Sejumlah tokoh menghadiri diskusi lintas geneerasi merespons krisis multidimensi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Gelombang kegelisahan terhadap arah masa depan bangsa terus bergulir melalui rangkaian diskusi lintas generasi.
Setelah sebelumnya digelar bersama mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof M Baiquni, diskusi terbaru yang berlangsung pada Selasa (17/3/2026) malam di Jakarta Selatan semakin mempertegas kebutuhan mendesak akan kembalinya "Kepemimpinan Intrinsik" sebagai jangkar perbaikan nasional.
Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, menekankan bahwa krisis multidimensi yang terjadi saat ini berakar pada memudarnya standar moral pemimpin yang kini lebih mengandalkan otoritas formal daripada integritas.
"Dalam masa depan yang sulit, kita butuh pilar kepemimpinan intrinsik. Pemimpin harus memiliki dasar track record dan integritas yang kokoh, bukan sekadar menggunakan otoritas yang diberikan kepadanya dengan cara yang tidak bijaksana," ujar Sudirman.
Dia menyoroti bagaimana sumber kepemimpinan berkualitas kian menurun, berganti dengan penggunaan kekuasaan yang cenderung tidak partisipatif.
Krisis kepemimpinan ini berdampak langsung pada manajemen prioritas negara, terutama di sektor pertahanan. Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto memberikan catatan tajam mengenai kebijakan alutsista yang dinilai tidak berpihak pada kesejahteraan manusia.
"Negara punya kewajiban bukan sekadar menjaga kedaulatan, tapi juga menyejahterakan rakyatnya. Kita cukup membuat alat yang kita punya mumpuni, daripada membeli banyak tapi dalam beberapa tahun sudah out of date," tegas mantan Panglima TNI tersebut.
Dia juga mempertanyakan penambahan struktur dan pangkat di tengah anggaran stagnan yang justru menggerus hak prajurit di tingkat bawah.

3 hours ago
1

















































