Era AI atau Era Ketergantungan Baru?

8 hours ago 8

Image Zefanya Angela

Entertainment | 2026-06-26 13:53:07

Belakangan ini, rasanya hampir mustahil melewati satu hari tanpa mendengar pembahasan tentang artificial intelligence atau AI. Kehadiran platform seperti ChatGPT, Google Gemini, sampai Notion AI membuat teknologi ini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mahasiswa menggunakannya untuk membantu mengerjakan tugas, pekerja memanfaatkannya untuk mempercepat pekerjaan, bahkan banyak orang mulai mengandalkan AI untuk aktivitas sederhana seperti mencari ide atau merangkum informasi. AI kini hadir di mana-mana, dan seolah menjadi simbol baru bahwa seseorang mampu mengikuti perkembangan zaman.

Namun, di balik pesatnya perkembangan tersebut, ada satu pertanyaan yang menarik untuk dipikirkan: apakah masyarakat menggunakan AI karena benar-benar membutuhkan teknologi ini, atau justru karena takut tertinggal ketika melihat semua orang mulai menggunakannya?

Fenomena ini menurut saya semakin terlihat jelas, terutama di kalangan anak muda. Saat banyak orang mulai membicarakan AI di media sosial, membuat tutorial penggunaannya, hingga menunjukkan bagaimana teknologi ini bisa membuat pekerjaan lebih cepat selesai, muncul tekanan sosial yang tidak selalu disadari. Orang-orang mulai merasa bahwa jika mereka tidak ikut menggunakan AI, maka mereka akan tertinggal dibanding lingkungan di sekitarnya. Perasaan inilah yang sering disebut sebagai Fear of Missing Out atau FOMO.

Fenomena tersebut sebenarnya dapat dijelaskan melalui teori Diffusion of Innovations yang dikembangkan oleh Everett Rogers. Teori ini menjelaskan bahwa sebuah inovasi akan menyebar melalui masyarakat secara bertahap hingga akhirnya diadopsi oleh mayoritas orang. Dalam proses penyebarannya, orang tidak hanya mempertimbangkan manfaat dari inovasi tersebut, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial di sekitarnya.

Jika melihat kondisi sekarang, AI sedang berada pada fase di mana adopsinya berkembang sangat cepat. Ketika semakin banyak mahasiswa menggunakan AI untuk membuat rangkuman materi atau mencari referensi, mahasiswa lain mulai merasa perlu ikut menggunakan teknologi yang sama. Hal yang sama terjadi di dunia kerja. Ketika perusahaan mulai menuntut efisiensi dan banyak pekerja menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas, orang lain pun merasa harus ikut belajar menggunakan AI agar tidak dianggap tertinggal.

Masalahnya, adopsi teknologi yang terlalu cepat sering kali membuat orang lupa mempertanyakan alasan sebenarnya di balik penggunaan teknologi tersebut. Banyak orang mulai memakai AI bukan karena memahami bagaimana AI dapat membantu kebutuhan mereka, tetapi hanya karena melihat orang lain sudah lebih dulu menggunakannya. Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep Bandwagon Effect, yaitu kecenderungan seseorang mengikuti suatu perilaku karena banyak orang lain melakukan hal yang sama.

Gambar "AI" dari google

Menurut saya, di sinilah persoalan mulai muncul. AI memang menawarkan efisiensi, tetapi ketika penggunaannya didorong oleh rasa takut tertinggal, teknologi ini berpotensi menciptakan ketergantungan baru. Banyak mahasiswa mulai terbiasa meminta AI menyusun jawaban, membuat kerangka tugas, atau merangkum materi tanpa berusaha memahami informasi tersebut secara mandiri. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis perlahan berkurang karena proses berpikir yang seharusnya dilakukan manusia mulai digantikan oleh mesin.

Ironisnya, teknologi yang awalnya diciptakan untuk membantu manusia justru dapat membuat manusia terlalu bergantung. Kita mulai terbiasa mencari jawaban instan dibanding melatih kemampuan analisis sendiri. Efisiensi memang penting, tetapi jika semua proses berpikir diserahkan pada AI, maka ada kemampuan dasar manusia yang perlahan menurun tanpa disadari.

Media sosial memperkuat situasi ini. Konten-konten di TikTok, Instagram, atau LinkedIn terus mempromosikan narasi bahwa AI adalah masa depan dan semua orang harus mulai menggunakannya sekarang juga. Pesan-pesan semacam ini membentuk persepsi kolektif bahwa menggunakan AI adalah standar baru dalam belajar maupun bekerja. Akibatnya, keputusan menggunakan teknologi tidak lagi sepenuhnya lahir dari kebutuhan pribadi, melainkan karena tekanan sosial digital.

Saya tidak melihat AI sebagai ancaman. Justru AI adalah inovasi luar biasa yang dapat membawa perubahan positif dalam berbagai bidang. Namun, yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik cara kita menggunakannya. Jika AI digunakan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas kerja dan pembelajaran, tentu hal itu positif. Tetapi jika AI hanya digunakan karena rasa takut tertinggal dari orang lain, maka kita sedang menunjukkan bahwa perkembangan teknologi kini tidak hanya dipengaruhi kebutuhan, tetapi juga tekanan sosial yang dibentuk oleh lingkungan digital.

Pada akhirnya, mungkin persoalan terbesar bukan tentang seberapa canggih AI berkembang, tetapi tentang bagaimana manusia merespons perkembangan tersebut. Di tengah dunia yang semakin cepat berubah, penting untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita menggunakan AI karena benar-benar membutuhkannya, atau hanya karena semua orang sedang melakukannya?

Karena bisa jadi, yang sedang berkembang pesat hari ini bukan hanya teknologi AI, tetapi juga kebiasaan manusia untuk ikut arus tanpa sem

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|