mengunjungi kapal induk tersebut di Laut Arab dalam rangkaian perjalanan ke Timur Tengah yang berakhir pada Sabtu (15/8/2026). Kunjungan itu berlangsung ketika kekhawatiran mengenai kesehatan mental, kondisi hidup, dan ketahanan sekitar 5.000 pelaut serta Marinir di USS Abraham Lincoln semakin mendapat sorotan.

Cooper membela kondisi awak dan memuji ketangguhan mereka. Ia mengatakan USS Abraham Lincoln memiliki jumlah kasus terkait kesehatan mental yang dilaporkan paling rendah di antara 11 kapal induk aktif Angkatan Laut AS, sembari mengakui penugasan panjang di laut merupakan pekerjaan yang berat, sebagaimana diberitakan sejumlah media di Amerika pada Sabtu (17/8/2026).

Namun, di darat, keluarga sejumlah awak menyampaikan cerita yang jauh lebih mencemaskan. Media militer Navy Times dan Stars and Stripes melaporkan penurunan moral dan dugaan percobaan sejumlah pelaut untuk melompat dari kapal di tengah pengerahan yang terus diperpanjang.

Angkatan Laut AS membantah telah terjadi peningkatan suicidal ideation atau keinginan bunuh diri maupun percobaan bunuh diri di atas kapal. Navy tidak membuka data rinci dengan alasan keamanan operasional dan kerahasiaan pasien.

Satu peristiwa telah dikonfirmasi: seorang pelaut jatuh ke laut pada awal Agustus dan kemudian berhasil ditemukan dengan cepat. Awak tersebut mendapat penanganan dari bagian medis USS Abraham Lincoln sebelum dipindahkan dari kapal untuk perawatan lanjutan, tetapi pejabat Navy tidak menyatakan apakah peristiwa itu merupakan percobaan bunuh diri.

Karena itu, istilah “burnout” terhadap seluruh awak perlu digunakan secara hati-hati. Yang dapat dipastikan dari keterangan resmi dan laporan keluarga adalah adanya tekanan psikologis, kelelahan akibat pengerahan panjang, persoalan moral, serta kekhawatiran mengenai kondisi kehidupan di kapal.

Lebih dari 240 Hari tak Menginjak Pelabuhan

USS Abraham Lincoln meninggalkan pangkalannya di San Diego pada 21 November 2025 untuk sebuah pengerahan yang mulanya menuju kawasan Pasifik. Kapal kemudian dialihkan ke Timur Tengah dan tiba pada Januari 2026, beberapa pekan sebelum AS bersama Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari.

Kapal tersebut semula dijadwalkan kembali ke Amerika Serikat pada Mei 2026. Perang membuat rencana itu berubah dan pengerahannya akhirnya melampaui 260 hari, dengan lebih dari 240 hari dijalani terus-menerus di laut.

Bahkan, USS Abraham Lincoln tercatat tidak melakukan kunjungan pelabuhan selama lebih dari 200 hari. Senator AS Richard Blumenthal menyebut keadaan itu sebagai rekor modern untuk jumlah hari berturut-turut di laut.

Pengerahan kapal perang AS memang lazim berlangsung antara enam hingga sembilan bulan dan dapat diperpanjang pada masa konflik. Persoalan USS Abraham Lincoln bukan hanya panjangnya pengerahan, tetapi juga intensitas operasi perang yang harus dijalankan awaknya selama periode tersebut.

CENTCOM menyebut kelompok tempur USS Abraham Lincoln telah menjalani lebih dari 10.000 penerbangan pesawat selama pengerahan tersebut. Kapal juga telah menggunakan sekitar 1,5 juta pon persenjataan, atau sekitar 680 ton.

Angka 10.000 itu tidak berarti seluruh penerbangan merupakan serangan terhadap Iran. Istilah yang digunakan CENTCOM adalah aircraft flights, yang mencakup berbagai penerbangan untuk operasi tempur, patroli, pengawasan, dukungan, latihan maupun fungsi penerbangan lainnya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|