Harianjogja.com, JAKARTA— Lonjakan harga minyak dunia hingga menembus lebih dari US$100 per barel tidak serta-merta membuat semua negara menaikkan harga BBM subsidi. Indonesia termasuk negara yang memilih mempertahankan harga BBM subsidi, di tengah tekanan akibat konflik global yang memicu kenaikan harga minyak.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya memastikan harga BBM bersubsidi di Indonesia tidak akan naik hingga 31 Desember 2026. Kebijakan tersebut tetap berlaku meski harga minyak dunia melambung akibat gejolak global, terutama perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Bahlil menjelaskan kebutuhan BBM Indonesia secara keseluruhan mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, rata-rata lifting minyak dan gas bumi nasional baru berada di level 600.000 barel per hari.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia masih harus memenuhi sekitar 1 juta barel per hari melalui impor. Sekitar 20% sampai 30% kebutuhan impor tersebut harus melewati Selat Hormuz yang sedang ditutup oleh Iran imbas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke negara tersebut.
Indonesia Cari Pasokan Alternatif
Untuk mengatasi persoalan pasokan tersebut, pemerintah mencari sumber minyak dari negara lain. Salah satunya adalah Rusia yang disebut menjadi salah satu alternatif pasokan untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mempertahankan stabilitas harga BBM.
Kebijakan mempertahankan harga BBM tersebut juga berlangsung ketika beban subsidi dan kompensasi energi meningkat. Pada semester I/2026, realisasi subsidi dan kompensasi mencapai Rp233 triliun atau 52,1% dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Angka tersebut terdiri atas realisasi subsidi sebesar Rp116 triliun dan kompensasi senilai Rp116,9 triliun.
Mantan Menteri Keuangan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, saat masih menjabat, mengatakan besarnya anggaran tersebut tidak berarti pemborosan. Menurutnya, subsidi dapat membantu pemerintah mengendalikan inflasi sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
"Untuk subsidi BBM aja kita keluarkan Rp500 triliun lebih," bebernya dalam dalam acara Sarasehan 100 Ekonom di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Malaysia Ikut Menahan Harga BBM Subsidi
Indonesia bukan satu-satunya negara yang memilih mempertahankan harga BBM subsidi ketika harga energi global mengalami tekanan. Malaysia juga menerapkan kebijakan serupa melalui skema subsidi untuk masyarakat yang memenuhi persyaratan.
Mengutip keterangan resmi Kementerian Keuangan Malaysia pada 2 September 2026, harga RON95 tanpa subsidi ditetapkan sebesar 3,77 ringgit Malaysia per liter atau sekitar Rp16.500 per liter.
Namun, masyarakat yang memenuhi syarat subsidi hanya membayar 1,99 ringgit Malaysia atau sekitar Rp8.700 per liter. Dengan demikian, pemerintah menanggung subsidi sebesar RM1,78 per liter atau sekitar Rp7.800 per liter.
Skema serupa juga berlaku untuk penerima subsidi BUDI Diesel. Penerima subsidi tersebut hanya membayar 2,10 ringgit Malaysia per liter atau sekitar Rp9.200 per liter, sedangkan harga tanpa subsidi mencapai sekitar 4,67 ringgit Malaysia atau sekitar Rp20.500 per liter.
Jepang Pertahankan Harga Bensin
Jepang juga mengambil langkah untuk menahan harga BBM melalui subsidi. Pemerintah Jepang memberikan subsidi lewat mitigasi darurat untuk menahan harga bensin sekitar 170 yen atau sekitar Rp18.000 per liter secara rata-rata nasional sejak 19 Maret 2026.
Berdasarkan keterangan pers dari Prime Minister Office of Japan pada 25 Agustus 2026, pemerintah Jepang terus mempertahankan harga BBM di kisaran serupa.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak dunia tidak selalu langsung diteruskan kepada konsumen. Pemerintah dapat menggunakan skema subsidi atau mitigasi untuk menjaga harga BBM pada tingkat tertentu.
Thailand Kurangi Subsidi BBM
Berbeda dengan Indonesia, Malaysia, dan Jepang, sejumlah negara memilih mengurangi subsidi BBM ketika tekanan harga minyak dunia semakin besar. Salah satunya adalah Thailand.
Pada Maret 2026, Thailand mengumumkan bahwa Oil Fuel Fund yang berkaitan dengan anggaran untuk mensubsidi harga BBM nasional resmi mengurangi subsidi BBM. Kebijakan tersebut menyebabkan kenaikan 6 baht Thailand per liter untuk seluruh jenis bahan bakar.
Langkah Thailand menunjukkan pilihan kebijakan yang berbeda dalam menghadapi tekanan harga energi. Ketika ruang fiskal semakin tertekan, pengurangan subsidi menjadi salah satu pilihan yang ditempuh pemerintah.
Pakistan Naikkan Harga BBM
Pakistan juga menerapkan kebijakan berbeda meski memiliki skema subsidi BBM. Pemerintah Pakistan menaikkan harga BBM pada April 2026.
Mengutip Radio Pakistan, pemerintah menaikkan harga bensin menjadi 458,40 rupee Pakistan atau sekitar Rp29.300 per liter. Sementara itu, harga diesel ditetapkan menjadi 520,35 rupee Pakistan atau sekitar Rp33.330 per liter.
Pemerintah menjelaskan kenaikan tersebut dilakukan karena harga minyak internasional melonjak akibat perang di Timur Tengah.
Dengan demikian, kebijakan menghadapi lonjakan harga minyak dunia berbeda di setiap negara. Indonesia, Malaysia, dan Jepang memilih mempertahankan harga BBM melalui mekanisme subsidi atau mitigasi, sementara Thailand dan Pakistan mengambil langkah menaikkan harga BBM di tengah tekanan harga minyak internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
















































