Jakarta, CNBC Indonesia - Rangkuman wawancara dengan seorang wanita yang membuat klaim tentang pelecehan seksual yang dilakukan Donald Trump telah dirilis ke publik. Dokumen yang dirilis FBI ini menjadi bagian dari kumpulan berkas Epstein milik Departemen Kehakiman AS (DOJ).
Pengungkapan ini mencuat setelah adanya laporan bahwa dokumen-dokumen tersebut hilang dari basis data Departemen Kehakiman, sehingga mendorong Partai Demokrat untuk menuduh para pejabat melakukan upaya menutup-nutupi.
Melansir BBC, Minggu (8/3/2026), Departemen Kehakiman (DOJ) mengatakan bahwa mereka secara keliru menahan berkas-berkas tersebut selama proses peninjauan lantaran berkas-berkas itu salah dikategorikan sebagai duplikat.
Beberapa memo tersebut menjelaskan serangkaian wawancara pada tahun 2019 dengan wanita tersebut, yang membuat klaim tanpa bukti terhadap Donald Trump dan Jeffrey Epstein. Presiden Trump secara konsisten membantah melakukan kesalahan terkait dengan mendiang pelaku kejahatan seksual tersebut.
Merujuk salah satu dari tiga memo tersebut, wanita yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan kepada agen FBI selama wawancara bahwa ia dikenalkan kepada Trump oleh Epstein pada tahun 1980-an ketika ia masih remaja. Wanita itu menuduh kedua pria tersebut melakukan pelecehan seksual terhadapnya ketika ia berusia antara 13 tahun dan 15 tahun.
Menurut berkas tersebut, agen FBI tidak melakukan kontak lebih lanjut dengan wanita tersebut setelah wawancara. Belum jelas apakah Trump dan Epstein saling mengenal selama periode waktu yang dituduhkan wanita tersebut sebagai waktu kejadian insiden tersebut.
Melalui sebuah pernyataan yang menanggapi tuduhan yang baru dipublikasikan, Gedung Putih mengatakan bahwa tuduhan tersebut sama sekali tidak berdasar dan tidak didukung oleh bukti yang kredibel.
"Seperti yang telah kami katakan berkali-kali, Presiden Trump telah sepenuhnya dibebaskan dari tuduhan dengan dirilisnya File Epstein," ujar Sekretaris Pers, Karoline Leavitt.
Dia menambahkan Departemen Kehakiman di bawah pemerintahan Joe Biden sebelumnya tidak mengajukan tuntutan terhadap Trump berdasarkan tuduhan tersebut. Mengingat, mereka tahu Presiden Trump sama sekali tidak melakukan kesalahan.
Asal tahu saja, nama Trump disebutkan ribuan kali dalam berkas yang dirilis oleh departemen kehakiman, termasuk dalam email dan surat-menyurat yang dikirim oleh Jeffrey Epstein sendiri kepada orang lain.
Trump belum dituduh melakukan kejahatan apapun oleh para korban Epstein yang telah muncul sejauh ini.
Selain ringkasan wawancara saksi FBI, termasuk wawancara dengan wanita yang tidak disebutkan namanya pada tahun 2019, kumpulan lengkap berkas Epstein juga berisi daftar tuduhan yang diajukan terhadap Trump oleh penelepon ke saluran informasi Pusat Operasi Ancaman nasional FBI.
Daftar tersebut mencakup banyak tuduhan pelecehan seksual yang ditujukan kepada Trump, Epstein, dan tokoh-tokoh terkenal lainnya. Banyak dari tuduhan ini tampaknya didasarkan pada informasi yang tidak terverifikasi dan seringkali tidak disertai bukti pendukung yang kuat.
Setelah berkas Epstein dirilis pada Januari lalu, Departemen Kehakiman mengatakan bahwa beberapa dokumen berisi klaim yang tidak benar dan sensasional terhadap Presiden Trump telah diserahkan ke FBI tepat sebelum pemilihan 2020.
"Agar jelas, klaim-klaim tersebut tidak berdasar dan salah, dan jika memiliki sedikit pun kredibilitas, tentu sudah akan digunakan sebagai senjata melawan Presiden Trump."
Tiga memo yang baru diterbitkan ini menyusul laporan di media AS bahwa memo-memo tersebut telah ditahan secara keliru dalam rilis awal berkas Epstein.
NPR pertama kali melaporkan bahwa indeks dan nomor seri dalam berkas tersebut menunjukkan bahwa FBI telah melakukan empat wawancara dengan wanita itu pada tahun 2019. Hal ini sebagai bagian dari penyelidikannya terhadap kaki tangan Epstein, Ghislaine Maxwell, yang dipenjara pada tahun 2022 karena perdagangan seks.
Meski begitu, menurut laporan NPR dan media lain termasuk New York Times, tiga ringkasan wawancara dan catatan terkait, yang berjumlah lebih dari 50 halaman, ternyata tidak tersedia di situs web departemen kehakiman.
Jika ditelusuri, Epstein tampaknya berteman dengan Trump selama beberapa tahun. Mereka kemudian berselisih pada awal tahun 2000-an, menurut Trump, dua tahun sebelum Epstein pertama kali ditangkap.
Awal pekan lalu, sebuah komite DPR memberikan suara untuk memanggil Jaksa Agung Pam Bondi guna menjawab pertanyaan tentang penanganan berkas Epstein oleh departemen kehakiman.
Anggota Partai Republik di komite Pengawasan DPR pun bergabung dengan Partai Demokrat untuk memberikan suara agar dia dipanggil sebagai saksi.
Pada November 2026 lalu, Kongres mengesahkan Undang-Undang yang mewajibkan departemen tersebut untuk merilis semua materi dari penyelidikannya terhadap Epstein. Lantas, jutaan dokumen telah dirilis sejak saat itu.
(luc/luc)
Addsource on Google


















































