Harga Cabai Gunungkidul Turun Saat Puasa, Ayam Masih Rp40.000 per Kg

2 hours ago 1

Harga Cabai Gunungkidul Turun Saat Puasa, Ayam Masih Rp40.000 per Kg Foto ilustrasi penjual cabai keriting. / Antara

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Harga cabai di Gunungkidul mulai turun memasuki pertengahan Ramadan setelah pasokan di pasar tradisional kembali lancar. Meski demikian, sejumlah komoditas pangan lain seperti daging ayam potong masih bertahan di harga tinggi di tengah meningkatnya permintaan menjelang Lebaran.

Penurunan harga cabai di Gunungkidul terlihat pada komoditas cabai rawit merah yang sebelumnya dijual sekitar Rp100.000 per kilogram dan kini turun menjadi sekitar Rp90.000 per kilogram di pasar tradisional wilayah tersebut.

“Mulai turun, meski harganya masih mahal,” kata Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan Gunungkidul, Ris Heryani, Senin (9/3/2026).

Menurut Ris Heryani, turunnya harga cabai di Gunungkidul tidak lepas dari mulai lancarnya pasokan di pasaran. Kondisi ini terjadi karena sejumlah daerah sentra produksi telah memasuki masa panen sehingga berpengaruh terhadap ketersediaan dan harga cabai di pasar tradisional.

“Harga naik karena terpengaruh cuaca ekstrem dan belum panen. Tapi, sekarang sudah mulai panen, meski belum secara penuh sehingga penurunan harga belum signifikan,” katanya.

Selain cabai, penurunan harga juga terjadi pada komoditas telur ayam di pasar tradisional Gunungkidul. Sebelumnya telur dijual sekitar Rp29.000 per kilogram, tetapi kini turun menjadi sekitar Rp27.000 per kilogram.

“Kalau minyak goreng merk minyakita di kisaran Rp15.500 per liter,” katanya.

Berbeda dengan cabai dan telur, harga daging ayam potong di Gunungkidul masih tergolong tinggi. Saat ini ayam broiler dijual sekitar Rp40.000 per kilogram di pasaran.

“Dulu harga di Rp35.000 sudah mahal, tapi sekarang lebih tinggi karena memang permintaan di pasaran juga tinggi,” katanya.

Ris Heryani menjelaskan bahwa harga ayam potong broiler tersebut masih berada dalam ketentuan Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp40.000 per kilogram sehingga masih dianggap dalam batas toleransi.

“Jadi walaupun tinggi harganya, masih dalam batas toleransi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Gunungkidul, Kelik Yuniantoro, mengatakan pemantauan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional Gunungkidul terus dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok sekaligus mengantisipasi lonjakan harga.

“Kami pastikan terus dilakukan pengawasan. Apalagi jelang Lebaran biasanya ada kenaikan permintaan yang berdampak terhadap harga kebutuhan pokok yang naik,” katanya.

Ia menambahkan pemerintah daerah juga menyiapkan langkah stabilisasi harga melalui kegiatan operasi pasar.

Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah menggelar operasi pasar dengan komoditas minyak goreng merk minyakita guna membantu menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok di Gunungkidul menjelang Lebaran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|