Newswire Minggu, 16 Agustus 2026 13:07 WIB

Ilustrasi serangan siber./Sputniknews
Harianjogja.com, JAKARTA—Puluhan perusahaan utilitas air di Amerika Serikat (AS) dilaporkan menjadi sasaran serangkaian serangan siber terkoordinasi sejak akhir Juli 2026. Serangan yang diduga berkaitan dengan kelompok peretas asal Iran itu berdampak pada fasilitas air di sejumlah negara bagian.
Dilansir dari TechCrunch, Minggu (16/8/2026), otoritas Minnesota menyebut instalasi pengolahan air di lebih dari 30 komunitas di negara bagian tersebut menjadi target serangan siber terkoordinasi.
Dua hari kemudian, Biro Investigasi Federal (FBI) mengonfirmasi bahwa perusahaan utilitas air dan air limbah di sedikitnya tujuh negara bagian melaporkan insiden serupa. Di sejumlah lokasi, serangan bahkan sampai mengganggu operasional fasilitas.
Selain Minnesota, insiden peretasan dilaporkan terjadi di Arkansas, Georgia, New Jersey, dan Michigan.
Iran Diduga di Balik Serangan Siber
Badan intelijen AS disebut meyakini Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), berada di balik rangkaian serangan terhadap fasilitas air tersebut.
Meski demikian, berdasarkan laporan The Washington Post, Minggu (16/8/2026), atribusi tersebut belum diumumkan secara resmi. Intelijen AS juga masih belum memastikan unit tertentu di dalam IRGC yang bertanggung jawab atas serangan.
Dugaan keterlibatan Iran turut diperkuat laporan Wired yang mengutip memo internal Water Information Sharing and Analysis Center (WaterISAC).
Organisasi nirlaba tersebut menyebut pola serangan memiliki kesamaan dengan peringatan sebelumnya dari Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA) terkait ancaman peretas Iran terhadap sektor air dan energi.
Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya tidak yakin Iran berada di balik serangan tersebut. Trump justru menyalahkan pemerintah negara bagian Minnesota yang dipimpin Gubernur Tim Walz dari Partai Demokrat.
"Saya tidak berpikir ada serangan siber Iran," ujar Trump.
Serangan Ganggu Sistem Air dan Picu Risiko Kontaminasi
Dampak serangan tidak hanya berkaitan dengan sistem komputer. FBI melaporkan sejumlah wilayah mengalami kehilangan tekanan air akibat insiden tersebut.
Kondisi itu berpotensi menyebabkan air tanah yang belum diolah masuk ke dalam jaringan pipa distribusi. Serangan juga dilaporkan memicu banjir di sejumlah lokasi.
Di Kota Braham, Minnesota, instalasi pengolahan air bahkan sempat dinonaktifkan selama beberapa jam. Pemerintah setempat kemudian meminta sekitar 1.700 warga menghemat penggunaan air.
Sementara itu, Kota Maple Plain di negara bagian yang sama sempat menetapkan status darurat setelah terjadi gangguan pada sistem air.
Lebih dari 2.800 Pengontrol Sistem Air Terekspose
Serangan tersebut sekaligus menyoroti kerentanan infrastruktur air AS yang terhubung dengan internet.
Perusahaan keamanan siber Forescout dalam laporan yang diterbitkan awal Agustus 2026 mencatat lebih dari 2.800 pengontrol sistem air di AS terekspos secara daring.
Temuan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan serangan terhadap infrastruktur air.
Selama ini, para pakar keamanan siber menilai kelompok peretas Iran cenderung menyasar target yang relatif mudah ditembus melalui serangan oportunistik dan terisolasi.
Namun, rangkaian serangan terbaru dinilai memperlihatkan perubahan pola yang signifikan. Serangan tidak lagi sebatas menyasar target secara acak satu per satu, melainkan dilakukan terhadap banyak fasilitas dalam waktu berdekatan dan secara terkoordinasi.
Kondisi tersebut membuat serangan terhadap infrastruktur air AS kali ini dipandang sebagai eskalasi dibandingkan pola operasi siber Iran sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































