Di Ambang Hormuz: Ketika Para Pemimpin Dunia Membaca Peta Perang yang Sama

2 hours ago 1

Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra

REPUBLIKA.CO.ID, Ada satu pelajaran lama dalam sejarah geopolitik: dunia jarang benar-benar tenang di sekitar jalur energi. Dari Terusan Suez hingga Selat Malaka, dari Laut Hitam hingga Teluk Persia, peradaban modern selalu berdiri di atas arteri sempit tempat minyak, gas, dan perdagangan dunia mengalir.

Hari ini, arteri itu kembali berdenyut tegang di Selat Hormuz. Sekitar seperlima minyak dunia melewati selat sempit ini. Jika ia tersumbat, bahkan hanya beberapa minggu, ekonomi global akan merasakan demamnya. Harga energi melonjak, inflasi menekan dapur rumah tangga, dan stabilitas politik di banyak negara bisa ikut terguncang.

Karena itu, ketika konflik Iran–Israel memanas dan bayang-bayang konfrontasi Amerika muncul di Teluk, para pemimpin dunia tidak sedang menonton dari jauh. Mereka semua membaca peta yang sama—tetapi dengan kepentingan yang berbeda.

Washington: Menjaga Arsitektur Dunia Lama

Di Washington, Donald Trump melihat krisis Teluk dalam bingkai yang sudah lama membentuk geopolitik Amerika: laut harus tetap terbuka bagi perdagangan dunia.

Amerika memandang stabilitas Selat Hormuz bukan sekadar kepentingan regional, tetapi bagian dari arsitektur global yang dibangun sejak Perang Dunia II. Jalur energi harus aman, dan tidak boleh berada di bawah ancaman satu kekuatan regional. Karena itu Washington mendukung operasi militer Israel terhadap Iran, sekaligus menekan sekutu-sekutunya agar ikut menjaga jalur pelayaran Teluk.

Namun di balik ketegasan itu, Amerika juga menyadari satu kenyataan pahit sejarah: Iran bukan Irak, dan bukan Afghanistan. Invasi darat ke negeri itu hampir pasti menjadi perang panjang yang mahal.Maka strategi Washington kemungkinan akan tetap berada pada tekanan militer terbatas—serangan udara, operasi intelijen, dan tekanan ekonomi—dengan harapan Tehran kembali ke meja perundingan.

Beijing: Stabilitas Energi di Atas Segalanya

Di sisi lain dunia, Xi Jinping membaca krisis Teluk dari sudut yang jauh lebih pragmatis. China adalah importir minyak terbesar di dunia. Sebagian besar minyak itu datang dari Timur Tengah dan melewati Hormuz.

Jika selat itu terganggu, yang pertama merasakan dampaknya bukan Washington atau Brussel, tetapi pabrik-pabrik di Shanghai, Shenzhen, dan Guangzhou.

Karena itu Beijing mengambil posisi klasik diplomasi China: menyerukan de-eskalasi, menolak terlibat dalam operasi militer, dan membuka diri sebagai mediator. Bagi China, stabilitas lebih penting daripada kemenangan siapa pun dalam konflik ini.

Moskow: Krisis Sebagai Ruang Manuver

Di Moskow, Vladimir Putin melihat situasi dengan kalkulasi berbeda. Rusia tidak ingin Iran runtuh. Tetapi Rusia juga tidak tergesa-gesa mengakhiri konflik.

Dalam logika geopolitik Kremlin, setiap krisis yang menyibukkan Amerika di Timur Tengah berarti dua keuntungan: fokus Washington terhadap Eropa berkurang, dan harga energi dunia cenderung naik.

Krisis Teluk, dalam perspektif Rusia, bukan sekadar ancaman. Ia juga ruang manuver.

Riyadh: Dilema Lama Dunia Arab

Di Teluk sendiri, Salman bin Abdulaziz Al Saud menghadapi dilema klasik. Iran adalah rival strategis Arab Saudi selama puluhan tahun. Namun perang besar dengan Iran juga berisiko menghancurkan stabilitas kawasan yang menjadi jantung ekonomi Teluk.

Riyadh karena itu mengambil posisi yang sangat berhati-hati: mendukung tekanan terhadap Iran, tetapi tidak ingin wilayahnya berubah menjadi pangkalan perang terbuka.

Diplomasi Saudi hari ini berjalan seperti meniti tali di atas jurang geopolitik.

Tehran: Memperluas Medan Konflik

Di Tehran, Masoud Pezeshkian menghadapi tekanan yang menyentuh inti eksistensi negara. Sejak Revolusi 1979, strategi Iran selalu memiliki satu prinsip sederhana: jika diserang, perluas medan konflik.

Iran tidak selalu berusaha memenangkan perang secara cepat. Sebaliknya, ia berusaha membuat perang menjadi mahal bagi lawannya.

Misil balistik, drone, dan jaringan milisi regional adalah bagian dari strategi itu—sebuah bentuk eskalasi asimetris yang dirancang untuk menekan lawan tanpa harus berhadapan langsung dalam perang konvensional besar.

Tel Aviv: Ancaman yang Tidak Boleh Dibiarkan

Bagi Benjamin Netanyahu, konflik dengan Iran adalah bagian dari pertarungan yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Israel melihat Iran sebagai ancaman strategis terbesar bagi masa depan negara itu. Karena itu operasi militer Israel terhadap target-target Iran bukan sekadar respons terhadap situasi terbaru. Ia adalah bagian dari strategi jangka panjang: melemahkan kemampuan Iran memproyeksikan kekuatan di kawasan.

Dalam pandangan Tel Aviv, menunda konfrontasi hanya akan membuat ancaman menjadi lebih besar di masa depan.

Peta Dunia yang Terbagi

Jika semua posisi ini disederhanakan, dunia saat ini terbagi dalam tiga lingkar kepentingan. Lingkar ofensif: Amerika Serikat dan Israel; Lingkar perlawanan: Iran dan jaringan militannya; Lingkar penyeimbang: China, Rusia, serta sebagian negara Teluk dan Eropa.

Di antara ketiga lingkar ini berdiri satu titik yang sama-sama mereka awasi: Selat Hormuz. Ia bukan sekadar jalur pelayaran. Ia adalah katup raksasa ekonomi global.

Apa yang Kemungkinan Terjadi?

Jika membaca pola sejarah konflik Timur Tengah, masa depan krisis ini kemungkinan bergerak dalam tiga arah. Pertama, perang besar kemungkinan tidak akan berubah menjadi invasi darat terhadap Iran. Negara itu terlalu besar dan terlalu kompleks untuk ditaklukkan dengan cepat.

Kedua, konflik kemungkinan meluas secara regional—ke Lebanon, Suriah, Irak, bahkan Laut Merah—namun tetap berada dalam batas yang berusaha dikendalikan oleh kekuatan besar.

Ketiga, kejutan terbesar justru bisa datang dari ekonomi. Jika Selat Hormuz benar-benar terganggu, harga energi global dapat melonjak tajam dan memicu tekanan sosial di berbagai negara. Sejarah menunjukkan bahwa krisis energi sering menjadi pemicu perubahan politik domestik yang tidak terduga.

Dunia yang Menunggu

Pada akhirnya, sejarah jarang bergerak melalui satu keputusan besar. Ia sering tumbuh dari rangkaian langkah kecil yang saling mempercepat.

Hari ini dunia mungkin sedang berdiri di salah satu titik itu. Di Washington, Beijing, Moskow, Riyadh, Tehran, dan Tel Aviv, para pemimpin dunia membaca peta yang sama—tetapi membayangkan masa depan yang berbeda.

Dan di antara semua kalkulasi itu, Selat Hormuz tetap berdiri seperti sebuah pintu sempit tempat denyut energi dunia mengalir.

Jika pintu itu tertutup, bahkan sebentar saja, dunia akan kembali diingatkan betapa rapuhnya peradaban modern yang berdiri di atas minyak, perdagangan, dan keseimbangan kekuasaan.

Sejarah selalu punya cara sederhana untuk mengingatkan manusia: siapa yang menguasai jalur energi, dialah yang memegang denyut dunia.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|